image

Malam itu saya mampir ke sebuah vila milik keluarga teman di perbukitan Bale Endah. Letaknya agak sukar saya bayangkan sebelumnya. Vila di Bale Endah? Pemandangan apa yang bisa didapatkan dari sana? Sawah? Tambang batu? Atau permukiman padat?

Setelah melewati jalan kecil di perkampungan padat, jalur jalan mulai sepi. Di sisi kanan menjulang tebing yang sudah terbuka oleh penambangan. Lewat sedikit lagi, di atas gawir, di situ letak Villa Batu. Vila modern tiga lantai, masing2 memiliki balkon. Di sekeliling halaman ditanami pohon2 buah. Nyaman.

Letak vila ini sebetulnya membelakangi Kota Bandung. Dari halaman depannya saya mengamati bayangan tebing dan perbukitan di belakangnya. Tentu saja tak banyak yang dapat saya lihat, hanya perkiraan kawasan saja. Di sebelah kanan, di balik kampung, sudah saya ketahui sebuah danau, Situ Sipatahunan. Ke sebelah kiri, di ujung tebing itu lereng landai menurun sampai jalan raya utama Bale Endah.

24 Maret 1946, seorang wartawan muda bernama Atje Bastaman sedang berada di Pameungpeuk, Garut. Dari atas Gunung Leutik dia dapat menyaksikan langit kawasan Bandung memerah mulai dari sekitar Cimindi sampai Cicadas.

Mulai terkarang suasana Bale Endah tempo dulu. mungkin di belakang ini dulu adalah perbukitan dengan hutan lebat, dan di bawah sana, persawahan yang luas sampai ke sisi timur Kota Bandung. Sisa-sisanya masih dapat disaksikan di sana-sini. Bale Endah, seperti yang pernah saya baca dulu, konon adalah lokasi rumah peristirahatan Bupati Bandung dahulu sembari memantau dan menikmati pemandangan sawah yang menyejukkan mata.

Jalan Laswi mungkin dulu merupakan jalan setapak yang menghubungkan Bandung dengan Ciparay dan Majalaya. Mengikuti jalur jalan ini kelak dibangun jalur rel kereta api menuju Majalaya. Di sepanjang jalan tentunya dulu terdapat  beberapa kampung tua.

Sedikit lebih jauh ke selatan, perbukitan Ciparay yang di baliknya terletak lapangan perburuan para bupati dahulu, Tegal Mantri. Lahan perburuan ini yang kelak disewa oleh Rudolf Albert Kerkhoven untuk membuka perkebunan teh Arjasari, salah satu perintis perkebunan di sebelah selatan Bandung.

Suasana lebih nyaman lagi, di atas balkon. Beberapa kursi dan meja, di atasnya sudah tersaji kopi panas dengan makanan ringan. Duduk diam saja menikmati tiupan angin dingin sudah senang rasanya. Di bawah sana menghampar pemandangan yang di luar dugaan, saya dapat melihat hampir seluruh dataran Bandung sampai ke atas, ke perbukitan utara.

Mungkin ini bukan pertama kalinya saya lihat dataran Bandung yang luas dari arah selatan. Tapi memang baru kali ini terasa mengesankan. Pikiran muter2 ke sana kemari. Mulai dari lagu Bandung Selatan di Waktu Malam, cerita Ismail Marzuki, sampai jalur pengungsian dalam peristiwa Bandung Lautan Api.

Rupanya ingatan tentang Bandung Lautan Api yang paling kuat. Sebelumnya, saya sudah sering ke kawasan selatan ini untuk wawancara para saksi mata dan pelaku peristiwa Bandung Lautan Api. Merekam kakek nenek yang masih fasih menyanyikan lagu2 Jepang dari masa Perang Dunia II.

24 Maret 1946, di jalur jalan panjang di bawah ini, ribuan penduduk Bandung berjalan kaki sambil membawa barang seadanya menuju Ciparay dan wilayah2 lain di sebelah selatan kota Bandung yang dianggap lebih aman. Mereka mengungsi dalam kawalan dan panduan Laskar Wanita Indonesia (Laswi), karena itu jalan panjang di bawah itu sekarang bernama Jl. Laswi.

24 Maret 1946, seorang wartawan muda bernama Atje Bastaman sedang berada di Pameungpeuk, Garut. Dari atas Gunung Leutik dia dapat menyaksikan langit kawasan Bandung memerah mulai dari sekitar Cimindi sampai Cicadas.

Atje bergerak ke arah utara. Sampai di Tasikmalaya, ia menulis berita dengan judul “Bandung jadi Lautan Api”. Tulisan ini dimuat dalam Harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946 namun dengan judul yang dipangkas agar muat dalam kolom, menjadi “Bandung Lautan Api”. Mungkin sejak itulah istilah Bandung Lautan Api mulai dikenal.

Di tempat lain, A.H. Nasution dan Rukana, Komandan Polisi Militer Bandung, naik ke sebuah bukit tempat generator listrik di atas Ciparay dan melihat pemandangan api mulai dari Cimahi sampai Ujungberung. Bandung sudah menjadi lautan api.

Itu 70 tahun yang lalu.

Advertisements