Bandung - Jalan Braga (Toko Van Dorp)

1.     N.V.G.C.T. van Dorp & Co.

Toko buku van Dorp dibangun tahun 1922 dengan arsitektur bergaya indo-europeeschen architectuur stijl hasil rancangan arsitek Ir. C.P. Wolff Schoemaker. Dua buah kepala kala menghiasi bagian atas gedung van Dorp seperti yang juga terdapat di gedung bioskop Majestic di Bragaweg. Hiasan kepala kala dapat dikatakan sebagai tanda-tangannya Schoemaker. Bangunan bekas van Dorp saat ini tidak banyak mengalami perubahan sejak didirikan. Semua ornamen masih tampak utuh, demikian juga arcade di bagian depannya.

Toko buku van Dorp sangat terkenal di Bandung masa kolonial dulu. Toko yang berpusat di Batavia ini memiliki jaringan di Bandung, Semarang, dan Surabaya, dengan distribusi ke seluruh wilayah Hindia Belanda. Sejak awal dibuka sudah berfungsi sebagai toko buku dan berlangsung sampai tahun 1972. Kemudian cukup lama dibiarkan kosong hingga tahun 1980-an dijadikan rumah bilyar dan lantai duanya dijadikan bioskop POP. Saat ini bekas van Dorp dijadikan gedung pameran dengan nama Landmark Convention Centre sedang di bagian atasnya beroperasi sebuah night-club/diskotek.

Pada awal tahun 1940-an, toko van Dorp pernah menerbitkan sebuah buku botani berjudul “Indische Tuinbloemen”. Buku ini disusun oleh M.L.A. Bruggeman, botanikus pengelola Kebun Raya Bogor, dengan Ojong Soerjadi sebagai ilustrator. “Indische Tuinbloemen” memuat 107 kolom kosong dengan keterangan nama bunga di bawahnya. Untuk mengisi kolom kosong itu kita dapat menyicil membeli koleksi gambarnya. Setiap membeli sebuah gambar bunga tertentu, pembeli akan mendapatkan juga bibit tanaman bunga yang bersangkutan lengkap dengan potnya. Dengan begitu, van Dorp juga telah berperan mengajak warga Bandung untuk menjadi para penanam bunga.

Dalam satu bulan pertama setelah penerbitan buku “Indische Tuinbloemen”, van Dorp telah menjual sekitar satu juta tanaman bunga beserta potnya akibat permintaan pelanggan yang antusias. Untuk kebutuhan bunga saat itu mudah saja, karena kawasan di seberang van Dorp adalah sebuah pasar bunga yang besar dan ramai. Ini adalah pasar bunga lama sebelum dipindahkan ke Wastukancana.

Pada masa kolonial van Dorp juga menjadi terkenal karena berhasil menjual ensiklopedia “Winkler Prins” yang terdiri dari 16 jilid sebanyak 2000 jilid! Pernah pula van Dorp menjual setengah dari oplah total buku “De Geschiedenis van Nederlandsch Indie” karya D.F.W. Stapel yang terdiri dari 5 jilid (Amsterdam, 1938-1940).

2.     A.C. Nix & Co.

Penerbit lain yang cukup produktif dan memiliki ruang pajang untuk penjualan buku-bukunya adalah A.C. Nix & Co. Penerbit ini banyak menerbitkan buku-buku tentang Hindia Belanda, di antaranya “Indie in den Gouden Tijd” karya penyiar NIROM, Victor Ido. Penerbit A.C. Nix tahun 1950-an berubah nama menjadi N.V. Masa Baru dan akhirnya N.V. Ganaco yang sangat terkenal hingga mempunyai cabang di Amsterdam. Penerbit dan toko buku ini terletak di Landraadweg. Penerbit ini sempat beralamat di Naripanweg No 1 pada masa awal operasinya.

DSC03700

Prawirawinata

3.     M.I. Prawira-Winata (M.J. Prawira-Winata)

Toko buku M.I. Prawira-Winata adalah toko buku pertama yang dimiliki oleh pribumi. Didirikan tahun 1920-an dan beroperasi sampai sekitar tahun 1936. Dari sinilah buku-buku sunda diperkenalkan. Selain sebagai toko buku, Prawira-Winata juga mendirikan penerbitan di Katja-Katja Wetanweg. Buku-buku terbitannya yang terkenal “Wawatjan Roesiah noe Kasep” dan “Wawatjan Roesiah noe Geulis” yang diterbitkan tahun 1920-an. Ia juga menulis bukunya sendiri, di antaranya “Wawatjan Enden Sari Banon” dan “Tjarios Istri Rajoengan” (1923) yang ditulisnya bersama Memed Sastra-Hadi Prawira.

Prawira-Winata dikenal ramah terhadap pengunjung tokonya. Ia juga menjunjung tinggi hak cipta dari setiap buku yang diterbitkannya. Pada setiap buku yang diterbitkan dan dipajang di tokonya, selalu tertulis kalimat  anoe gadoeh hak kana ieu boekoe dan noe sanes teu kenging njitak, disengker koe Staatsblad 1912 No. 600 art. 11. Dalam setiap buku yang diterbitkannya Prawira-Winata selalu memasang foto dirinya serta melampirkan selembar kertas bertuliskan nama tokonya sebagai suatu trade-mark. Selain menjual buku-buku cerita roman dan humor, toko buku ini juga menjual buku-buku ajar bahasa Sunda yang menjadi buku wajib di sekolah. Prawira-Winata juga melakukan promosi tokonya secara rutin dalam harian Sipatahoenan.

Gedung bekas toko buku dan perputakaan M.I. Prawira-Winata di Oudehospitalweg dibeli oleh Pension van Rhijn yang memperluas hotelnya pada tahun 1936. Bagian hotel baru ini kemudian dinamakan Pension van Rhijn II dan bagian hotel lamanya yang didirikan tahun 1929 sebagai Pension van Rhijn I. Setelah masa kemerdekaan, bekas Pension van Rhijn diubah namanya menjadi Hotel Astoria dan kemudian berganti lagi menjadi Hotel Istana I & II. Sejak tahun 1990-an nama hotel sudah menjadi Royal Palace.

Kolff.jpg_effected

4.      G. Kolff & Co.

Pada dekade awal abad 20, penerbit dan toko buku G. Kolff & Co. terlihat berada di gedung Rathkamp. Percetakan dan penerbit ini menyewa salah satu toko di bagian yang paling utara. Alamat lain yang lebih populer adalah di Groote Postweg.

 COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Kantoor_van_De_Vries_en_Fabricius_aan_de_Groote_Postweg_Bandoeng_TMnr_60022660

5.      Klaas de Vries & Jan Fabricius

Penerbit buku milik Klaas de Vries dan Jan Fabricius (sastrawan, wartawan koran Preangerbode), menerbitkan buku “Geschiedenis der Preanger Regentschappen, Kort Overzigt” karya R.A Kern pada tahun 1898. Gedung toko buku dan penerbit ini terletak bersebelahan dengan toko de Vries lama yang dirombak pada tahun 1909 dengan arsitektur baru bergaya oud indisch stijl hasil rancangan Edward Cuypers. Bangunan de Vries kemudian dirombak lagi pada tahun 1920 menjadi bentuknya seperti yang masih dapat dilihat sekarang. Di kompleks bangunan yang sama juga terdapat sebuah toko buku lainnya yang khusus menjual-beli buku-buku bekas, De Boekenbeurs, milik L.A. Lezer.

Visser

visser & co.jpg_effected

6.      Visser & Co.

Visser & Co. yang terletak di Groote Postweg adalah badan usaha di bidang percetakan dan penerbitan. Bangunan yang sekarang masih berdiri merupakan hasil perombakan dari bangunan sebelumnya yang memiliki gaya arsitektur Eropa yang lebih kuno dan setipe dengan Vorkink. Pada saat diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika 1955, atap bangunan toko Visser diserbu masyarakat yang ingin menyaksikan kedatangan para delegasi saat itu dengan cara memanjatnya. Setelah masa kemerdekaan toko Visser berubah nama menjadi Karya Nusantara. Sekarang penerbit dan toko buku ini sudah tidak ada lagi.

Toko Vorkink yang paling kanan. Gedung ketiga dari kiri adalah Toko Visser.
Toko Vorkink yang paling kanan. Gedung ketiga dari kiri adalah Toko Visser.

7.      N.V. Mij. Vorkink (Sumur Bandung)

Penerbit dan percetakan Vorkink mulai dibuka pada tahun 1896 di Groote Postweg.  Pada tahun yang sama, perusahaan ini menerbitkan koran pertama di Bandung, yaitu De Preangerbode. Bangunan awalnya dirombak pada tahun 1910 menjadi bangunan megah bergaya Eropa. Toko buku Vorkink kemudian berubah menjadi toko buku Sumur Bandung setelah masa kemerdekaan. Nama ini dipilih mungkin karena di dekat gedungnya terletak dua buah sumur legendaris, Sumur Bandung, yang masing-masing berada di belakang Vorkink dan satu lagi di belakang kantor PLN.

Sejumlah buku yang pernah diterbitkan oleh Vorkink adalah “Gids van Bandoengen Omstreken” (S.A. Reitsma & W.H. Hoogland, 1921), ”Gedenkboek MOSVIA 1879-1929” (1929), “Braga en de Bragaweg” (W.H.Hoogland, 1957), “Gedenkboek Toneelvereeniging Braga 1892-1957” (J.P. Verhoek, 1957), dll. Sebagai Sumur Bandung, buku terbitannya antara lain “Saumur Jagong” (Sjarif Amin, 1983), “Perjoangan Paguyuban Pasundan 1914-1942” (Sjarif Amin, 1984), “Upacara Adat di Pasundan” (R. Akip Prawira Soeganda, 1964), dll.

Pada tahun 1926 radio pertama di Bandung, Bandoengsche Radio Vereeniging (BRV) melakukan siarannya di lantai dua gedung Vorkink. Namun radio ini hanya berjalan selama tiga tahun karena mengalami kesulitan pendanaan. BRV lalu diambil alih NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij).

 

Toko-toko buku lainnya :

Aurora Gardoedjatiweg 40
Boen Hwa Tjikakak 69
CV. Ganaco Perintis Kemerdekaan
CV. Remaja Karya
De Boekenbeurs, L.A. Lezer, 2de handsch boekhandel Groote Postweg t/o
Dunlop & Kolff (makelaars) Groote Postweg 55 naast Nillmij
Gebroeders Kleijne & Co. Katja-katja Wetan
Gembala Islam Gang Pakgade
J.H. Seelig en Zoon Bragaweg
J.K. de Boer Jr. Burgermeester Kuhrweg
Kaoem Moeda Groote Postweg
Minerva Merdikaweg 13
N.V. Christelijke Boekhandel voor Nederlandsch Indië Soeniaradjaweg 41a-43
N.V. Handelsmij Groote Postweg West 92
N.V. Mascotte Groote Postweg Oost
Nikko Japansch Fotograaf Groote Postweg 10
Post & Telegraafkantoor Groote Postweg 47
Sidho Redjo Koffiebranderij Groote Postweg West 173
Sluyters & Co. Groote Postweg 64
TB. Alma Arif Tamblong
TB. Alumni Dago
TB. Angkasa Merdeka
TB. Antariksa Dago
TB. Dahlan Otista
TB. Elvira Imam Bonjol/Dago
TB. Hap Tjiang Groote Postweg 16
TB. Indira Bragaweg
TB. Insulinde Otista
TB. Intervarsity Braga
TB. Lucu Sunda
TB. Malabar Otista
TB. Maranatha Ciateul 148
TB. Pionir Swarha
TB. Redjo Cipunegara
TB. Scientific Braga
TB. Singgalang Karapitan
TB. Tong Bie, Groote Postweg 6
TB. Venus Pasirkaliki 44
Tjijoda Groote Postweg 21
Toko de Zon Groote Postweg Oost

Ensiklopedia Winkler Prins koleksi kakek di Pematang Siantar.
Ensiklopedia Winkler Prins koleksi kakek di Pematang Siantar.
Salah satu novel Sunda paling awal.
Salah satu novel Sunda paling awal.
Salah satu buku album koleksi selain Indische Tuinbloemen. Buku semacam ini ada juga yang koleksi berbagai jenis tanaman lain sampai jenis-jenis fauna.
Salah satu buku album koleksi selain Indische Tuinbloemen. Buku semacam ini ada juga yang koleksi berbagai jenis tanaman lain sampai jenis-jenis fauna.
M.I. Prawira-Winata
M.I. Prawira-Winata

Foto-foto lama koleksi Tropen Museum.

Advertisements