12547688_963925200362755_480398114_n

Benda Cagar Budaya Rumah Bekas Tahanan Bung Hatta dan Sjahrir.
Sukabumi.
_______

Ke mana kita dibawa oleh nasib, ke mana kita dibuang oleh yang berkuasa, tiap-tiap bidang tanah dalam Indonesia ini, itulah juga Tanah Air kita. Teluk yang molek dan telaga yang permai, gunung yang tinggi dan lurah yang dalam, rimba belantara dan hutan yang gelap, ataupun pulau yang sunyi serta pun padang yang lengang, semua itu bagian Tanah air yang sama kita cintai. Semuanya itu tidak boleh asing bagi kita. Dan kita bersedia menempuhnya satu persatu, di mana perlu.
. . .
Di atas segala lapangan Tanah Air aku hidup, aku gembira.
Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang tersimpan dalam dadaku.
. . .

Hatta, 1934.
_________

Hatta dan Sjahrir menumpang pesawat Catalina ke Surabaya, lalu menyambung dengan kereta api ke Jakarta, esoknya dilanjutkan dengan pengawalan ketat Polisi Hindia Belanda ke Sukabumi. Di sini Hatta dan Sjahrir menempati sebuah rumah inspektur polisi buatan tahun 1926, letaknya di dalam komplek Sekolah Polisi Sukabumi.

Februari 1942.
Situasi Perang Pasifik membuat Belanda agak kelabakan. Mereka memindahkan orang-orang buangan. Yang di Digul mereka pindahkan ke Australia. Iwa Kusumasumantri dan Tjito Mangoenkoesoemo sudah dipindah ke Makassar. Hatta dan Sjahrir dipindah dari Bandaneira ke Sukabumi. Tjipto kemudian juga dipindahkan ke Sukabumi.

1 Februari 1942
Hatta dan Sjahrir menumpang pesawat Catalina ke Surabaya, lalu menyambung dengan kereta api ke Jakarta, esoknya dilanjutkan dengan pengawalan ketat Polisi Hindia Belanda ke Sukabumi. Di sini Hatta dan Sjahrir menempati sebuah rumah inspektur polisi buatan tahun 1926, letaknya di dalam komplek Sekolah Polisi Sukabumi.

Hatta dan Sjahrir menempati dua bangunan berbeda yang dipisahkan oleh dapur dan kamar mandi. Di sini mereka tinggal selama 3,5 bulan.
Tokoh pergerakan lain seperti Amir Sjarifuddin pernah mengunjungi Hatta ke rumah buangan ini. Amir menyarankan agar Hatta-Sjahrir terbang ke luar negeri. Hatta menyetujui, asal biaya perjalanan ditanggung oleh pergerakan rakyat. Sjahrir menolak meninggalkan Indonesia.

9 Maret 1942, pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang.
21 Maret 1942 Hatta dan Sjahrir meninggalkan rumah buangan ini.

_________

Advertisements