Search

mooibandoeng

Senantiasa Belajar Kenal dan Cinta Kota Bandung

Tag

Ciparay

Gedung Kuning, Ciparay

12552270_458906830984006_1176538926_n

Gedung Kuning di sebelah Pasar Ciparay.

Sepulang roadtrip keliling Jawa Barat bagian timur beberapa waktu lalu, saya dkk turun lewat Garut dan Majalaya (jalur Monteng), terakhir mampir di lokasi ini untuk membeli minuman sebelum lanjut pulang ke Buahbatu. Lalu kemarin ada roadtrip lagi keliling beberapa perkebunan di sebelah selatan Bandung, mulai dari wilayah Pangalengan sampai perbatasan Garut dan Ciparay. Kami turun lewat Cikoneng, lagi2 mampir terakhir di lokasi ini.

Mungkin ini kode undangan untuk mapay2 Ciparay dengan sawah dan kebun2nya :-)) .

 

Advertisements

Bale Endah

image

Malam itu saya mampir ke sebuah vila milik keluarga teman di perbukitan Bale Endah. Letaknya agak sukar saya bayangkan sebelumnya. Vila di Bale Endah? Pemandangan apa yang bisa didapatkan dari sana? Sawah? Tambang batu? Atau permukiman padat?

Setelah melewati jalan kecil di perkampungan padat, jalur jalan mulai sepi. Di sisi kanan menjulang tebing yang sudah terbuka oleh penambangan. Lewat sedikit lagi, di atas gawir, di situ letak Villa Batu. Vila modern tiga lantai, masing2 memiliki balkon. Di sekeliling halaman ditanami pohon2 buah. Nyaman.

Letak vila ini sebetulnya membelakangi Kota Bandung. Dari halaman depannya saya mengamati bayangan tebing dan perbukitan di belakangnya. Tentu saja tak banyak yang dapat saya lihat, hanya perkiraan kawasan saja. Di sebelah kanan, di balik kampung, sudah saya ketahui sebuah danau, Situ Sipatahunan. Ke sebelah kiri, di ujung tebing itu lereng landai menurun sampai jalan raya utama Bale Endah.

24 Maret 1946, seorang wartawan muda bernama Atje Bastaman sedang berada di Pameungpeuk, Garut. Dari atas Gunung Leutik dia dapat menyaksikan langit kawasan Bandung memerah mulai dari sekitar Cimindi sampai Cicadas.

Continue reading “Bale Endah”

Kartosoewirjo

image

Gunung Rakutak dilihat dari Kampung Cinenggelan, Pacet.

Akhir pekan lalu @mooibandoeng bersama rekan2 @KomunitasAleut mengadakan perjalanan keliling ke sejumlah perkebunan dan bekas perkebunan di kawasan sebelah selatan Kota Bandung. Perjalanan panjang dan sensasional ditempuh dengan penuh kegembiraan, penuh semangat juga karena menemukan banyak hal baru. Walaupun sudah puluhan kali mengadakan perjalanan serupa ini, ya tetap saja selalu ada hal baru, semangat baru.

Soal kebun mungkin belakangan saja, sekarang mau bagi pemandangan ini saja. Di sore yang sangat cerah itu, kami berhenti tepat di lokasi ini, melihat orang-orang yang bermain bola, mengamati kelompok2 remaja bermotor bolak-balik naik dan turun. Sore itu pemandangan pergunungan di sekeliling kami sangat bagus, bahkan ke arah perbukitan di sebelah utara Kota Bandung terlihat sangat jelas.

Inilah Gunung Rakutak. Bila berjumpa orang-orang tua di sekeliling gunung ini, ada banyak cerita tentang “gerombolan”, cerita seram yang mereka alami saat masih anak-anak. Gunung ini memang pernah jadi konsentrasi terakhir pertahanan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dkk, pemimpin gerakan DI/TII. Masyarakat Jabar sering menyebutnya “gorombolan” karena mereka memang bergerak gerilya dan bersembunyi di hutan gunung secara bergerombol. Untuk mendapatkan makanan dan keperluan sehari2, kelompok ini sering  melakukan aksi “duruk imah” sambil menjarah kampung. Banyak kampung di Priangan yang punya cerita seputar gerakan “gorombolan” ini antara tahun 1950-1962.

Di dalam gubuk, Kartowoewirjo terduduk pasrah. Ara mengajak bicara. Secara aneh Kartosoewirjo mengetahui bahwa istri Ara sedang hamil dan kelak akan melahirkan anak laki2. Ia juga memberikan hadiah sebatang pulpen.

Continue reading “Kartosoewirjo”

Pacet

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Rijstterrassen_in_de_omgeving_van_Patjet_TMnr_60016823

Salah satu uwak saya sudah sangat lama tinggal di Majalaya, dari tahun 1950-an. Dia bekerja sebagai mantri gigi di Rumah Sakit Majalaya. Dulu rumah tinggal uwak adalah rumah dinas rumah sakit yang terletak di halaman belakang. Rumah bergaya kolonial yang dikelilingi halaman rumput yang luas. Di belakang rumah juga ada halaman rumput luas dan sebuah kolam. Bila keluarga besar berkumpul, biasanya kami gelar tikar di situ makan siang bersama. Di dekat kolam ada menara besi tinggi yang di puncaknya terdapat penampungan air. Anak-anak senang memanjati menara itu.

Selain menara, kami juga senang memanjati pohon jambu batu yang batangnya meliuk-liuk sehingga bisa kami duduki. Dari atas pohon terlihat bentangan sawah di balik pagar semak yang membatasi halaman rumah dengan sawah. Di kejauhan membayang jajaran pergunungan, katanya di sana ada satu tempat yang sangat sejuk, nama daerahnya terdengar aneh, Pacet.

2013-08-25 08-10-21-110

Belasan tahun kemudian saya benar-benar punya kesempatan menginjakkan kaki ke Pacet. Saat itu saya sudah punya tambahan sedikit informasi tentang Pacet dan kawasan sekitarnya. Kali pertama menuju Pacet, saya dibuat kagum sepanjang perjalanan mulai dari arah Ciparay. Jalanan terus menanjak dengan pemandangan persawahan yang bertingkat-tingkat di kiri-kanan jalan.

Di lembah sebelah kiri, mengalir sungai Ci Tarum yang penuh dengan sebaran batuan berukuran besar. Di sebelah kanan jalan pemandangan terisi oleh jajaran perbukitan yang termasuk kawasan Arjasari. Pada masa Hindia Belanda, di Arjasari terdapat perkebunan teh yang cukup luas yang dikelola oleh salah satu perintis Preangerplanters, Rudolf A. Kerkhoven (1820-1890). Continue reading “Pacet”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑