Mencatat Sudut Kota 031113b

Poster oleh @pamanridwan.

Berikut ini adalah catatan santai kegiatan @KomunitasAleut hari ini, Minggu, 3 November 2013. Jelajah kawasan yang dipilih adalah seputaran Jl. Trunojoyo, seperti terlihat dalam peta, dengan batas-batas luar (warna kuning) Jl. Dago (barat), Jl. Trunojoyo-Bahureksa (selatan), Jl. Banda-Cimandiri (timur), dan Jl. Maulana Yusuf-Diponegoro (utara).

Kegiatan ngaleut berlangsung dari jam 8 pagi dan selesai sekitar jam 1 siang atau kalau menurut sistem pembagian waktu budaya Sunda, berlangsung sejak Wanci Ngaluluh Taneuh hingga Wanci Lingsir. Hari yang cerah, namun dengan temperatur yang lebih panas dari biasanya. Jumlah peserta ngaleut hari ini 24 orang, termasuk 8 orang anggota/kawan baru.

Trunojoyo-02

Cuplikan peta dari Google Earth.

Sebagai titik awal perjalanan dipilih tempat berkumpul di depan patung PDAM (depan gedung Driekleur/BTPN) di pertigaan Jl. Dago-Jl. Sultan Agung. Seluruh peserta dibagi ke dalam dua kelompok perjalanan dengan masing-masing rute:

  1. Sultan Agung – Bahureksa – Tirtayasa – Kawasan Gempol – Cilamaya – Banda – Tirtayasa – Wiraangunangun. Kelompok ini dipimpin oleh Vecco dan Mentari.
  2. Sultan Agung –Geusanulun – Maulana Yusuf – Pangeran Kornel – Adipati Kertabumi – Aria Jipang – Diponegoro – Gempol – Wiraangunangun. Kelompok ini dipimpin oleh Hani dan Atria.

Hingga akhir abad ke-19, pola permukiman di Bandung memisahkan kawasan hunian secara sosial dan morfologis. Kawasan hunian orang Eropa (Europeesche zakenwijk) berada di sebelah utara rel kereta api dan kawasan bagi kaum pribumi berada di sebelah selatan. Kelompok sosial lainnya, yang terdiri dari bangsa-bangsa timur seperti Arab, India dan terutama Tionghoa berada di sebelah barat (Pecinan). Pembangunan sarana kota pada masa ini lebih terpusat di sekitar Alun-alun dan di kawasan sepanjang jalur rel kereta api.

Wacana, dan akhirnya, rencana pemindahan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandoeng yang berlangsung di awal abad ke-20 mengundang pembangunan kota secara besar-besaran. Berbagai sektor industri dibuka dan dipusatkan di Bandung. Kawasan hunian modern dibangun, terutama di kawasan sebelah utara kota. Rumah-villa dan kompleks-kompleks perumahan pegawai kantor-kantor pemerintahan pun didirikan di sejumlah lokasi.

Tentang perancangan dan pembangunan kota Bandung pada masa itu bisa dibaca di sini

https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/06/05/bandoeng-1918-bagian-1/ dan

https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/06/05/bandoeng-1918-bagian-2/

Promosi kenyamanan tinggal di kota Bandung dilakukan di mana-mana. Komunitas semacam Vereeniging tot nut van Bandoeng en Omstreken yang terdiri dari tokoh-tokoh Eropa dan kalangan pejabat pribumi Bandung turut membantu pengembangan Bandung menjadi kota modern. Kegiatan komunitas ini kemudian dilanjutkan oleh banyak kelompok lain, terutama Bandoeng Vooruit yang banyak membantu dalam mengembangkan fasilitas dan promosi dalam kepariwisataan Bandung. Pembangunan sarana perkotaan di Bandung saat itu berlangsung dengan sangat cepat.

Salah satu kawasan modern yang dibangun saat itu menjadi tujuan ngaleut kami hari ini, yaitu suatu kompleks besar rumah-villa di sebelah timur ruas jalan Dagoweg (Jl. Dago) bagian bawah. Secara kasar, kawasan besar ini dibelah oleh ruas Jl. Trunojo yang membujur utara-selatan (lihat peta). Pembangunan sarana jalan dan permukiman umumnya sama dengan kawasan lain di sekitar Dago, dimulai sekitar tahun 1920. Setelah hampir seratus tahun berlalu, apa yang masih dapat kita saksikan di kawasan ini?

Trunojoyo-03

Kawasan seputar Gedung Sate hingga ke utaranya masih kosong melompong pada tahun 1925. Di sebelah barat sudah terlihat kawasan hunian Gempol yang termasuk dalam tujuan ngaleut hari ini. (Foto: Tropen Museum).

 Trunojoyo-04

Sisi lain kawasan Dago pada tahun 1925. Foto ini memperlihatkan pemandangan sekitar kampus ITB sekarang. (Foto: Tropen Museum).

Sebelum 1920, kawasan kosong melompong di sayap barat ruas Jl. Dago sebelah bawah disebut daerah Sadang Kaler, sedangkan di sebelah timurnya, yang menjadi kawasan ngaleut hari ini, disebut Sadang Kidul. Di Sadang Kaler sejak sebelum 1910 sudah terdapat sebuah hotel bernama Sadangsari yang jejaknya masih dapat kita lihat sampai sekarang. Terdapat beberapa kampung kecil di dekat Hotel Sadangsari, sedangkan di kawasan Trunojoyo perkampungan (dan kuburan pribumi) tersebar mulai dari Jl. Riau di selatan sampai Tirtayasa dan Gempol di utara.

Pada tahun 1926 seluruh perkampungan dan kuburan itu sudah dibongkar untuk mendirikan kompleks permukiman baru yang modern. Ruas-ruas jalan baru dibuat dan rumah-villa dibangun mengisi lahan-lahan yang ada. Titik pusat kompleks baru ini berada pada simpang lima antara Jl. Sultan Agung – Tirtayasa – Maulana Yusuf – Trunojoyo. Di titik ini dibangun empat buah bangunan kembar yang mengisi setiap sudut persimpangan. Saat ini bangunan kembar tersebut sudah mengalami banyak perubahan.

Trunojoyo-05

Ruas-ruas jalan baru dalam peta tahun 1946. (AFNEI, 1946)

Trunojoyo-06

Salah satu dari bangunan kembar 4. Foto: @A13Xtriple.

Sebuah bangunan unik karya arsitek terkenal A.F. Aalbers pada tahun 1938 masih berdiri utuh di pertemuan Jl. Sultan Agung dengan Jl. Dago. Saat ini gedung tersebut sedang mengalami perbaikan walaupun sebenarnya beberapa waktu sebelumnya gedung berjuluk Drie Kleur ini sudah tampil cantik setelah dipakai oleh sebuah bank.

Trunojoyo-07

Gedung Drie Kleur. Pada masa Jepang dipakai untuk kantor berita Domei. (Foto: Tropen Museum).

Di bagian selatan Jl. Sultan Agung masih banyak terdapat rumah lama yang sebagian telah mengalami modifikasi dan perubahan fungsi seperti menjadi toko atau restoran. Pada umumnya kesan ketuaan bangunan-bangunan ini masih cukup menonjol. Sebagian rumah malah masih utuh dalam bentuk lamanya.

Hanya beberapa puluh meter berjalan, kami sudah berhadapan dengan sebuah bangunan sekolah lama yang dulu bernama MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) St. Aloysius. Gedung utamanya merupakan karya arsitek ir. J. Sippel dan dibangun tahun 1928-1930. Pada masa Jepang, sebagian gedung ini dipakai sebagai markas polisi militer atau Kenpeitai, sebagian lagi dipergunakan untuk penjara dan kamp interniran (tawanan) bagi orang Eropa. Setelah masa kemerdekaan, fungsi gedung dilanjutkan sebagai sekolah tingkat menengah (SMP dan SMA) Santo Aloysius. Di bagian dalam gedung terdapat patung Santo Aloysius berukuran besar.

Trunojoyo-08

Patung Santo Aloysius. Foto @kenasdayne

Masih di ruas Jl. Sultan Agung, ada satu jalan melengkung yang cukup sepi karena relatif jarang dilintasi umum, namanya Jl. Geusan Ulun. Jalan ini mungkin lebih populer di tahun 1980-an karena satu radio swasta yang paling ngetop saat itu bermarkas di sini. Jalanannya bersih dan di kedua sisinya terdapat pohon-pohon besar dan rindang.

Rumah-rumah tua dari masa awal pembangunan kawasan ini masih tampil bagus dan tampak nyaman. Beberapa rumah sudah mengalami perubahan bentuk atau penambahan di sana-sini, tapi secara keseluruhan masih sangat terpelihara. Beberapa rumah memiliki relief nama perempuan pada dinding depannya. Saat kami lewat, ada satu blok bangunan yang sedang mengalami perbaikan total. Pada kedua ujung jalan pendek ini dibangun pos satpam, tidak jelas apakah itu berdasarkan kesepakatan warga penghuninya atau karena alasan lain?

Trunojoyo-09

Pemandangan Jl. Geusan Ulun. Foto @pamanridwan

Keluar dari Jl. Geusan Ulun, memasuki persimpangan Truonojoyo-Tirtayasa, banyak terdapat toko pakaian atau FO dan kafe-restoran. Sebagian besar belum pernah saya datangi. Hanya beberapa restoran di sebelah utara Trunojoyo saja yang pernah saya singgahi. Lalu di pojokan ada toko buah besar yang entah kenapa juga belum pernah ingin saya masuki. Konon harga buah-buahan di situ tergolong mahal dan umumnya merupakan impor.

Ruas jalan ke arah utara itu sekarang bernama Jl. Maulana Yusuf, mengambil nama Sultan Banten yang menaklukkan Pajajaran. Dulu jalan itu bernama Zeelandiastraat dan termasuk wilayah Krobokan, yang sekarang sudah tidak dikenali lagi. Sebetulnya unik juga nama krobokan di sini karena sepertinya bukan dari bahasa Sunda. Di daerah Jawa atau Bali, nama krobokan lebih sering ditemukan. Pada satu kamus Sunda terdapat lema korobok yang bermakna mengambil sebelum waktunya, tapi entah bagaimana menghubungkan makna itu dengan kawasan ini, itu pun kalau krobokan dan korobok memang memiliki hubungan kata.

Sebuah sekolah bernama van der Cappelen Schoole pernah berdiri di bekas kawasan Krobokan itu. Bangunan sekolah yang sangat cantik dalam gaya Indies; salah satu konstruksi bangunannya mirip dengan karya MacLaine Pont di Aula Barat dan Timur ITB. Bedanya, ini karya arsitek Hindia lainnya yang tak kalah penting, F.J.L. Ghijsels.

Agak ke timur laut, masih lanjutan Jl. Trunojoyo. Sekarang banyak kafe dan restoran di situ. Saya pernah ikut merintis keramaian di sana dengan mendirikan sebuah kafe bertema musik rock. Saya dengar kafe ini sudah bubar sekarang. Seorang pelukis besar dari Bandung juga pernah membuat sanggar yang cukup terkenal di kawasan ini.

Melanjutkan Jl. Tirtayasa, saya masuk ke suatu kompleks bernama Gempol. Kompleks ini sebetulnya sebuah enclave di tengah kawasan vila, satu perkampungan tradisional yang sudah ada sebelum pembangunan besar-besaran di kawasan Dago. Wilayah kampung dengan kebun bambu dan kompleks kuburan yang tidak terlalu luas. Kelak kampung ini menjadi cukup populer di Bandung karena menjadi salah satu percontohan dalam penataan permukiman yang sehat, nyaman, dan hijau di tengah kota.

Kawasan Gempol dibangun ulang atau diperbaiki melalui program kampong verbetering serta program pembangunan perumahan modern di Bandung pada permulaan tahun 1920-an yang dikerjakan berbarengan dengan kawasan Jl. Arjuna (Fokkerhuis), Cihapit, Telukbuyung, dan Astana Anyar. Khusus kawasan Gempol dirancang oleh arsitek P.E. Werner dengan biro pembangun oleh Burgerlijke Openbare Werken. Seluruh program pembangunan di kawasan ini adalah bagian dari perluasan wilayah Bandung bagian utara.

Trunojoyo-10

Cuplikan denah dari Helena Ignasia.

Kawasan Gempol yang merupakan permukiman kelas menengah-bawah dikelilingi oleh kompleks vila di jalan-jalan utama. Untuk menyiasati lingkungan, maka kawasan ini dibagi tiga lapis. Lapis terluar mewakili kelas sosial tertinggi dan lapis terdalam mewakili kelas sosial terendah. Seluruh lapisan dalam permukiman Gempol dilalui oleh jalinan brandgang yang meliputi seluruh kompleks. Sejumlah brandgang lainnya diarahkan keluar kompleks permukiman. Di lingkaran terdalam Gempol terdapat dua objek kuliner yang belakangan ini semakin berkibar, yaitu kupat tahu dan roti, keduanya menggunakan nama Gempol pada produknya.

Trunojoyo-11

Roti Gempol. Foto @kenasdayne

Keluar Gempol sebetulnya ada taman kecil di sisi jalan Tirtayasa. Taman seperti ini perlu diperbanyak dan dijaga terus keberadaannya di Bandung yang sedang sesak napas ini. Yang tidak kalah pentingnya mungkin agar membangun taman-taman serupa ini juga di daerah selatan Bandung yang sejak dulu selalu lebih gersang. Sudah waktunya juga membuat sejarah pertamanan di sisi selatan Bandung.

Trunojoyo-12

Taman Wira Angunangun. Foto @pamanridwan

Kunjungan terakhir adalah sebuah taman yang tersembunyi dari pandangan umum karena letaknya di bagian dalam kompleks perumahan Jl. Wira Angunangun. Walau tak bernama, taman ini sudah hadir sejak lama juga, mungkin dulunya sebuah plein. Sebuah rumah besar dalam posisi tusuk sate dari mulut Jl. Wira Angunangun masih berdiri di sebrang taman. Melihat bentuknya sekarang, tampak bahwa saat ini rumah itu sudah terbagi ke beberapa pemilikan.

Trunojoyo-13

Rumah di Jl. Wira Angunangun. Foto @pamanridwan

Sebuah lapangan rumput hijau yang tidak terlalu luas berada di tengah kompleks ini.  Sejumlah pohon tinggi masih berdiri melingkari taman. Di kedua ujung taman terdapat bangunan permanen, sebuah gardu listrik dan rumah kecil yang dipakai sebagai pos jaga. Sungguh taman yang nyaman.

Taman-taman seperti ini pernah menjadi ikon Kota Bandung, dulu…

__________________________________ 

Berikut ini adalah daftar nama peserta ngaleut hari itu:

Alek @A13Xtriple, Asep , Ashelia @asheldaa, Atria @atriasartika, Daniya @daniyaintan, Fuji @nersfuji, Hani @tiarahmi, Ina @inasahsan, Indra, Kenas @kenasdayne, Mentari @mentariqorina, Nandar @NandarAli, Putri Aryuni @putriaryuni, Ququr @QurrAini, Rendy @RendyMarliyadi, Ridwan @pamanridwan, Rivan , Ryzki @SadnessSystem, Syahril, Tina @tinanurfalah, Vecco @veccosuryahadi, Vivi @vaivoi, Yance @jantjeu, Yogi @yogi_adhi

__________________________________

Peta wilayah dan sejumlah data tentang Gempol saya ambil dari disertasi Helena Ignasia di Universität Stuttgart: Transformations and Conservation of the Ex-Colonial Dwelling Settlements in North Bandung – Indonesia  

Advertisements