Search

mooibandoeng

Senantiasa Belajar Kenal dan Cinta Kota Bandung

Hana Nguni Hana Mangke

image

Salah satu karya Pak Sunaryo yang sangat menarik dan sangat saya sukai hari ini: sebongkah batu besar setinggi dada orang dewasa yang bagian atasnya dipotong miring ke bawah, lalu dilubangi mengikuti bentuk rangkaian mesin yang diletakkan di dalamnya. Mesin ini terus bergerak dengan daya yang didapat dari energi sinar matahari.
.
Pada permukaan batu yang miring itu dipasang kaca tebal yang dipotong mengikuti bentuk garis luar bongkah batu sebagai penutup mesin.
Bongkah batu ini diletakkan dalam posisi vertikal di dekat tembok kompleks Wot Batu, bagian atasnya diberi atap beton yang ditopang oleh tembok di satu sisi dan oleh kaca tebal vertikal di sisi lainnya.
.
Yang membuat lebih menarik adalah pahatan kalimat Sunda Kuno yang legendaris pada bagian atas tembok di bawah atap, sebuah kutipan dari naskah Kropak 632 yang sering disebut dengan judul “Amanat Galunggung”:
hana nguni hana mangke
tan hana nguni tan hana mangke.
.
Lalu tiba-tiba saya merasa mengenali sesuatu: prasasti. Ya, saya lihat batu ini sebagai prasasti dunia modern. Manusia dulu meninggalkan jejak lewat kalimat² dalam huruf kuno yang ditoreh pada daun lontar, atau pahatan tulisan di atas batu, atau mungkin lewat kisah tenaga gaib yang mampu meninggalkan jejak kaki pada batu cadas.
.
Selanjutnya imajinasi saya melayang ke sana-sini tentang kegiatan sejarah, tentang jejak² yang ditinggalkan oleh generasi terdahulu, dan tentang apa yang akan kita tinggalkan pada generasi yang akan datang. Hehe, ceritanya bisa sangat panjang ya.. Silakan lanjutkan saja dengan interpretasi masing².

Kliping Riwayat Preangerplanters

Lima artikel yang dimuat di HU Pikiran Rakyat, rubrik Selisik, Senin, 22 Februari 2016. Salinan artikelnya menyusul.

PR Preangerplanters-1.jpg

PR Preangerplanters-2

 

PR Preangerplanters-3.jpg

Idjon Djanbi

idjon-djambiOleh @vonkrueger

School voor Opleiding van Parachutisten (Sekolah Penerjun Payung) dipindahkan dari Hollandia (Jayapura) ke Bandung pada tahun 1947. Tentu saja kepindahan ini diikuti oleh sang komandan, Letnan Rokus Bernardus Visser, yang pangkatnya dinaikkan menjadi Kapten tidak lama setelah pindah.

Kapten Visser memimpin sekolah tersebut sampai tahun 1949. Setelah pengakuan kedaulatan, Kapten Visser yang sudah merasa nyaman hidup di Indonesia memutuskan untuk tidak kembali ke Belanda dan menetap di Pacet, Lembang. Ia mengambil kewarganegaraan Indonesia, menikahi seorang wanita Sunda, masuk Islam dan mengubah namanya menjadi Mochamad Idjon Djanbi. Pekerjaannya sehari-hari adalah bertanam bunga sampai akhirnya pada tahun 1952, ia diminta oleh Kolonel A.E. Kawilarang, Panglima Tentara dan Teritorium III Siliwangi, untuk membentuk pasukan komando. Djanbi setuju, dengan syarat ia diberikan pangkat Mayor.

Djanbi memilih baret merah sebagai baret resmi kesatuan tersebut, mengikuti baret pasukan linud Inggris tempat Djanbi pernah berdinas. Pada tanggal 16 April 1952 pasukan komando tersebut diresmikan dengan nama Kesatuan Komando Teritorium Tentara III/Siliwangi (Kesko TT. III/Siliwangi) dengan Mayor Idjon Djanbi sebagai komandannya.

Kesatuan ini berkedudukan di Batujajar, di tempat yang sebelumnya merupakan markas pasukan komando KNIL,  Korps Speciale Troepen (KST). Satu tahun kemudian, kesatuan tersebut dialihkan kepada Markas Besar Angkatan Darat dan berganti nama menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD) dan pada tahun 1955 berubah kembali menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD). Djanbi bertugas sebagai Komandan RPKAD sampai pada tahun 1956, ia ditugaskan untuk mengepalai perkebunan-perkebunan milik asing yang baru saja dinasionalisasi.

Karena status Idjon Djanbi di RPKAD adalah “dikaryakan”, maka ia tidak mendapat pensiun. Pada saat ulang tahun RPKAD tahun 1969, Idjon diberi kenaikan pangkat menjadi Letnan Kolonel. Idjon Djanbi wafat di Yogyakarta pada 1 April 1977 dan dimakamkan di TPU Kuncen.

 

Kendan, Limbangan, Kareumbi, Bagian 1

image

(Reblogged dari keluyuran.net)

Sabtu kemarin saya melanjutkan perjalanan mapay2 jalanan baru di sekitar Kendan. Satu2nya bayangan tujuan adalah Kampung Cimulu. Minggu lalu beberapa warga Kendan bilang jalan di dalam hutan jati di belakang sudah dibeton sampai Cimulu dan dapat keluar sampai Cicalengka di jalur Cinulang. Nah ini saja patokannya.

Saya sudah tau nama Kampung Cimulu di dalam kawasan hutan Kareumbi dan pernah berkunjung untuk melihat beberapa lokasi yang dikeramatkan oleh warga. Tentu bukan kekeramatannya yang membuat saya mendatangi tempat itu, melainkan cerita2 di balik kekeramatan yang biasanya menyimpan sejarah lokal.

Saya pernah ke Cigumentong saat perjalanan menembus hutan Kareumbi menuju Sumedang. Dari sana saya mendapatkan informasi tentang perkebunan jeruk di kawasan Kareumbi tempo dulu. Makam orang Belanda  pengelola kebun jeruk  itu ternyata sudah hampir lenyap tertimbun tanah di dekat sebuah bak penampungan di dalan hutan Kareumbi. Dengan bantuan seorang warga asli Cigumentong, saya dapat menemukan makam itu. Entah bagaimana kondisi makam itu sekarang.

Nah kisah jalan tembus dari Kenda ke Cimulu ini yang menggoda saya untuk kembali satu minggu kemudian. Dengan beberapa teman bermotor, saya memulai perjalanan dengan mampir dulu ke kawasan vila Citaman Hill. Nama Citaman sering dihubungan dengan lokasi istana Kerajaan Kendan yang tidak ada bekasnya itu. Di Citaman juga pernah ditemukan sebuah arca Durga (sering disebut juga sebagai arca manik) pada tahun 1909 dan sekarang disimpan di Museum Nasional.

Setelah berkhayal sejenak memiliki salah satu vila Citaman Hill yang memiliki pemandangan sangat indah ke Lingkar Nagreg dan gunung2 di belakangnya, saya segera menembus hutan jati, mengitari Bukit Kendan. Benar, semua badan jalan sudah berlapis beton. Saya tak melihat satu kampung pun di jalur ini sampai tiba di sebuah lokasi yang baru saja dibuka, konon untuk mendirikan sebuah pesantren. Pada plang kecil terbaca nama Desa Simpen, Kecamatan Limbangan.

Seharian ini kami kalau tidak berada di dalam hutan ya di alam terbuka tetapi dengan awan yang cukup tebal, sama sekali tidak dapat menebak2 posisi Kareumbi.

Jpeg
Citaman Hill

Continue reading “Kendan, Limbangan, Kareumbi, Bagian 1”

Stasiun Cikajang +1.530

image

Stasiun Cikajang, stasiun kereta api paling tinggi di Indonesia (+1.530 m). Dibangun pada tahun 1926 dan kemudian dinonaktifkan pada tahun 1983 karena mulai rusaknya jalur kereta dan penurunan jumlah penumpang.

Kondisi stasiun ini sudah rusak karena lama tidak dipakai dan semakin lama semakin mengkhawatirkan, tembok-tembok sudah mulai terkelupas dan rusak, bagian atap juga sudah banyak bolong-bolong. Pada bagian tembok belakang sudah menempel tembok sebuah bangunan baru. Di bagian atas satu sisi bangunan masih dapat terbaca tulisan “Cikajang”.

Jalur-jalur rel di depan stasiun sudah banyak yang terkubur tanah, sebagian masih dapat dilihat tersingkap di atas tanah. Sekitar 15-20 meter di depan rel ada sebuah jalur rel yang walaupun samar masih dapat ditelusuri arahnya, menuju ke kampung. Di ujung rel yang terdapat di tengah kampung ada sebuah sisa bak besar yang sudah dipenuhi oleh sampah. Menurut warga lokasi itu memang sudah menjadi TPS.

Di ruang depan kasur tanpa seprai menggeletak begitu saja, kain-kain serta pakaian bertebaran, sebuah lemari sederhana berdiri miring seperti menunggu runtuh.

Continue reading “Stasiun Cikajang +1.530”

Payen dan Sang Pangeran Jawa

photo 1
Foto koleksi KITLV

Oleh @alexxxari @A13Xtriple

Pada tahun 1822 seorang arsitek dan pelukis berkebangsaan Belgia mendapatkan tugas dari Kerajaan Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di seluruh Hindia Belanda. Pelukis ini memilih Bandung sebagai tempat tinggalnya. Antoine Auguste Joseph Payen (beberapa menuliskan namanya Paijen) mendirikan sebuah rumah bergaya Indische Empire Stijl di sebuah bukit dekat Sungai Ci Kapundung. Rumah berlantai dua ini merupakan salah satu dari 8 bangunan tembok yang tercatat dalam “Plan der Negorij Bandong” pada tahun 1825. Rumah cantik ini bertahan hingga berusia 150 tahun lebih. Nasibnya berakhir saat Jalan Stasiun Timur diperlebar.

Payen datang ke Hindia Belanda pada tahun 1817, saat berusia 25 tahun. Sejak awal kedatangannya, Payen langsung berkenalan dengan daerah Priangan. Dia diundang oleh Gubernur Jenderal Baron van der Capellen untuk tinggal di Buitenzorg dan membantu restorasi Istana Bogor. Di tempat itulah Payen bertemu dengan atasannya Prof. C.G.C. Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pertanian, Seni dan Ilmu. Reinwardt mengenalkan Payen kepada sesama pelukis litho lainnya di antaranya adalah kakak beradik van Beek, Jan, dan Theo.

Eksplorasi Payen di daerah Priangan dimulai pada tahun 1818 saat Gunung Guntur di Garut meletus. Setahun kemudian dia kembali melakukan perjalanan penelitian  bersama Reinwardt di daerah Priangan, yang berlangsung hingga awal tahun 1820. Perjalanan ini merupakan penelitian yang terakhir dilakukan Payen bersama Reinwardt. Diperkirakan penjelajahan Payen ke daerah seputar Bandung terjadi pada tahun 1819 ini.  Ada dua lukisan pemandangan karya Payen yang dapat dijadikan sebagai bukti kehadirannya di “Tatar Ukur”. Pertama adalah lukisan air terjun/ curug Jompong  serta gambar keadaan Sungai Ci Tarum.

Di puncak kemahsyurannya, Raden Saleh memperoleh berbagai julukan di antaranya adalah “Le Prince Javanais” atau “Pangeran Jawa”.

Continue reading “Payen dan Sang Pangeran Jawa”

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,192 other followers