Search

mooibandoeng

Senantiasa Belajar Kenal dan Cinta Kota Bandung

Tag

Pikiran Rakyat

Tan Sim Tjong (1)

Berikut ini serial penelusuran tokoh Tan Sim Tjong yang ditulis oleh rekan saya dan sudah dimuat bersambung di HU Pikiran Rakyat

Bagian Pertama:

Telusur Silsilah Melalui Roman

MENJELANG Imlek lalu, Pikiran Rakyat mengulas sebuah roman Tionghoa yang menceritakan perkawinan satu marga (she) di Bandung pada tahun 1917. Roman berjudul Rasia Bandoeng yang ditulis oleh Chabbaneau itu mengisahkan drama percintaan antara Tan Tjin Hiauw dan Tan Gong Nio. Satu abad berlalu, roman tersebut ternyata menyisakan sebuah cerita nyata bagi turunan keluarga Tan Sim Tjong.

Adalah Charles Subrata, Bambang Tjahjadi, Wishnu Tjahyadi, Adji Dharmadji, dan dr. Benjamin J. Tanuwihardja, SpP, FCCP yang kemudian berkumpul di Kantor Redaksi Pikiran Rakyat pada Jumat (3/4/2015). Mereka adalah cucu dan cicit Tan Sim Tjong yang telah puluhan tahun tinggal berpencar. Charles bermukim di Belanda, Bambang di Jerman, Adji di Jakarta, Wishnu di Bekasi, dan Benjamin di Bandung. Turut pula Tjandra Suherman sebagai penerjemah Bahasa Tionghoa. Atas bantuan Direktur Pusat Studi Diaspora Tionghoa, Sugiri Kustedja, mereka berkumpul mengonfirmasi cerita demi penelusuran silsilah keluarga. Continue reading “Tan Sim Tjong (1)”

Kawin Semarga di Bandung Baheula – Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (1)

Berikut ini saya muatkan artikel bersambung tulisan rekan saya, Lina Nursanty, yang membahas sebuah roman baheula dengan latar cerita Kota Bandung di awal abad ke-20.
Selamat membaca!

Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (1)

Kawin Semarga di Bandung Baheula

Pengantar:
Roman lahir untuk melukiskan perbuatan, watak, dan isi jiwa sang tokoh yang lebih banyak membawa sifat-sifat zaman. “Rasia Bandoeng” yang ditulis Chabanneau pada 1917 memotret kehidupan masyarakat Tionghoa di Bandung awal abad ke-20. Memperingati Tahun Baru Imlek 2566, wartawati Pikiran Rakyat, Lina Nursanty, membahas roman yang hampir satu abad itu. Selamat membaca.

Capture-1
Cuplikan pemuatan artikel ini (bagian 1) di HU Pikiran Rakyat, Selasa, 17 Februari 2015. Continue reading “Kawin Semarga di Bandung Baheula – Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (1)”

Jalan-jalan ke Gunung Lalakon (Soreang) dan Gunung Sadahurip (Garut)

Daripada hilang di rimba facebook, baik juga catatan ini dihadirkan lagi di sini buat panduan yang ingin jalan-jalan ngabuburit atau cari jodoh 🙂

Nama pasangan Hans Berekoven dan Rozeline Berekoven, mulai mencuat saat diselenggarakannya Konferensi Internasional Alam, Falsafah, dan Budaya Sunda Kuno di Hotel Salak, Bogor, pada 25-27 Oktober 2011 lalu. Kehadiran pasangan berkebangsaan Australia ini dalam konferensi tersebut tentu saja mempunyai alasan. Beberapa tahun lalu, Hans & Roz memboyong keluarganya berlayar dari Fremantle ke Bali dengan membawa mimpi besar, menguak sejarah purba peradaban Nusantara melalui sebuah ekspedisi kelautan.

Hans menyimpan sebuah dugaan besar tentang masa lalu, terutama pada Zaman Es. Pada puncak zaman itu sebagian besar Eropa Utara tertutup lapisan es tebal, sebagian di antaranya mencapai ketebalan hingga 2000 meter. Level air di dunia saat itu berada hingga 150 meter lebih rendah daripada keadaan sekarang. Artinya, wilayah Laut Cina Selatan dan Laut Jawa pada masa itu terekspos menjadi lahan kering yang datar dan luas. Pada saat itu terjadi migrasi manusia yang sebelumnya meninggali Benua Asia menuju Zona Tropis di bagian selatan, yaitu di wilayah Indonesia sekarang.

Hans beranggapan, saat itu, wilayah Paparan Sunda merupakan permukiman terbaik yang ada di dunia. Dengan begitu, sekaligus juga merupakan lokasi utama bagi akar peradaban. Walaupun Hans tidak menolak kepercayaan umum bahwa budaya pertanian dan peternakan dimulai sekitar 8000-10,000 tahun yang lalu, namun dia juga mengajukan pertimbangan bahwa bisa saja hal itu sudah terjadi 6000 tahun sebelumnya. Para pengumpul dan pemburu yang bermigrasi ke wilayah selatan memicu tumbuhnya budaya pertanian dan peternakan di sini. Sekarang memang sulit untuk mendapatkan buktinya, tapi hans memiliki alasan, katanya, “Kita tidak menemukan buktinya karena kita hanya mencari buktinya di daratan. Padahal bukti itu kini berada di bawah air.”

Hans yakin bahwa pencarian jejak-jejak peradaban kuno mesti dilakukan di lembah-lembah dan delta-delta sungai kuno yang kini terkubur di bawah lapisan lumpur di kedalaman 40 sampai 60 meter di Laut Jawa. Untuk mencarinya diperlukan pemindai sonar dan kapal selam mini yang dapat dioperasikan dengan remote control, dan tentunya peralatan selam. Hans yakin di bawah sana akan ada gundukan-gundukan yang tidak alamiah sisa peradaban purba tersebut.

Ridwan Gunung Lalakon & Sadahurip-1    Ridwan Gunung Lalakon & Sadahurip-2

Hans adalah seorang mantan kapten kapal survey kelautan di Australia. Ia bersama istrinya memiliki sebuah properti seluas 1200 hektare bernama Kangaroo Camp di Bombala. Di sini mereka membangun rumah tinggal dan kompleks perkebunan anggur tertinggi di Australia. Produksi wol halus mereka termasuk yang terbaik di Australia. Hingga 2005 pasangan ini telah mendapatkan 3 buah penghargaan untuk keunggulan di bidang pariwisata.

Namun demi mewujudkan mimpi mereka, semua properti itu mereka sewakan kepada pihak lain, serta menjual 2000 wol halus agar dapat membeli kapal laut kecil berukuran panjang 19 meter yang dinamai Southern Sun. Biaya ini juga mereka perlukan untuk mengawali ekspedisi arkeologi kelautan Paparan Sunda yang sudah memenuhi benak mereka. Maka pada tahun 2005 berangkatlah keluarga ini menuju Bali sebagai basecamp pertama mereka.

Selanjutnya adalah mengurus perizinan penelitian kelautan kepada pemerintah Indonesia. Upaya ini rupanya tidak berjalan mulus. Proses perizinan berlangsung hingga dua tahun dan tampaknya jalan sukar sudah di depan mata, pemerintah Indonesia menerapkan persyaratan yang terlalu besar untuk dapat mereka biayai, sehingga akhirnya ekspedisi ini mereka tangguhkan dulu untuk sementara.

Sementara itu, Hans & Roz sudah membawa Southern Sun untuk bermarkas di Miri, Sarawak. Di sini mereka menggunakan sebagian besar waktu untuk mencari sejumlah sisa kapal perang yang tenggelam saat Perang Dunia II. Di lepas pantai Kalimantan mereka menemukan kembali kapal penghancur Sagiri, milik Jepang, yang tenggelam karena kecelakaan di dekat kota Kuching. Dengan pemindai sonar, mereka mengenali bentuk kapal ini. Hans menyelam dan menemukan bangkai kapal lengkap dengan torpedonya dalam tabung.

Ridwan Gunung Lalakon & Sadahurip-3

Gunung Lalakon
Dua hari penuh (13-14 November 2011) bersama pasangan Hans & Roz, saya tidak terlalu banyak mendengarkan perbincangan mereka tentang Atlantis. Hanya sesekali saja Roz terdengar mengucapkan sesuatu tentang Atlantis atau Lemuria. Dua hari ini, melalui permintaan seorang teman, saya bertugas menemani Hans & Roz untuk kunjungan ke Gunung Lalakon di Soreang, dan Gunung Sadahurip di Wanaraja, Garut. Kedua gunung ini, terutama Gunung Lalakon, belakangan ini memang santer diberitakan berkait dengan dugaan sementara orang tentang kemungkinan hubungannya dengan Atlantis.

Awalnya adalah kelompok peminat peradaban kuno, Turangga Seta, yang membuat dugaan ini. Entah bagaimana kelompok ini bisa menemukan kedua gunung tersebut, namun tim dari kelompok ini sempat mengadakan penelitian ilmiah ke Gunung Lalakon dan melakukan uji geolistrik dibantu beberapa ilmuwan dari LIPI dan BPPT. Dari hasil uji itu, mereka lalu mengadakan penggalian dan menemukan struktur bebatuan yang tersusun rapi dengan kemiringan 30 derajat di kedalaman 1-4 meter. Bebatuan membrojong ini dianggap sebagai bagian dari piramida yang sekarang sudah terkubur menjadi gunung.

Penemuan Gunung Lalakon dengan cerita Atlantisnya memang menimbulkan kontroversi cukup hangat di media massa maupun jaringan dunia maya atau internet. Tak kurang dari HU Pikiran Rakyat hingga VIVANews turut memberitakannya. Berdasarkan pengalaman saya mencari tahu fenomena ini melalui internet, ternyata lebih banyak tulisan yang lebih bersifat mendukung daripada membantah fenomena piramida di Gunung Lalakon. Tentu saja fakta ini tidak lantas menjadi ukuran kebenaran bagi salah satu pihak, namun paling tidak, bagi saya, dapat menunjukkan kecenderungan tertentu yang sedang berlangsung di dalam masyarakat.

Hans dan Roz yang awalnya lebih tertarik pada fenomena bawah air, akhirnya merasa tidak ada salahnya juga untuk turut melihat dan memeriksa kontroversi piramida di balik Gunung Lalakon dan Sadahurip secara langsung. Pergeseran minat ini disebabkan juga oleh ketidakpastian kelanjutan ekspedisi kelautannya yang terus tertunda karena ketiadaan biaya. Karena itulah dalam kunjungan singkatnya ke Indonesia kali ini mereka meluangkan waktu untuk mendatangi langsung gunung-gunung tersebut.

Sejak mula berada di lokasi Gunung Lalakon, Hans sudah meragukan kaitan piramida dengan gunung ini. Kesuburan daerah yang mengelilingi gunung ini membuatnya mengambil kesimpulan bahwa Gunung Lalakon adalah gunung alami dan tidak menyimpan karya manusia di dalamnya. Kesuburan tanah di sekeliling gunung sangat berhubungan dengan gunung itu sendiri, sebuah gunungapi yang sudah sangat lama mati. Pengambilan kesimpulan seperti ini akan sangat jelas saat mengunjungi Gunung Sadahurip di Wanaraja keesokan harinya. Wilayah di sekitar Gunung Sadahurip memang sangat subur dan karena itu sepanjang mata memandangi wilayah ini, kita hanya akan lihat ladang-ladang saja.

Ridwan Gunung Lalakon & Sadahurip-4

Gunung Sadahurip
 Kunjungan ke Sadahurip sudah dimulai sejak pagi sekali. Jam 8 pagi kami sudah berada di dekat Limbangan untuk menikmati secangkir kopi. Hans memilih air kelapa muda, langsung dari butirnya. Melalui Pak Oman Abdurahman, kami mendapatkan kontak di Wanaraja, seorang teman yang bernama Euis Keukeu Maryam, yang akan mengantarkan kami ke Sadahurip. Sepanjang perjalanan ini nyata sekali pasangan Hans & Roz menikmati seluruh pemandangan yang hadir di depan mereka, tak terkecuali jajaran delman yang memenuhi jalur jalan Karangpawitan hingga Wanaraja. Roz sedapatnya merekam kereta-kereta kuda itu dengan handycamnya untuk oleh-oleh bagi anaknya.

Tidak sulit menemukan rumah Ibu Keukeu, namun untuk menyingkat waktu, pertemuan kami langsungkan di sebuah rumah makan sekalian menyiapkan energi untuk pendakian. Sayang, karena pekerjaan rumahnya, Ibu Keukeu tidak dapat serta dan sebagai gantinya adalah suaminya yang akan mengantarkan kami ke puncak Sadahurip. Usai makan, kami berlima langsung menuju lokasi gunung melalui jalur-jalur jalan sempit di sepanjang Kecamatan Pangatikan. Sejak meninggalkan jalan raya Pangatikan, sepanjang beberapa kilometer jalur jalan terus menanjak landai.

Banyak pemandangan menarik dalam perjalanan ini. Kelompok gunung-gunung di sekitar kami tidak ada habisnya. Susahnya, tidak ada warga yang dapat mengenal baik nama-nama pegunungan yang kami lewati. Mungkin karena letaknya yang memang cukup jauh juga, sehingga tidak menjadi keseharian mereka. Namun dalam peta, dapat saya lihat kemungkinan nama beberapa gunung ini, di antaranya Gn. Cakrabuana, Gn. Karacak, Gn. Talagabodas, dan Gn. Sadakeling. Gunung-gunung yang lebih dekat kami tanyakan kepada para petani, namun jawabannya tidak terlalu meyakinkan, di antaranya, Gn. Kaboh, Gn. Karaha, Gn. Gerosi, dan Gn. Putri.

Setelah melalui jalan kaki yang panjang di antara ladang yang terus menanjak, kami tiba di lereng Sadahurip dan menemukan sebuah pemandangan spektakuler (bagi saya), yaitu sebuah cekungan mirip bekas kepundan gunungapi seperti yang saya lihat di Sumur Jalatunda, Dieng. Namun saya tidak dapat melihat dasarnya karena jauhnya. Di depan cekungan ini adalah lembah sempit yang memanjang dan terdengar cukup keras suara aliran sungai di bawahnya. Tampak dua tebing tinggi dengan bagian puncak yang mengingatkan saya pada Gunung Batu di Lembang. Dari warga kami dengar bahwa pada tahun 1980-an sebuah pesawat kecil pernah terjatuh di wilayah ini. Hingga beberapa lama bangkai pesawat masih terserak di situ.

Kondisi lingkungan selama perjalanan dan pendakian Gunung Sadahurip ternyata telah membuat Hans meragukan kisah piramida di balik gunung itu. Menurutnya semua yang ada di wilayah ini adalah hasil kerja alam karena keberadaan gunungapi. Kesuburan tanah akibat debu vulkanik, jalur-jalur aliran lava, dan beberapa amatan lain telah membuatnya mengambil kesimpulan bahwa Gunung Sadahurip adalah murni karya alam, sebuah gunungapi yang telah lama mati. Selewatan saya mendengarkan obrolan mereka, Roz yang mengatakan bahwa Hans adalah seorang pesimistis, dan sangkalan Hans yang menyatakan bahwa dirinya adalah seorang skeptis dan bukan pesimis. Sepanjang jalan pasangan ini mendiskusikan amatan mereka masing-masing. Saya tidak terlalu mengikuti obrolan serius ini, mencatat kesimpulan yang akhirnya diambil oleh Hans, baik Lalakon maupun Sadahurip, keduanya adalah murni karya alam dan samasekali tidak menyimpan campur tangan manusia di baliknya.

Walaupun merasa gagal menemukan piramida, namun Hans dan Roz samasekali tidak menyesali perjalanan mereka ke dua lokasi gunung ini. Pertama, karena mereka memang tidak menginginkan apa pun kecuali memuaskan rasa kepenasaran mereka tentang peradaban kuno yang hilang, dan kedua, mereka menemukan gantinya yang tak tertandingi dan di luar bayangan mereka sendiri, yaitu pemandangan luar biasa sepanjang perjalanan antara Bandung – Soreang – Garut. Pengalaman mereka dengan Pulau Jawa selama ini hanyalah Jakarta – Bogor, dan sungguh tidak menyangka bahwa di wilayah yang lebih ke dalam dapat menemukan pemandangan pegunungan hijau yang spektakuler. Sepanjang jalan menemani pasangan ini, itulah yang saya dengar; spectacular, amazing, wonderful, what an adventure, dan seterusnya dan seterusnya.

Bagi saya sendiri yang tidak terlampau terlibat dengan misteri peradaban kuno dengan segala kontroversinya, mendengarkan decak kagum tak henti dari pasangan petualang ini sudahlah cukup membahagiakan, mungkin rasanya seperti menemukan piramida itu sendiri.

Bandung, 18 November 2011

Nb. Sumber informasi utama untuk data-data di atas adalah buku “Peradaban Atlantis Nusantara” (Ufuk, 2011) suntingan Ahmad Y. Samantho & Oman Abdurahman.

Nganjang ka Dayeuhkolot-Banjaran

Ini catatan dari dua tahun lalu setelah ngaleut bareng @KomunitasAleut. Daripada hilang ditelan multiply, saya unggah lagi di sini, lumayan buat bahan ngabuburit atau yang ingin jalan-jalan ke daerah sana..

Ngaleut Dayeuhkolot-Banjaran Bagian 1
MONUMEN MOHAMMAD TOHA
Pada hari Minggu lalu, 20 Maret 2011, Komunitas Aleut! mengadakan kunjungan ke daerah Dayeuhkolot dengan tema utamanya mengenang peristiwa Bandung Lautan Api (BLA – 1946). Sebagian kita mungkin sudah mengetahui kaitan Dayeuhkolot dengan BLA. Di sinilah seorang tokoh kontroversial , Mohammad Toha, meledakkan gudang mesiu Belanda. Bukan hanya ketokohan Moh. Toha yang kontroversial, namun kronologi peristiwanya pun lumayan simpang-siur, maklum tak ada seorang pun yang secara langsung menyaksikan atau mengetahui secara persis peristiwa itu. Koran Pikiran Rakyat pernah mengadakan investigasi intensif pada tahun 2007 dengan mewawancarai sejumlah tokoh yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mungkin berkaitan. Di antara mereka ada yang juga mengenali Moh. Toha secara pribadi.

Hasil investigasi Pikiran Rakyat kemudian dimuat secara berturut selama seminggu penuh. Termasuk di antaranya adalah tulisan dari kalangan akademisi serta laporan masyarakat pembaca. Tidak semua hal menjadi terang-benderang setelah peliputan itu, bahkan sempat pula ada keraguan tentang wajah Moh. Toha yang beberapa fotonya ditampilkan dalam liputan koran itu.

P1630607B

Kunjungan Komunitas Aleut! hari itu tidak hendak ikut nimbrung dalam kontroversi ini melainkan sekadar mengenalkan saja secara selintas peristiwa bersejarah yang hampir terlupakan itu. Di Dayeuhkolot kami dapat kunjungi lokasi peledakan gudang mesiu yang sekarang sudah menjadi kolam. Sebuah laporan berdasarkan ingatan, dari Misbah Sudarman, menyebutkan tentang sebuah lubang yang menganga dan dalam, sementara di sekitarnya tanah menggunung dalam radius 25 meter. Rumah-rumah Belanda dan warga di sekitar lokasi itu hancur berantakan. Saat diwawancarai pada tahun 2007, Misbah Sudarman berusian 72 tahun.

Sekarang lokasi bekas ledakan itu sudah menjadi kolam dengan air berwarna coklat. Di salah satu sisinya terdapat sebuah karamba besar. Beberapa orang tua tampak memancing di pinggiran kolam. Di depan kolam didirikan dua buah monumen, satu monumen berupa patung dada Moh. Toha dan di belakangnya sebuah monumen yang menjulang tinggi berbentuk lidah-lidah api dengan tentara yang terperangkap dalam kobarannya. Di sebelah kiri monumen ini terdapat tembok prasasti berisi 15 kotak marmer. Pada 13 kotak di antaranya terpahatkan daftar nama pejuang yang gugur dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Dua kotak di sudut kanan bawah masih tampak kosong. Di bagian atas tembok prasasti ini terdapat ornamen kobaran api.

P1630629B

Di seberang kolam, agak kurang menonjol, tampak tembok memanjang dengan relief cerita seputar BLA. Agak sulit untuk menangkap isi relief ini karena selain letaknya yang jauh di seberang kolam, tidak terdapat warna-warna yang dapat membantu penglihatan selain sedikit warna emas yang tampaknya sudah luntur dan kusam. Warna yang mendominasi hanyalah warna batu andesit yang menjadi bahan tembok ini. Dengan zoom kamera saya dapat lihat gambaran umum relief yang berisi hal-hal seputar BLA. Ada gambaran umum pertempuran, Soekarno-Hatta, truk-truk militer, tulisan-tulisan “Merdeka”, “Bengkel Sepeda Motor Cikudapateuh”, dan “Dengki Amunition”. Paling kanan adalah relief ledakan gudang mesiu.

P1630598B

Di depan Patung dada Moh. Toha terletak kompleks Batalyon Zeni Tempur 3/YW. Dalam dua kali kunjungan ke monumen ini ternyata selalu ada tentara yang menghampiri menanyakan tujuan kedatangan dan izin kunjungan. Mungkin kedatangan rombongan Aleut! ke tempat ini terlihat tak lazim, apalagi dengan begitu banyak kegiatan pengamatan dan foto-foto. Sementara itu di belakang monumen terletak gedung Komando Daerah Militer 0609 – Komando Rayon Militer 0908 Dayeuhkolot. Kompleks monumen ini memang terletak di tengah-tengah kawasan militer Dayeuhkolot, jadi bila ingin berkunjung sebaiknya persiapkanlah berbagai hal yang diperlukan terutama yang berkaitan dengan perizinan.

Dengan menggunakan angkutan kota baik dari arah Buahbatu/Bale Endah atau dari arah Kebon Kalapa dan Tegalega, jarak tempuh ke lokasi ini tidak akan lebih dari 30 menit saja, kecuali di hari-hari biasa yang umumnya selalu macet. Markas militer dan monumen ini dengan mudah terlihat di sisi jalan. Selain itu jalur angkutan kota dari kedua arah itu juga mewakili peristiwa BLA karena merupakan jalur-jalur utama pengungsian masyarakat Kota Bandung ke daerah selatan setelah Bandung dijadikan lautan api.

 

Ngaleut Dayeuhkolot-Banjaran Bagian 2
MAKAM LELUHUR BANDUNG
Dari Monumen Moh. Toha, rombongan Aleut! melanjutkan kunjungan ke kompleks makam bupati di Kampung Kaum.
Kompleks makam ini terletak agak tersembunyi di tengah kampung. Di ujung gang sudah tampak sebuah gapura putih dengan pintu besi yang masih terkunci. Kompleks makam seluas satu hektare ini dibentengi oleh tembok yang juga berwarna putih. Tanah ini adalah tanah wakaf dari keluarga Dewi Sartika.
Pada tembok depan terpasang sebuah prasasti marmer bertuliskan nama-nama tokoh yang dimakamkan di situ :
– Ratu Wiranatakusumah (Raja Timbanganten ke-7)
– R. Tmg. Wira Angun-Angun (Bupati Bandung ke-1)
– R. Tmg. Anggadiredja II (Bupati Bandung ke-4)
– R. Adipati Wiranatakusumah I (Bupati Bandung ke-5)
– R. Dmg. Sastranegara (Patih Bandung)
– R. Rg. Somanegara (Patih Bandung)
– R. Dmg. Suriadipradja (Hoofd Jaksa Bandung)
Selain nama-nama yang tercantum di atas, masih banyak nama tokoh lain yang dimakamkan di sini yang mungkin menarik untuk ditelusuri karena sedikit-banyak mungkin menyimpan cerita tentang sejarah Bandung.

P1630645B

Di tengah kompleks terdapat empat buah makam bercungkup yang seluruhnya adalah makam pindahan. Masing-masing adalah makam R. Tmg. Wira Angun-Angun, Bupati Bandung pertama (1641-1681), yang dipindahkan dari Pasirmalang, Bale Endah, pada tahun 1984; Ratu Wiranatakusumah yang dipindahkan dari tempat asalnya di Cangkuang, Leles, pada tahun 1989; Makam R. Rg. Somanegara yang dipindahkan dari tempat pembuangannya di Ternate; dan R. Dmg. Suriadipradja yang dipindahkan dari tempat pembuangannya di Pontianak. R. Dmg. Suriadipradja adalah ayahanda Dewi Sartika. Dua tokoh terakhir ini dipindahkan pada tahun 1993. Seluruh pemindahan dilakukan oleh Yayasan Komisi Sejarah Timbanganten-Bandung.

Peristiwa apakah yang melatari pembuangan Somanegara dan Suriadipradja? Pada tanggal 14 dan 17 Juli 1893 telah terjadi suatu keriuhan yang dikenal dengan sebutan “Peritiwa Dinamit Bandung”. Saat itu di Pendopo Bandung tengah berlangsung perayaan pengangkatan R. Aria Martanegara sebagai Bupati Bandung. Beliau yang keturunan Sumedang, sebelumnya menjabat sebagai Patih Onderafdeling Mangunreja (Sukapurakolot) dan diminta oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk menggantikan Bupati Bandung R. Adipati Kusumadilaga yang wafat pada 11 April 1893. Saat itu putera Kusumadilaga, R. Muharam baru berusia empat tahun, sehingga tidak bisa menggantikan ayahnya. Pejabat sementara dipegang oleh Patih Bandung, R. Rg. Somanegara.

P1630274

Pengangkatan Martanegara sebagai bupati ternyata diterima dengan kekecewaan mendalam oleh Somanegara. Menurut tradisi yang berlaku, pengganti pejabat pribumi yang wafat adalah putra sulungnya. Hak ini tidak dapat diganggu-gugat, namun dengan syarat tambahan yang pelanjut harus cakap untuk jabatan tersebut. Dalam kasus tertentu, dapat juga menantu melanjutkan jabatan mertuanya seperti yang terjadi pada Bupati Bandung pertama, Wira Angun-Angun, yang menyerahkan jabatan kepada menantunya. Kasus lain terjadi juga pada Bupati Tanggerang di tahun 1739. Walaupun bupati tersebut memiliki tiga orang putera, namun pemerintah memilih untuk mengangkat menantunya sebagai pengganti jabatan Bupati Tangerang.

P1630277

R. Rg. Somanegara adalah menantu Dalem Bintang atau Adipati Wiranatakusumah IV, Bupati Bandung sebelum R. Kusumadilaga. Kesempatannya untuk menjadi Bupati Bandung telah dua kali diabaikan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pertama, saat mertuanya, R. Adipati Wiranatakusumah IV, wafat pada 1874, ia harus menerima keputusan pemerintah yang memilih untuk mengangkat saudara Wiranatakusumah IV yaitu R. Kusumadilaga. Yang kedua, saat pemerintah memilih mengangkat seorang keturunan Sumedang, R. Aria Martanegara, sebagai pengganti Bupati Bandung, R. Kusumadilaga.

Karena itulah mungkin Somanegara merasa kecewa sehingga merencakan pembunuhan terhadap Residen, Asisten Residen, Bupati Bandung dan Sekretarisnya. Caranya adalah dengan melakukan pendinamitan di beberapa lokasi. Di antaranya di sebuah jembatan di atas Ci Kapundung dekat Pendopo dan di panggung direksi pacuan kuda di Tegallega. Hasil pengusutan polisi mendapatkan 8 orang tertuduh yang berada dalam pimpinan R. Rg. Somanegara dan ayahanda Dewi Sartika, R. Dmg. Suriadipradja. Pemerintah memutuskan untuk membuang kedua tokoh ini masing-masing ke Ternate dan Pontianak.

Kembali ke kompleks makam. Dulu, wilayah kompleks makam ini adalah bekas pusat pemerintahan Kabupaten Bandung saat masih berada di Krapyak. Di sinilah terletak Pendopo Kabupaten. Mengelilingi Pendopo ini terdapat bangunan-bangunan seperti tajug (sekarang sudah menjadi mesjid) dan kantor kabupaten yang lahannya sekarang sudah habis menjadi permukiman. Bale pertemuan terletak di wilayah Bale Endah sekarang. Dekat dengan pusat pemerintahan ini terletak titik pertemuan sungai Ci Kapundung dengan Ci Tarum, yaitu di Cieunteung yang sekarang bernama Mekarsari.

P1630818B

Semestinya setelah dari kompleks Makam Leluhur Bandung, perjalanan akan dilanjutkan ke Cieunteung, namun karena juru kunci selintas menyebutkan sebuah kabuyutan di Batu Karut, maka saya secara spontan mengajukan usul untuk sekalian menyambangi tempat itu. Sebelumnya saya sudah pernah dua kali mengunjungi tempat itu, namun kali ini suasana yang saya temui agak berbeda.

 

Ngaleut Dayeuhkolot-Banjaran Bagian 3
BUMI ALIT KABUYUTAN, BATU KARUT
Perjalanan ke lokasi ini kami tempuh dengan dua buah angkot borongan. Lama perjalanan sekitar 15-20 menit. Tiba di lokasi, kami masih harus mencari juru kunci dulu karena kompleks situs ternyata terkunci. Dari luar tampak plang bertuliskan “Situs Rumah Adat Sunda (Bumi Alit Kabuyutan) – Lebakwangi Batu Karut – Kec. Arjasari Kab. Bandung”.

P1630744B

Juru kunci, Bapak Enggin, segera membukakan gerbang dan mengajak semua peserta untuk berkumpul di bale. Pertanyaan utama dari beliau adalah “Apa tujuan kunjungan ini?.” Usia sepuh membuatnya berbicara sangat perlahan dengan artikulasi yang kurang tegas, karena itu semua Aleutians merapat sangat dekat agar dapat menyimak dengan baik. Bagi beberapa teman, usaha ini cukup sia-sia, karena Pak Enggin menggunakan bahasa Sunda dengan banyak kata yang tidak terlalu biasa terdengar dalam percakapan sehari-hari di kota.

Inti cerita, Pak Enggin menyampaikan berbagai simbol yang terdapat dalam Bumi Alit Kabuyutan. Semua simbol ini berkaitan dengan filosofi kehidupan dan keagamaan yang menjadi pedoman hidup masyarakat penganutnya. Menurutnya, Batu Karut adalah pusat penyebaran agama Islam dengan menggunakan siloka. Misalnya saja ukuran rumah yang 5×6 meter dikaitkan dengan rukun Islam dan rukun Iman. Perkalian dari ukuran itu adalah jumlah juz dalam Quran. Angka-angka yang sama terulang lagi dalam menceritakan isi Bumi Alit. Di dalamnya terdapat 5 buah pusaka, yaitu lantingan, pedang, keris, badi, dan tumbak. Kelima pusaka ini ditempatkan dalam sumbul yang sekaligus menjadi pusaka keenam. Semua pusaka dibungkus oleh 5 lapis boeh.

Penceritaan dan diskusi soal filosofi ini berlangsung cukup lama dan intensif. Namun yang seringkali terjadi dalam kunjungan ke situs-situs keramat seperti ini adalah tidak ada keterangan sejarah yang memadai. Kebanyakan pertanyaan akan dijawab dengan agak kabur atau tidak tahu. Misalnya saja pertanyaan asal mula rumah adat ini, siapa pembangunnya,siapa yang menghuni, bagaimana kisahnya hingga menjadi tempat penyimpanan benda pusaka, dst. Bapak Enggin hanya selintas saja bercerita tentang situs Gunung Alit yang berada dekat dengan Bumi Alit. Di Gunung Alit terdapat beberapa makam tokoh dengan fungsi pemerintahan dan sosial di Batu Karut dahulu.

Masing-masing makam tersebut adalah Mbah Lurah yang memegang urusan pemerintahan, Mbah Wirakusumah sebagai panglima, Mbah Patrakusumah urusan seni-budaya, Mbah Ajilayang Suwitadikusumah bagian keagamaan, dan Mbah Manggung Jayadikusumah. Nama terakhir ini tak saya temukan fungsinya dalam catatan yang saya buat, tampaknya terlewatkan.

Selain itu Bapak Enggin juga bercerita tentang upacara adat dan tata cara berziarah. Pada bagian ini saya kesulitan mencatat detail sesajian yang semuanya juga dihubungkan dengan filosofi kehidupan. Secara sepintas saya juga bertanya tentang sertifikat yang sebelumnya saya lihat terpajang di rumah Bapak Enggin. Sertifikat itu dikeluarkan oleh Depdikbud Dirjen Kebudayaan Direktorat Kesenian, Jakarta, tahun 1993 bagi peserta Festival Musik Tradisional Tingkat Nasional 1993 di Jakarta. Obrolan pun berlanjut ke kesenian yang dianggap asli Batu Karut, yaitu goong renteng atau sering juga disebut goong renteng Mbah Bandong dengan istilah bandong yang dikaitkan dengan asal-usul nama kota Bandung. Maksudnya adalah bahwa dalam kesenian gamelan ini terdapat dua buah goong yang ngabandong atau berpasangan, berhadapan.

Laras dalam gamelan goong renteng berbeda dengan yang umumnya dikenal, mereka menyebutnya laras bandong. Instrumen lain yang dipergunakan dalam gamelan ini adalah sejenis bonang yang disebut kongkoang, gangsa (sejenis saron), paneteg (sejenis kendang), dan beri yang mirip gong namun tidak berpenclon. Penggunaan gangsa dapat menunjukkan ketuaan kesenian ini karena biasanya tidak digunakan lagi dalam gamelan umumnya. Demikian juga dengan gong beri yang biasanya digunakan dalam peperangan dengan fungsi sebagai penanda. Gong beri tidak lazim digunakan dalam gamelan namun masih dapat ditemui digunakan dalam iringan seni bela diri tradisional.

Selain goong renteng, di daerah ini juga dapat ditemukan seni terebangan (sejenis rebana), reog, barongan, dan beluk. Beberapa tahun lalu, seorang teman peneliti musik dari Perancis pernah mengajak untuk menyaksikan dia merekam kesenian beluk di beberapa tempat, di antaranya di Banjaran. Saya masih selalu menyesal karena saat itu berhalangan untuk memenuhi undangan-undangannya. Namun akhirnya saya sempat juga beberapa kali menyaksikan kesenian ini diperagakan di Sumedang.

P1630714B

 

Ngaleut Dayeuhkolot-Banjaran Bagian 4
SEKILAS SENI BELUK
Seni beluk adalah seni vokal tanpa iringan instrumen khas masyarakat Sunda yang sekarang ini sudah langka sekali ditemui. Sebarannya adalah wilayah agraris dan terutama di dataran-dataran tinggi, mulai dari Banten hingga Sumedang dan Tasikmalaya. Namun sayangnya sebaran yang luas ini tidak berarti bahwa seni beluk (mungkin juga seni tradisional lainnya) memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman. Salah satu yang masih bertahan adalah beluk dari Batu Karut, Desa Lebakwangi, Banjaran.

Di Lebakwangi seni beluk masih cukup sering ditampilkan dalam upacara-upacara seperti yang berhubungan dengan kelahiran bayi. Penyajiannya biasa dilakukan di ruang tengah rumah dengan alas tikar. Penyaji beluk yang biasanya terdiri dari empat orang duduk bersila diapit keluarga tuan rumah dan membentuk pola lingkaran. Penyajian seperti ini terasa agak aneh buat saya mengingat “nyanyian” beluk yang banyak berbentuk lengkingan vokal. Lengkingan seperti ini memang akan terasa ingar-bingar bila dikumandangkan dalam ruangan tertutup seperti di rumah. Namun tampaknya sekarang hal ini sudah menjadi kelaziman pula.

Sampul album Beluk-Dzikir produksi STSI Surakarta.
Sampul album Beluk-Dzikir produksi STSI Surakarta.

Seni lengking vokal ini diperkirakan berasal dari tradisi bersawah-ladang sebagai media komunikasi antarpetani. Masyarakat Baduy dulu sering berteriak dengan nada mengesankan bila sedang berada dalam hutan atau ladang sorang diri. Teriakan yang bisa dilakukan sebagai pengusir sepi atau juga memberitahukan keberadaannya di dalam hutan. Konon bentuk nyanyian dengan nada-nada tinggi, mengalun dan meliuk-liuk adalah bagian dari ekspresi masyarakat ladang saat berkomunikasi dengan sesama komunitasnya yang mempunyai pola tinggal menetap namun saling berjauhan.

Seni beluk mirip dengan karinding dalam hal tidak termasuk kategori seni pertunjukan dan lebih bersifat hiburan personal, sarana menghibur diri, dan pengusir rasa sepi. Belakangan, kesenian ini lebih banyak dipakai untuk keperluan ritual seperti dalam syukuran 40 hari kelahiran bayi. Ada empat orang penyaji utama dengan peranan yang berbeda. Disebut penyaji utama karena sebetulnya hadirin juga diperbolehkan untuk turut serta menyajikannya. Empat peranan tersebut adalah 1) tukang ngilo atau juru ilo, 2) tukang ngajual, 3) tukang meuli, dan 4) tukang naekeun.

Tukang ngilo adalah pembaca syair secara naratif. Pembacaan dilakukan dalam tempo sedang dengan artikulasi yang jelas dan dibacakan per padalisan (baris). Syair-syair beluk berasal dari naskah-naskah cerita babad atau wawacan dan disajikan dalam bentuk pupuh yang berjumlah 17, yaitu asmarandana, balakbak, dandanggula, durma, gambuh, gurisa, juru demung, kinanti, ladrang, lambang, magatru, maskumambang, mijil, pangkur, pucung, sinom, dan wirangrong.

Tukang ngajual menyanyikan syair yang dibacakan tukang ngilo sesuai dengan pupuhnya, namun cara menyanyikannya tanpa ornamen. Tukang meuli melanjutkan sajian tukang ngajual dengan tambahan ornamen pelengkap. Sedangkan tukang naekeun melanjutkan sajian tukang meuli dengan nada-nada tinggi dan meliuk-liuk. Di bagian ini ornamentasi vokal sangat dominan sehingga artikulasi tidak diutamakan dan bisa menjadi sangat kabur. Setiap tukang naekeun menyelesaikan satu bait, seluruh hadirin dan para penyaji lainnya memungkas lagu secara secara bersama (koor).

Dalam penyajian beluk dikenal beberapa teknik, seperti nyurup yaitu kesesuaian dengan laras yang dibawakan; jentre artikulasi yang jelas; eureur kesesuaian vibrasi dengan kalimat lagu; senggol ketepatan ornamentasi; leotan ketepatan nada yang digunakan; embat walaupun musik vokal ini bertempo bebas, namun tetap ada acuan metris-melodis kendati sangat samar; pedotan ketepatan waktu untuk mengambil nafas; renggep atau saregep keseriusan dalam penyajian; cacap kata demi kata harus disajikan sampai tuntas; bawarasa ekspresi dalam penyajian; dan bawaraga penegasan suasana dengan gestur yang dianggap menarik.

Sebagai bentuk kesenian yang lahir dari keseharian masyarakat agraris yang sederhana, dalam penyajiannya seni beluk tidak menerapkan aturan berpakaian tertentu. Yang paling umum ditemui menggunakan baju takwa, sarung, kopiah, dan celana panjang saja. Pembagian peranan dalam penyajian beluk juga memberi ciri masyarakat agraris yang senang bergotong-royong, bekerja-sama dan berkomunikasi secara harmonis.

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑