Lanjutan kisah Roman Rasia Bandoeng oleh Lina Nursanty.

SATU per satu tokoh dalam novel roman Rasia Bandoeng terungkap. Setelah hampir satu abad sejak pertama kali novel itu diterbitkan pada awal abad 20, cucu dan cicit para tokoh bermunculan. Mereka mencari asal usul leluhurnya melalui kepingan cerita dalam novel. Dendam lama yang diceritakan dalam novel pun telah terkubur seiring dengan perkembangan zaman. Yang tersisa adalah sebuah cerita roman yang berakhir tragis bagi Hermine Tan.

Dalam bukunya yang berjudul Women and Malay Voices. Undercurrent Murmurings in Indonesia’s Colonial Past, Tineke Hellwig secara hati-hati mencoba memisahkan pembahasan sosok Hermine asli dengan sosok Hermine dalam novel. Ia juga menyatakan simpati kepada Hermine yang dianggapnya sebagai korban dari novelis patriarkat yang tega mengumbar kehidupan pribadi dan bahkan hingga membentuk opini publik yang merugikan nama Hermine. Hingga akhir hayatnya, Hermine tidak terbuka meski kepada anak-anaknya mengenai cerita ini. Oleh karena itu, Tineke menyatakan bahwa pemaparannya mengenai sosok Hermine dalam buku itu tidak mungkin seakurat kenyataan yang dialami Hermine.

Hermine Tan atau Tan Giok Nio adalah wanita Tionghoa peranakan yang lahir di Salatiga, 28 September 1898 dan meninggal pada tahun 1957. Keluarganya hijrah ke Bandung saat usianya masih balita dan tinggal di Jalan Kebonjati. Ia dididik secara modern di sekolah Belanda. Selain mahir Bahasa Belanda, gaya hidup Hermine juga sangat mirip dengan perempuan Barat. Ketika sepeda masih menjadi barang langka dan mahal, Hermine telah memilikinya. Tak seperti perempuan Timur lainnya pada masa itu, Hermine bergerak leluasa main sepeda di jalanan Kota Bandung.

Hermine Tan bersama Tan Tjeng Hoe dan puterinya, Vicky. Foto dikutip dari buku Women and Malay Voices. Undercurrent Murmurings in Indonesia’s Colonial Past, karya Tineke Hellwig.

Pada usia ke-15, ia jatuh cinta kepada Tan Tjeng Hoe yang tinggal di Jalan Cibadak. Mereka kerap berduaan di Pieterspark (terletak di Jalan Banceuy) dan menonton pertunjukkan di Braga. Kisah cinta mereka ditentang keluarga, terutama keluarga Hermine, karena mereka berasal dari she (marga) yang sama, yaitu she Tan. Mereka akhirnya kawin lari pada tahun 1917 dan lari ke Makassar dan lalu menikah di Singapura.

Ketika Hermine hamil tua, mereka kembali ke Cirebon dan melahirkan anak perempuan yang dinamai Victorine atau Vicky. Setahun kemudian, Hermine melahirkan anak kedua, yang bernama Maud. Ketika mengandung Maud itulah, Tan Tjeng Hoe meninggal dunia pada tahun 1919. Saat itu, tak mungkin bagi Hermine untuk kembali ke orangtuanya di Bandung. Maka, ia bekerja keras sendirian membesarkan kedua anaknya.

Melalui jaringan misionaris Belanda, ia berkenalan dengan seorang pria Belanda bernama Emil Verduyn Lunel. Lagi-lagi, pernikahan ini tidak direstui ayahnya, Tan Djin Gie. Bagi dia, pernikahan dengan kalangan nonTionghoa bahkan lebih buruk ketimbang pernikahan dengan satu marga Tionghoa.

Bersama Lunel, Hermine melahirkan empat anak, yaitu Lydia, Hugo, Marius, dan Margot. Karena lobi yang dilakukan ayah Hermine, Lunel akhirnya dikeluarkan dari pekerjaannya di Escompto Bank. Keluarga ini akhirnya hijrah ke Yogyakarta selama delapan tahun. Setelah itu, mereka kembali ke Bandung di mana Lunel membuka usaha bengkel mobil dan Hermine melayani jasa menjahit.

Lunel meninggal sebagai tawanan Jepang pada kurun waktu tahun 1942-1945, akibatnya Hermine menjadi janda perang. Pada tahun 1946, Hermine memilih pergi ke Belanda ketika terjadi gelombang pemulangan orang-orang Belanda pascarevolusi kemerdekaan. Di Negeri Kincir Angin inilah, Hermine tutup usia pada tahun 1957.

Sementara, berdasarkan informasi dari Charles Subrata (keponakan Tan Tjeng Hoe atau cucu Tan Sim Tjong), pamannya itu dimakamkan di TPU Pajajaran yang berlokasi di seberang sekolah Wyata Guna. Namun, makam ini sekarang sudah beralihfungsi menjadi GOR Pajajaran. Makam Tan Tjeng Hoe dipindah ke TPU Cikutra. “Adik Tjeng Hoe, Tan Keng Nio sewaktu masih hidup pernah ziarah kesana dan menemukan makamnya. Hal ini dikonfirmasi oleh kakak saya,” kata Charles.
Kendati artikel ini akan segera berakhir, namun proses penelusuran yang dilakukan Charles, Bambang, Adji, dan Wisnu akan terus bergulir. Redaksi PR juga menerima beberapa informasi baru terkait hal ini dari pembaca yang budiman. Salah satunya, yaitu dr. Benjamin Tanuwihardja yang melakukan penelusuran hingga ke Nanjing di Tiongkok. Nantikan kisah selanjutnya…

Advertisements