Search

mooibandoeng

Senantiasa Belajar Kenal dan Cinta Kota Bandung

Category

Kolonial

Gra Rueb, Perempuan Pematung Verbraak

Berikut ini tulisan Audya Amalia, rekan saya di @KomunitasAleut. Sudah dipost juga di beberapa website lain.

Apa yang biasanya dikisahkan setiap kita membahas tentang patung pastor di sudut Taman Maluku Bandung? Cerita yang selama ini berkembang di masyarakat selalu saja berhubungan dengan urban legend yang mengisahkan bahwa patung tersebut dapat bergerak dan berubah posisi.

Setiap mendengar kisah semacam itu, saya selalu ingin menyaksikannya langsung dan membayangkan hal tersebut dapat menjadi sebuah pengalaman estetik yang sangat canggih. Tapi setiap saya lihat patung tersebut, ya begitu-gitu saja. Diam, berdiri statis dengan jubahnya yang agung, sambil menggenggam sebuah alkitab dengan tatapan lurus ke depan.


Patung Verbraak (Sumber: grarueb.nl)

Sulit untuk menangkap dengan mata telanjang bagaimana eskpresi wajah patung ini, karena diletakkan di atas tembok pedestal putih yang tinggi. Pada bagian pedestal tersebut, tersemat nama “PASTOOR H.C. VERBRAAK” dengan huruf kapital hitam yang sangat kontras. Ditambah dengan keterangan tahun kelahiran dan kematian “1835–1918” seperti sebuah batu nisan.

Dalam tour Urban Legend yang diselenggarakan Komunitas Aleut dan Mooibandoeng pada 15 Februari 2020, dijelaskan bahwa Verbraak adalah seorang misionaris kelahiran Rotterdam yang pernah mendapatkan tugas di Padang dan Aceh.

Pastor dengan nama lengkap Henricus Christiaan Verbraak ini, dikenang sebagai sosok yang sederhana dan penuh cinta kasih. Sebagian besar umat yang mengikuti pelayanannya adalah para tentara yang bertugas di Aceh. Ia mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan ajaran agama dalam lingkungan militer di Hindia Belanda.

Di usia 77 tahun, kesehatan Pastor Verbraak menurun dengan drastis. Ia pun berhenti dari tugasnya dan menetap di Magelang, Jawa Tengah. Kota ini merupakan salah satu kota militer di Hindia Belanda. Ia menghembuskan meninggal dunia dan dimakamkan di kota tersebut.

Pada tahun 1922, Pemerintah Kota Rotterdam memberikan penghargaan untuknya atas pengabdiannya bagi kemanusiaan. Lembaga The Dutch East Indian Army di Bandung mengumpulkan dana untuk pembuatan patung sang pastor sebagai monumen ingatan terhadap kebaikan yang telah diberikannya.


Tour Urban Legend bersama Komunitas Aleut dan Mooibandoeng pada 15 Februari 2020 (Sumber: Komunitas Aleut)

Malam ketika tour Urban Legend itu, saya pun memerhatikan kembali wujud patung Verbraak. Saya bandingkan ketinggian patung ini 3x lipat dari tinggi badan rata-rata para peserta yang berdiri di sekitarnya –yang sedang menyimak pemaparan para pemandu. Setiap memerhatikan karya yang diletakkan di ruang publik seperti patung Verbraak ini, selalu ada pertanyaan khusus yang menggantung di pikiran. Siapa perupa yang membuat karya ini?

Ketika rombongan berjalan ke arah titik terakhir tour, Ariyono, salah satu pemandu Urban Legend dari Komunitas Aleut, memberitahu saya sekilas bahwa patung Verbraak dibuat oleh seorang perempuan pematung Belanda. Saya pun tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai sang pematung.

Gra Rueb dan Dunia Seni Rupa

Ialah Gerharda Johanna Wilhelmina Rueb. Dalam beberapa sumber tertulis, namanya sering disingkat menjadi G.J.W Rueb, namun dalam dunia seni rupa ia memiliki nama panggung Gra Rueb. Perempuan ini lahir di sebuah kota di selatan Belanda bernama Breda, pada tanggal 4 September 1885. Ia dikenal sebagai seorang pematung dan medailleur (seniman yang merancang uang koin).


Gra Rueb tengah mengerjakan model untuk Monumen HJ Lovink. Foto diambil pada tahun 1941. (Sumber: grarueb.nl)

Rueb dilahirkan dari keluarga yang sejahtera. Ia adalah anak dari direktur perusahaan mesin De Machinefabriek Breda, Johann Gerhard Rueb. Perusahaan ayahnya ini merupakan pemasok terbesar lokomotif uap untuk perusahaan trem di Belanda pada akhir abad ke-19.

Sejak kecil, Rueb menaruh minat dalam kesenian. Dalam sebuah wawancara di surat kabar Het Vrije Volk, Rueb pernah mengungkapkan masa kecilnya yang telah terbuka dengan dunia seni.

Dari wawancara tersebut, kita dapat mengetahui bahwa situasi pada awal abad ke-20 di Eropa, pendidikan artistik masih dipandang sebelah mata. Ada dua hal yang mendasarinya, pertama, studi model tanpa pakaian dianggap praktik yang tidak pantas. Kedua, seni rupa –terutama seni patung–tidak sesuai untuk perempuan karena dianggap pekerjaan yang berat dan kasar.

Gra Rueb tetap teguh memperjuangkan keinginannya menjadi perempuan pematung, mengingat saat itu jumlahnya masih sangat sedikit. Meski sempat tidak direstui oleh ayahnya, perlu diingat bahwa Rueb terlahir dari keluarga yang sejahtera. Posisi ini sangat memungkinan Rueb untuk mampu membayar pelatihan-pelatihan kesenirupaan yang diinginkannya kepada berbagai perupa terkemuka.

Pada tahun 1911, Rueb pun mengasah teknik menggambar dan mematung di Den Haag kepada gurunya Toon Dupuis, pematung Belgia. Empat tahun kemudian, guna mematangkan keahliannya, Rueb pindah ke Paris. Di sana, ia mempelajari seni patung kepada salah satu pematung berpengaruh di Prancis, Antoine Bourdelle. Sejumlah seniman ternama pun pernah menjadi murid Bourdelle, di antaranya Alberto Giacometti dan Henri Matisse. (“De dieren van Gra Rueb: Fijnzinnig werk van een stoere vrouw”, Arjana de Bruin, De Kunstenaar)


Gra Rueb tengah mengerjakan patung kuda di studio Georg Graff pada tahun 1954 (Sumber: grarueb.nl)

Sebagai sosok penting dalam gerakan Art Deco di Eropa, Bourdelle terlibat dalam masa transisi dari gaya Beaux-Arts ke gaya patung modern. Secara estetika, Rueb pun mendapatkan pengaruh yang kuat dari gurunya ini.

Sepulangnya dari Paris, Rueb menetap di Den Haag. Ia memantapkan karir dalam dunia seni rupa dengan patung sebagai fokus medium yang dipilihnya. Selain itu, ia pun merancang berbagai uang koin serta bust (patung kepala). Rueb pun pernah merancang patung keramik untuk perusahaan keramik termasyhur di Belanda, Goedewaagen (kini bernama Royal Goedewaagen).

Gra Rueb dalam Penggarapan Patung Verbraak

Pemerintah Belanda melirik Rueb untuk bekerjasama dalam berbagai proyek. Beragam patung, monumen, dan plakat, dibuatnya. Pada tahun 1926, Rueb membuat patung bust Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik yang ditempatkan di Balaikota Rotterdam. Patung inilah yang menggiring Rueb untuk mengerjakan proyek patung Verbraak di Bandung.

Dalam monograf berjudul De Beeldhouweres Gra Rueb yang ditulis oleh kritikus seni, Cornelis Veth, dijelaskan bahwa Rueb langsung bersedia menerima tawaran proyek pembuatan patung Verbraak karena rasa hormatnya pada sosok sang pastor sangat tinggi. Bahkan Rueb tidak memaksakan klaim untuk karya patung ini.


Peresmian Patung Verbraak, dipindai dari “Life” edisi 3 April 1922 (Sumber grarueb.nl)

Rueb tidak lantas berlayar ke Hindia Belanda dan datang ke Bandung untuk membuat patung ini. Ia mengerjakan rancangan patung Verbraak setinggi 2,5 meter di Belanda. Model patung tersebut kemudian dicetak dengan material akhir perunggu oleh Fonderie Nationale di Brussel. Bagian pedestal patung dibuat tinggi dengan berbahan dasar granit Bavaria. Monumen ini pun kemudian diangkut ke Hindia Belanda oleh perusahaan kapal uap Nederland, lalu dikirim ke Bandung dan diletakkan di Molukkenpark (Taman Maluku).

Patung Verbraak berdiri dengan gagah di sudut taman itu. Meski dibuat dengan ukuran yang tinggi, Rueb seperti tahu betul bahwa Verbraak adalah sosok yang rendah hati. Rueb pun menggambarkan gestur Verbraak dengan kepala yang sedikit tertunduk ke bawah, tidak tegak dengan angkuh. Kerut demi kerut di dahi sang pastor dibuat mengimbangi tatapannya yang teduh.

Pada dada kiri, terdapat empat lencana penghargaan. Dalam situs onderscheidingen.nl, Erik Müller menjelaskan arti empat lencana tersebut sebagai berikut (dari kiri ke kanan):

· Ridder in de Orde van de Nederlandsce Leeuw (Ksatria Ordo Singa Belanda)

· Officier in de Orde van Oranje-Nassau (Petugas Orde Oranye-Nassau)

· Atjeh-medaille 1873–1874 (Medali Aceh 1873–1874)

· Eereteeken voor belangrijke krijgsbedrijven met gesp ‘Atjeh 1873–1874’ (Tanda Kehormatan dalam Perang Aceh 1873–1874)


Kartu pos bergambar patung Pastor Verbraak (sumber: grarueb.nl)

Semasa hidupnya, karya-karya Rueb dibeli oleh berbagai museum seperti Gemmentemuseum Den Haag, Museum Boijmans van Beuningen di Rotterdam, Museum Stedelijk Amsterdam, dan Museum Kröller-Müller di Otterlo. Museum Breda, di kota kelahiran Rueb, pun mengumpulkan karya-karya Gra Rueb.

Tepat pada ulang tahun Rueb yang ke-60 pada 1946, Cornelis Veth menuliskan sebuah monograf berjudul De Beeldhouweres Gra Rueb. Dua sepupu dari Rueb berinisiatif membangun sebuah situs web grarueb.nl yang berisikan informasi mengenal kehidupan dan sebagian besar karya-karya bibinya tersebut. Pada 26 Desember 1972, Gra Rueb menghembuskan nafas terakhirnya di Den Haag.

Dari penelusuran ini, kita dapat mengetahui bahwa Verbraak tidak pernah menginjakkan kakinya di Bandung. Begitu pula dengan sang pematung. Jejak fisik Gra Rueb di Bandung hanya dapat ditemukan di sisi kiri pedestal patung Verbraak. Di sana tertera tandatangannya bertuliskan nama “GJW Rueb”.


Tandatangan Gra Rueb (sumber: grarueb.nl)

* * *

Dimuat pertama kali di https://medium.com/@audyaamalia/

Tiga Serangkai di Kota Bandung

Oleh @omindrapratama

3-serangkai
Dari kiri ke kanan : Suwardi Suryaningrat, E.F.E Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo.

Tiga Serangkai. Julukan ini adalah julukan yang seharusnya tidak pernah terlupakan jika kita berbicara Sejarah Pergerakan Nasional. Triumvirat Ernest Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat adalah tonggak pertama pergerakan bercorak nasionalis di Indonesia lewat Indische Partij, yang berumur pendek, serta berbagai gerakan politik, kebudayaan, dan pendidikan lain. Tanpa pengaruh dari Tiga Serangkai, bisa-bisa tidak ada pergerakan bercorak nasionalis dari Perhimpunan Indonesia di Belanda, atau Partai Nasional Indonesia, tidak ada pula Dwi-Tunggal Soekarno dan Hatta.

Semua pergerakan penting Tiga Serangkai tidak bisa dilepaskan dari Kota (dulu kabupaten) Bandung. Di kota ini Tiga Serangkai melakukan banyak gerakan yang membuat panas telinga pemerintah kolonial, sekaligus membangkitkan semangat nasionalisme kaum pribumi.

Bandung pada dekade awal abad 20, adalah kota yang mulai menggeliat dengan kegiatan budaya dan pendidikan penduduk pribumi. Tahun 1904 Raden Dewi Sartika merintis lembaga pendidikan khusus perempuan di Pendopo Kabupaten Bandung. Tahun 1907 Tirto Adhi Suryo menjalankan Surat Kabar Medan Prijaji di Jalan Naripan. Keberadaan sekolah-sekolah menengah yang membuka diri untuk siswa pribumi seperti Kweekschool, HBS, dan AMS di Bandung juga menjadi keran masuk pribumi-pribumi muda berpendidikan barat.

Eksponen Tiga Serangkai yang pertama menetap di Bandung adalah Douwes Dekker. Douwes Dekker yang pada 1908 turut serta mendirikan Budi Utomo di Batavia, merasa kecewa dengan perkembangannya yang makin dikuasai para priyayi konservatif, yang menyingkirkan pemuda-pemuda cerdas binaannya seperti Sutomo, Rajiman Wediodiningrat, dan Gunawan Mangunkusumo. Ia lalu mengunjungi tanah leluhurnya di Belanda selama 1 tahun, lalu kembali ke Hindia dan menetap di Bandung tahun 1910. Setibanya di Bandung, ia langsung aktif di dua organisasi kaum Indo, Indische Bond dan Insulinde (di Insulinde Douwes Dekker pernah aktif sebelumnya). Lagi-lagi Douwes Dekker merasa kecewa karena sikap konservatif kedua organisasi tersebut yang tidak sepaham dengan ide Douwes Dekker, yaitu membolehkan kaum pribumi terpelajar bergabung untuk kemudian berjuang di ranah politik. Continue reading “Tiga Serangkai di Kota Bandung”

A Cup of Java

image

Chicago, 1893.

Hari itu, tanggal 1 Mei, perhelatan internasional World’s Fair: Columbian Exposition dibuka. Kegiatan ini diadakan untuk merayakan  400 tahun “penemuan” dunia baru oleh Christopher Columbus: Amerika.

Untuk ajang pameran berskala raksasa ini disediakan lahan seluas 280 hektar yang akan diisi oleh 46 negeri dari penjuru dunia. Pameran ini berlangsung selama 6 bulan penuh sampai hari penutupan pada tanggal 30 Oktober 1893. Tercatat ada 27.300.000 pengunjung yang datang.

Ada banyak keunikan dalam pameran akbar ini, di antaranya kehadiran bangunan-bangunan tiruan semacam yang dapat dilihat dalam skala kecil di Jaarbeurs Bandoeng lebih 20 tahun kemudian. Di Chicago hadir Teater Persia, Istana Moor, perkampungan orang Lapland, atau Benteng Donegal.

Dimulai dari hari itu di benua baru, Java identik dengan kopi.

Continue reading “A Cup of Java”

Mengenal Riwayat Preangerplanters

Nah, ini kegiatan @mooibandoeng terbaru.

Lengkapnya sebetulnya ada 4 mata acara, 2 kali Ngaleut Jejak Preangerplanters di Bandung yang sudah terlaksana pada hari Minggu tanggal 3 dan 10 Januari 2016 yang lalu dan 2 kegiatan lain pada akhir pekan ini.

Masing-masing adalah:
1) hari Sabtu tanggal 16 Januari 2016 berupa Bedah Buku Preangerplanters yang diadakan di Institut Francais Indonesie (IFI), Jl. Pirnawarman No.32, Bandung. Kegiatan mulai pukul 09.00 sampai 14.00. Sebagai selingan akan ada pemutaran fil dokumenter The Story of Tea (1937) yang meliput berbagai kegiatan perkebunan teh di Malabar. Akan hadir pula sebagai pembicara Bpk. H. Kuswandi Md, SH, Bpk. Eka Budianta, dan Ridwan Hutagalung.

Sudah konfirmasi untuk ikut memberikan materi dan pandangan adalah Bpk. Kurnadi Syarif-Iskandar, sesepuh perkebunan mantan Direktur PTP XIII yang menjadi administratur pribumi pertama di Malabar dan Bpk. ir. Nugroho, Ketua Umum Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Teh Java Preanger.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

2) Kunjungan ke Rumah Bambu yang dirintis oleh Bpk. H. Kuswandi di Cimurah, Garut. Di sini para peserta akan diajak mengenal sejarah perkebunan Priangan secara visual, menyaksikan beberapa artefak yang berhubungan dengan perkebunan teh Priangan, melalui cerita dan foto akan berkenalan dengan silsilah besar dan rumit keluarga-keluarga perkebunan Priangan pada masa Hindia Belanda.

Di Rumah bambu yang nyaman ini para peserta juga akan diajak mengenal kembali tradisi lama yang sudah nyaris punah, yaitu nyaneut, bersama-sama dengan Asgar Muda dan Moka Garut. Akan ikut hadir di Rumah Bambu adalah seorang pengamat sejarah Garut, Dedi Effendi dan Darpan, seorang sastrawan.

Dari Rumah Bambu, peserta akan beranjak menuju perkebunan teh di kawasan Cikajang. Di sini para peserta dapat melihat langsung kehidupan sehari-hari para pekerja perkebunan teh di rumah-rumah tinggalnya masing-masing yang masih berbentuk rumah bilik tradisional. Di tengah perkebunan juga terdapat sebuah patung salah satu Preangerplanters yang cukup terkenal dan ikut berperan dalam pengembangan Kota Bandung. Bagi yang jeli, tentu dapat mengetahui bahwa patung yang serupa pernah juga berdiri di Alun-alun Kota Garut pada masa sebelum kemerdekaan. Holle malah seringkali juga disebut bila membicarakan sejarah kontemporer Sunda. Kenapa? Tunggu saja cerita-ceritanya.

Sampai jumpa dalam dua kegiatan ini.

Salam.

IMG-20160112-WA0061

IMG-20160113-WA0038

IMG_2702

IMG_1786

 

Tan Sin Hok: Ahli Mikropaleontologi Dunia dari Cianjur

Beberapa waktu lalu di internet saya menemukan situs http://brieven-tan-schepers.nl/ yang berisi arsip surat-surat yang dikirmkan oleh pasangan suami-istri Eida Tan-Schepers dan Tan Sin Hok yang tinggal di Bandung kepada orangtua Eida, Sari dan Menno Schepers-Cohen, yang tinggal di Den Haag, Belanda. Arsip surat-surat ini berangka tahun antara 1929 sampai 1946.

Seperti biasa, apa saja yang menyangkut cerita Bandung tempo dulu selalu menarik perhatian saya. Begitu juga dengan pasangan Tan Sin Hok dan Eida Schepers yang pernah tinggal di Bandung ini. Dari situs itu saya ketahui mereka tinggal di sebuah rumah dengan alamat Van Hoytemaweg nomor 4. Nama alamat ini cukup mengejutkan karena merupakan alamat rumah yang dipakai sebagai sekretariat Komunitas Aleut selama ini. Nama alamat sekarang adalah Jl. Sumur Bandung, namun kadang-kadang bersama rekan komunitas kami iseng juga mencantumkan nama alamat pada masa Hindia Belanda itu. Karena itulah saya cukup hafal nama alamat Van Hoytemaweg.

Sejak penemuan situs Tan-Schepers itu saya berencana akan menulis ringkasan tentang Tan Sin Hok yang ternyata merupakan tokoh dengan prestasi keilmuan yang luar biasa. Namanya dikenal secara internasional sebagai ahli mikropaleontologi, satu cabang ilmu yang memelajari kehidupan purba berdasarkan fosil-fosil kecil (mikro). Laporan-laporan penelitiannya dipublikasikan dalam jurnal-jurnal berbahasa Belanda dan Jerman. Sayang sekali berbagai kesibukan membuat rencana penulisan ini terbengkalai tanpa lanjutan.

Tak lama kemudian, dalam fb-group Geotrek Indonesia tiba-tiba terjadi diskusi singkat tentang tokoh Tan Sin Hok yang awalnya dimulai oleh Pak Munasri Aci dan dilanjutkan oleh Pak Awang Satyana. Saya hanya ikut nimbrung dalam soal alamat Van Hoytemaweg dan lokasi Ereveld di permakaman Pandu. Tan Sin Hok memang tewas terbunuh dalam suatu penyerangan di rumahnya yang dilakukan oleh suatu gerombolan pada masa revolusi.

Selama tinggal di Bandung, beberapa kali keluarga Tan Sin Hok berpindah rumah. Salah satu alamat tempat tinggal yang didiami pada periode 1938-1943 adalah di Van Hoytemaweg (Jalan Sumur Bandung di Kota Bandung sekarang).

tan-sin-hok2005
Foto: https://oorlogsgravenstichting.nl

Continue reading “Tan Sin Hok: Ahli Mikropaleontologi Dunia dari Cianjur”

Penelusuran Belum Usai (5)

Lanjutan kisah Roman Rasia Bandoeng oleh Lina Nursanty.

SATU per satu tokoh dalam novel roman Rasia Bandoeng terungkap. Setelah hampir satu abad sejak pertama kali novel itu diterbitkan pada awal abad 20, cucu dan cicit para tokoh bermunculan. Mereka mencari asal usul leluhurnya melalui kepingan cerita dalam novel. Dendam lama yang diceritakan dalam novel pun telah terkubur seiring dengan perkembangan zaman. Yang tersisa adalah sebuah cerita roman yang berakhir tragis bagi Hermine Tan.

Dalam bukunya yang berjudul Women and Malay Voices. Undercurrent Murmurings in Indonesia’s Colonial Past, Tineke Hellwig secara hati-hati mencoba memisahkan pembahasan sosok Hermine asli dengan sosok Hermine dalam novel. Ia juga menyatakan simpati kepada Hermine yang dianggapnya sebagai korban dari novelis patriarkat yang tega mengumbar kehidupan pribadi dan bahkan hingga membentuk opini publik yang merugikan nama Hermine. Hingga akhir hayatnya, Hermine tidak terbuka meski kepada anak-anaknya mengenai cerita ini. Continue reading “Penelusuran Belum Usai (5)”

Gunung Cai Gg. Kina

Gunung Cai Gg. Kina

Hari ini saya berkesempatan mengunjungi dan memeriksa suatu jaringan air peninggalan Hindia Belanda yang terletak di belakang Pabrik Kina. Informasi ini saya dapatkan dari rekan instagram, @dienzfight yang kebetulan berkantor di dekat lokasi jaringan. Ternyata @dienzfight berteman baik dengan Yanti @adetotat yang belakangan ini cukup aktif di Komunitas Aleut. Jadi tadi saya berjanji berjumpa dengan keduanya untuk melihat lokasi jaringan air tua ini.

Tak aneh bila tak banyak orang yang tahu lokasi ini karena letaknya memang agak tersembunyi dari lalu lintas umum. Dalam foto di bawah ini tampak pintu masuk menuju sebuah ruangan besar yang saat ini sudah menjadi gudang. Di dalam ruangan ini ada sebuah bangunan seperti sumur dengan ukuran yang sangat besar, saya rasa diameternya lebih dari 5 m. Tinggi tembok lingkaran sumur sekitar 3 m. Bagian dalam sumur raksasa ini dipenuhi oleh pasir kwarsa, dan sampah2 gudang. Dugaan sementara, sumur ini berfungsi sebagai penyaring air.

IMG_20150522_130614 Continue reading “Gunung Cai Gg. Kina”

Gedung Merdeka

Foto koleksi delcampe.net
Foto koleksi delcampe.net

Pada penutupan Konferensi Asia Afrika tanggal 24 April 1955, Presiden Sukarno memberikan nama baru bagi gedung Societeit Concordia, yaitu Gedung Merdeka. Sudah satu minggu sejak tanggal 18 April, Societeit Concordia dijadikan tempat konferensi negara-negara Asia-Afrika. Semangat menuju kemerdekaan bangsa-bangsa adalah hasil utama konferensi ini yang dituangkan dalam The Final Communique of the Asian-African Conference, salah satu isinya terkenal dengan sebutan Dasasila Bandung.

Societeit Concordia didirikan tahun 1895 oleh Asisten Residen Priangan, Pieter Sijthoff, sebagai wadah berkumpulnya orang-orang Eropa yang tinggal di Bandung dan sekitarnya saat itu, kebanyakan anggotanya dari golongan elite. Warga Eropa golongan ini sedikit banyak ikut membangun Bandung menjadi perkotaan yang modern untuk ukuran saat itu. Continue reading “Gedung Merdeka”

Tan Sim Tjong (3)

Bagian ketiga:

Pencarian Makam Tan Sim Tjong

SEMASA hidupnya, Tan Sim Tjong dikenal sebagai saudagar kaya yang memiliki tanah luas yang tersebar di antara Cibadak, Jalan Raya Barat (Jenderal Sudirman sekarang, RED), dan sekitar Kali Citepus. Selain sebuah rumah gedong besar, keluarga Tan Sim Tjong juga memiliki kebun yang ditanami pohon bambu Cina dan pohon jeruk. Saking luasnya kebun jeruk itu, isteri Tan Sim Tjong disebut warga sekitar dengan sebutan Nyonya Kebon Jeruk. Kini, area tersebut dinamai Kelurahan Kebon Jeruk.

Selain di wilayah itu, tanah Tan Sim Tjong juga ada di ujung Jalan Raya Barat, tepatnya di wilayah Elang. Pada saat itu, Elang masih merupakan area hutan dan pesawahan. Di area itulah Sim Tjong memilih lahan sebagai makam dirinya. Karena adanya makam orang Tionghoa, sampai sekarang kampung tersebut dinamakan Sentiong.

Batu nisan makam Tan Sim Tjong di Kampung Sentiong, Jalan Elang, Kota Bandung.
Batu nisan makam Tan Sim Tjong di Kampung Sentiong, Jalan Elang, Kota Bandung.

Continue reading “Tan Sim Tjong (3)”

Blog at WordPress.com.

Up ↑