Setelah kunjungan terakhir pada bulan November 2014, hari Rabu, 5 Maret 2015, saya kembali ke Cadas Gedogan atau yang sekarang menjadi terkenal dengan nama Tebing Keraton. Kunjungan kali ini untuk keperluan sebuah program televisi, Dua Dunia dari Trans7. Belakangan ini saya beberapa kali diminta tim program ini menjadi narasumber untuk liputan beberapa lokasi di sekitar Bandung.

Menjadi nara sumber program semacam Dua Dunia kadang punya kesusahannya sendiri, beberapa kali saya minta menceritakan latar sejarah suatu lokasi yang justru tidak punya catatan sejarah. Dalam hal ini yang saya maksud bukanlah sejarah alam atau sejarah geologi lingkungan alam tertentu, karena pertanyaan yang diberikan pun tidak secara khusus mengarah ke sana. Akhirnya saya harus banyak-banyak mengumpulkan cerita yang beredar di dalam masyarakat.

Siang ini jalan menuju Tebing Keraton tidak terlalu ramai. Di pertigaan jalan setelah Warung Bandrek, dua mobil kami dicegat oleh sekelompok orang. Mereka meminta agar kami memarkirkan mobil di lokasi pertigaan itu dan melanjutkan perjalanan dengan menyewa ojeg mereka. Tentu saja permintaan ini agak merepotkan karena kami membawa perlengkapan yang tidak ringan dan tidak mudah dibawa dengan menggunakan motor. Apalagi malam sebelumnya tim kami sudah survei ke lokasi sambil mengurus izin untuk kegiatan rekaman gambar hari ini. Setelah kami menjelaskan ini, akhirnya kedua mobil kami diperkenankan untuk jalan terus menuju Tebing Keraton.

Sebelum masuk kompleks parkiran, kami dicegat lagi oleh petugas yang menagih uang masuk kendaraan, 5 ribu rupiah untuk motor dan 10 ribu rupiah untuk mobil. Setelah itu kami menuju lokasi parkir kendaraan. Kami mempersiapkan perlengkapan untuk dibawa ke lokasi rekaman, kemudian berjalan turun ke arah pintu masuk Tebing Keraton. Di sini ada tiket masuk yang harus kami bayar, 11 ribu untuk wisatawan Nusantara dan 76 ribu untuk wisatawan mancanegara. Ada juga biaya bila mengadakan sesi foto prewedding, 200 ribu rupiah.

Tebing-1

Tebing-2B

Suasana sekitar Tebing Keraton sudah banyak berubah, sekarang tampak lebih rapi. Sepanjang bibir tebing sudah diberi pagar dan terdapat plang-plang yang menyebutkan agar pengunjung selalu berhati-hati. Permukaan tanah sudah rapi dan rata, untuk jalur jalan diberi pijakan-pijakan dari batu andesit. Beberapa tonjolan batu berukuran besar di permukaan tanah tetap dibiarkan sesuai aslinya. Selain jalan setapak utama, dibuatkan juga jalur jalan setapak lain sebagai alternatif.

Di ujung tebing yang menjorok sudah ada beberapa kelompok pengunjung berkumpul dan sibuk membuat foto-foto, di antaranya satu kelompok yang membawa cukup banyak kamera foto dan tripod berukuran besar. Beberapa pengunjung lain terlihat melompati pagar untuk turun ke bawah tebing. Sebenarnya cukup berbahaya mengingat di bawah tebing ini adalah jurang yang cukup dalam. Di sisi lain, situasi bebatuan yang menonjol di permukaan tebing memang cukup mengundang rasa penasaran untuk dijejaki, apalagi pemandangan dari arah bebatuan itu memang lebih terbuka dan lebih bebas. Bagaimanapun, saya rasa sebaiknya ada cara pengamanan lain yang harusnya disiapkan untuk menjaga kondisi ini agar tetap aman, bahayanya terlalu besar.

Kembali ke Dua Dunia, sebenanya tak banyak yang dapat saya ceritakan di sini selain mengutip cerita-cerita yang terus berkembang di dalam masyarakat. Kaitan nama Cadas Gedogan, nama lama Tebing Keraton, yang dikaitkan dengan kandang atau tambatan kuda. Tentunya bukan sembarang kuda, karena kuda ini adalah kendaraan kerajaan mahluk halus yang konon terletak di bawah tebing. DI bagian bawah tebing juga terdapat sebuah curug kecil yang berhubungan dengan kuda, Curug Cikiihkuda (kencing kuda). Cerita lainnya berhubungan dengan pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa di bawah lokasi tebing ini terdapat petilasan prabu dari kerajaan Sunda kuno. Tidak jelas apakah lokasi atau sisa petilasan itu benar-benar ada atau hanya perkiraan selewat saja.

Walaupun serba tidak jelas, tapi di dekat tebing ini memang terdapat beberapa lokasi keramat yang berisi makam. Salah satunya berada di Maribaya, dari ketinggian Tebing Keraton, makam ini dapat terlihat berada di puncak sebuah bukit, warga menyebutnya Gunung Masigit. Konon makam ini masih sering dikunjungi orang yang ingin bertapa atau mencari peruntungan. Makam lainnya berada di belakang Kampung Puncak. Di sini terdapat dua buah makam tua tanpa nama. Pada masing-masing nisan terdapat guratan atau simbol yang tidak saya ketahui artinya. Ini pertama kalinya saya melihat guratan semacam itu pada nisan. Pemilik lahan yang saya tanyai pun tidak mengetahuinya walaupun beliau mengaku masih keturunan dari tokoh yang dimakamkan itu.

Tebing-3B     Tebing-4C

Sedikit sekali keterangan tentang siapa yang dimakamkan di situ, selain bahwa nama atau julukannya adalah Ma Ageung atau Mbah Ageung beserta istrinya. Pasangan ini adalah orang pertama yang membuka kawasan di atas tebing ini, pendiri kampung. Dari seorang ibu warung, saya dapatkan nama alias Ma Ageung, yaitu Mbah Gendol. Menurutnya banyak orang yang datang berziarah ke makam itu.

Belum lama ini, katanya, seorang warga dari Babakan Sembung di Bandung datang menggedor rumahnya malam-malam meminta ditunjukkan letak makam. Konon ia bermimpi dan mendapat petunjuk untuk mengunjungi makam ini dan agar segera memeriksa bokor sajen yang terdapat di depan nisan. Menurut Ibu Warung, pria ini mendapatkan sesuatu dari bawah bokor tersebut. Entah apa yang didapatkan pria itu, ia tidak menunjukkannya. Selain pria dari Babakan Sembung ini masih banyak orang lain yang datang dari jauh untuk sekadar berziarah ke makam Ma Ageung. Semuanya mengaku mendapatkan petunjuk dari mimpi. Entahlah…

Yang cukup menarik buat saya sendiri adalah cerita selewat dari pemilik lahan, bahwa konon Ma Ageung ini berhubungan adik-kakak dengan makam di Buniwangi dan di Pasanggrahan. Kedua makam yang disebut belakangan ini juga dikenal sebagai makam-makam keramat, bahkan Buniwangi sering disebut sebagai makam tertua di kawasan Bandung. Tentang makam Buniwangi ada disebutkan di bagian pembukaan buku karya Haryoto Kunto, “Semerbak Bunga di Bandung Raya.”

Makam-makam dan cerita rakyat memang selalu menarik perhatian saya, sama sekali bukan karena cerita-cerita mistis atau kekuatan gaib, melainkan karena mereka menyimpan cerita tentang kehidupan masa lalu. Saat ini masih terbatas cerita yang dapat digali, tapi suatu waktu kelak, pasti lebih banyak lagi yang dapat digali dari keberadaan makam-makam tua ini berikut dongeng-dongeng yang menyertainya.

Advertisements