Search

mooibandoeng

Senantiasa Belajar Kenal dan Cinta Kota Bandung

Month

November 2013

Balandongan

Berikut ini cerita singkat tentang balandongan yang pernah menjadi bagian sejarah kota Bandung.
Cerita awalnya pernah saya twitkan melalui akun @mooibandoeng pada tanggal 21 September 2013.

Babakan Surabaya-b

Ini cerita dari zaman pembukaan sebuah kawasan di Bandung yang bernama Kampung Jawa dan Babakan Surabaya. Letaknya di sebelah timur kota Bandung, cukup jauh dari stasiun kereta api Bandung.

Kedua kampung ini dihuni oleh para pendatang dari Jawa Timur, terutama Surabaya dan Ngawi. Mereka ini para pekerja di pabrik senjata dan mesiu yang baru dibangun di Kiaracondong (1895). Ketika itu, pabrik-pabrik senjata dan sejumlah instansi militer memang dipindahkan dari beberapa daerah untuk dipusatkan di Bandung. Continue reading “Balandongan”

Catatan Ngaleut Kawasan Trunojoyo – Bagian 2

Catatan Ngaleut Kawasan Trunojoyo – Bagian 2:
Nama-nama Jalan

Mencatat Sudut Kota 031113b
Poster oleh @pamanridwan.

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian pertama CATATAN NGALEUT KAWASAN TRUNOJOYO. Bagian pertama adalah rangkaian perjalanan serta catatan sejarah ringkas dan situasi yang terlihat, sedangkan pada bagian ini saya ingin memberikan penjelasan tentang nama-nama yang hadir di kawasan ini.

Tetapi sebelum melanjutkan, saya ingin menyampaikan isi pikiran yang selama ini sering mengganggu, sebetulnya bagaimana memilih dan menentukan nama-nama tokoh yang dipergunakan sebagai nama jalan di kawasan ini? Atau pertanyaan semacam kenapa nama jalan Sultan Agung atau Diponegoro misalnya, ditempatkan di ruas jalan utama dibandingkan dengan nama-nama seperti Geusan Ulun, Pangeran Kornel, atau Wiraangunangun ? Bahkan nama bupati seperti Martanagara yang punya banyak jasa bagi kota ini kenapa malah disematkan pada jalan kecil yang jauh di sebelah selatan kota?

Kawasan Trunojoyo-b

Baiklah, saya langsung ke nama pertama di kawasan ini, yaitu Jl. Sultan Agung d/h Heetjansweg. Ruas jalan Sultan Agung tidak terlalu panjang, namun lebih lebar dibanding jalan-jalan lain di kawasan Trunojoyo. Letaknya juga strategis karena menjadi salah satu ruas jalan utama yang menghubungkan Dago dengan kompleks vila di kawasan ini, Continue reading “Catatan Ngaleut Kawasan Trunojoyo – Bagian 2”

Catatan Ngaleut Kawasan Trunojoyo – Bagian 1

Mencatat Sudut Kota 031113b

Poster oleh @pamanridwan.

Berikut ini adalah catatan santai kegiatan @KomunitasAleut hari ini, Minggu, 3 November 2013. Jelajah kawasan yang dipilih adalah seputaran Jl. Trunojoyo, seperti terlihat dalam peta, dengan batas-batas luar (warna kuning) Jl. Dago (barat), Jl. Trunojoyo-Bahureksa (selatan), Jl. Banda-Cimandiri (timur), dan Jl. Maulana Yusuf-Diponegoro (utara).

Kegiatan ngaleut berlangsung dari jam 8 pagi dan selesai sekitar jam 1 siang atau kalau menurut sistem pembagian waktu budaya Sunda, berlangsung sejak Wanci Ngaluluh Taneuh hingga Wanci Lingsir. Hari yang cerah, namun dengan temperatur yang lebih panas dari biasanya. Jumlah peserta ngaleut hari ini 24 orang, termasuk 8 orang anggota/kawan baru.

Trunojoyo-02

Cuplikan peta dari Google Earth.

Sebagai titik awal perjalanan dipilih tempat berkumpul di depan patung PDAM (depan gedung Driekleur/BTPN) di pertigaan Jl. Dago-Jl. Sultan Agung. Seluruh peserta dibagi ke dalam dua kelompok perjalanan dengan masing-masing rute:

  1. Sultan Agung – Bahureksa – Tirtayasa – Kawasan Gempol – Cilamaya – Banda – Tirtayasa – Wiraangunangun. Kelompok ini dipimpin oleh Vecco dan Mentari.
  2. Sultan Agung –Geusanulun – Maulana Yusuf – Pangeran Kornel – Adipati Kertabumi – Aria Jipang – Diponegoro – Gempol – Wiraangunangun. Kelompok ini dipimpin oleh Hani dan Atria.

Hingga akhir abad ke-19, pola permukiman di Bandung memisahkan kawasan hunian secara sosial dan morfologis. Kawasan hunian orang Eropa (Europeesche zakenwijk) berada di sebelah utara rel kereta api dan kawasan bagi kaum pribumi berada di sebelah selatan. Kelompok sosial lainnya, yang terdiri dari bangsa-bangsa timur seperti Arab, India dan terutama Tionghoa berada di sebelah barat (Pecinan). Pembangunan sarana kota pada masa ini lebih terpusat di sekitar Alun-alun dan di kawasan sepanjang jalur rel kereta api.

Wacana, dan akhirnya, rencana pemindahan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandoeng yang berlangsung di awal abad ke-20 mengundang pembangunan kota secara besar-besaran. Berbagai sektor industri dibuka dan dipusatkan di Bandung. Kawasan hunian modern dibangun, terutama di kawasan sebelah utara kota. Rumah-villa dan kompleks-kompleks perumahan pegawai kantor-kantor pemerintahan pun didirikan di sejumlah lokasi.

Tentang perancangan dan pembangunan kota Bandung pada masa itu bisa dibaca di sini

https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/06/05/bandoeng-1918-bagian-1/ dan

https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/06/05/bandoeng-1918-bagian-2/

Promosi kenyamanan tinggal di kota Bandung dilakukan di mana-mana. Komunitas semacam Vereeniging tot nut van Bandoeng en Omstreken yang terdiri dari tokoh-tokoh Eropa dan kalangan pejabat pribumi Bandung turut membantu pengembangan Bandung menjadi kota modern. Kegiatan komunitas ini kemudian dilanjutkan oleh banyak kelompok lain, terutama Bandoeng Vooruit yang banyak membantu dalam mengembangkan fasilitas dan promosi dalam kepariwisataan Bandung. Pembangunan sarana perkotaan di Bandung saat itu berlangsung dengan sangat cepat. Continue reading “Catatan Ngaleut Kawasan Trunojoyo – Bagian 1”

Boenga Roos dari Tjikembang

Boenga_Roos_dari_Tjikembang_cover

Papan nama itu selalu saja mengusikku, “Cikembang”.

Entah sudah berapa sering melewati lintasan jalan dengan petunjuk arah menuju Cikembang.
Tapi tentu saja plang nama seperti itu saya temukan hanya bila sedang berada di kawasan Pangalengan saja, dan pastinya berhubungan dengan perkebunan. Cikembang memang kawasan lama perkebunan kina di kaki sebelah barat Gunung Kendang.

Tapi bukan itu yang mengusikku.
Cikembang sudah cukup lama terpatri di kepalaku justru karena sebuah bacaan lama dengan judul Boenga Roos dari Tjikembang.

Saya tidak ingat persis kapan dan di mana saya tau tentang Boenga Roos dari Tjikembang, mungkin cuplikan sebuah disertasi tentang sastra Tionghoa (Sapardi Djoko Damono?) atau mungkin dari buku kajian tentang sastra Melayu-Tionghoa (Claude Salmon?), entahlah. Benar-benar lupa.

Tapi kemudian saya memang membaca cerita Boenga Roos dari Tjikembang dalam ejaan baru yang termuat dalam buku jilid kedua Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (KPG, 2001). Cerita itu ditulis Kwee Tek Hoay dan terbit tahun 1927. Waktu itu saya penasaran betul, di mana Cikembang yang disebutkan dalam judul cerita itu.

Kemudian saya tahu, Cikembang dalam cerita Bunga Roos ternyata merupakan perkebunan karet yang terletak di perbukitan antara Gunung Salak dan Gunung Gede. Wilayahnya termasuk bagian Sukabumi. Berarti tidak ada hubungan dengan kebun kina di kaki Gunung Kendang ini.

Tapi selama menyukai kegiatan jalan-jalan, Sukabumi termasuk wilayah yang kurang sering saya jelajahi. Belum pernah rasanya tinggal cukup lama di Sukabumi agar punya waktu mengelilingi alam dan wilayah perkebunannya yang luas itu. Berbagai tempat di sana-sini tentu sudah pernah saya datangi, tapi masih belum membuat saya merasa cukup kenal Sukabumi. Suatu waktu nanti saya akan luangkan waktu tersendiri untuk Sukabumi.

Kapan mau luangkan waktu satu-dua minggu ke Sukabumi? Masih belum terjawab.
Sementara itu, plang penunjuk arah “Cikembang” saat ini berada di depan mata.
Baiklah, mari lihat ada apa di sana.

Jalanan aspal yang kurang bagus meliuk-liuk seperti menjauhi kompleks Gunung Windu-Wayang-Bedil yang terlihat utuh. Lalu sebuah lapangan. Jalan makadam. Akhirnya perbukitan dengan puing-puing bangunan tua bekas pabrik. Continue reading “Boenga Roos dari Tjikembang”

Cisanti

Situ Cisanti

Sabtu, 26/10/13 siang, rasanya danau kecil ini seperti milik sendiri.

Sungguh sepi.
Hanya sekelompok anak muda sibuk berpose dan foto-foto di atas dermaga kayu.

Sekelompok lainnya berkerumun di tepi danau dekat warung, sepertinya mereka berasal dari suatu organisasi entah apa yang menginap di pondokan milik Perhutani di dekat gerbang masuk ke danau. Waktu masuk tadi, terlihat dua pondok itu penuh perlengkapan seperti ransel dan banyak orang di dalamnya.

Satu-dua pasangan pacaran duduk-duduk mengambil spot yang paling nyaman buat mereka. Sisanya adalah para pemancing ikan yang tersebar di sekeliling danau, dan dua penjual batagor dengan perangkat pikulan di dekat pintu air.

Saat masuk memarkirkan motor, tidak ada petugas loket yang berjaga. Di parkiran, dengan sigap seorang pemuda menghampiri dan menunggui di sebelah. Setelah beres, mengunci motor, saya dengar katanya, “tujuh ribu.” Itu saja komunikasi di gerbang masuk Danau Cisanti, Desa Tarumajaya, Kecamatan Cisanti, Kabupaten Bandung.

Menuruni tangga semen ke arah danau, sempat melihat kesibukan di dua pondok yang terlewati. Sepertinya sedang ada yang bikin kegiatan kelompok di sini. Di halaman pondok, ada beberapa kerumunan mengobrol sambil minum teh atau kopi, yang turun ke area danau hanya beberapa orang saja. Continue reading “Cisanti”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑