Search

mooibandoeng

Senantiasa Belajar Kenal dan Cinta Kota Bandung

Tag

Perkebunan

Pasir Junghuhn

12555983_1105901679454841_1931221710_n

Pabrik Teh Pasir Junghuhn.

Dulunya pabrik kina, tapi sekarang sudah tidak ada kebun kina di sini. Dulu pabrik ini berdiri sendiri, tapi sekarang menjadi bagian perkebunan lain yang lebih besar. Setelah pabrik, masih ada jalan batu rusak menuju kampung terakhir di kawasan ini, Srikandi. Setelah itu hutan dan gunung yang berbatasan dengan Kab. Garut. Di depan pabrik ada sebuah rumah sakit, RS Pasir Junghuhn, yang terpencil dan sepi. Hari ini hanya ada tujuh pasien di sana. Tak ada orang lalu-lalang, hanya seorang petugas keamanan yang terlihat sedang ngoprek gadgetnya. Tidak butuh waktu lama untuk mengelilingi RS dan pabrik dengan nama sama ini.

Di bawah, sebuah rumah tua yang tersambung dengan rumah dinas bergaya kolonial masih berdiri, namun tanpa penghuni. Warga pikir saya mau uji nyali di sana. Tidak. Saya jalan2 saja, lihat2 masa lalu.

Advertisements

Gedung Kuning, Ciparay

12552270_458906830984006_1176538926_n

Gedung Kuning di sebelah Pasar Ciparay.

Sepulang roadtrip keliling Jawa Barat bagian timur beberapa waktu lalu, saya dkk turun lewat Garut dan Majalaya (jalur Monteng), terakhir mampir di lokasi ini untuk membeli minuman sebelum lanjut pulang ke Buahbatu. Lalu kemarin ada roadtrip lagi keliling beberapa perkebunan di sebelah selatan Bandung, mulai dari wilayah Pangalengan sampai perbatasan Garut dan Ciparay. Kami turun lewat Cikoneng, lagi2 mampir terakhir di lokasi ini.

Mungkin ini kode undangan untuk mapay2 Ciparay dengan sawah dan kebun2nya :-)) .

 

Jaringao

image

Entah apa arti kata Jaringao, yang jelas di Sukabumi Selatan ada nama tempat seperti itu, tak jauh dari hutan perburuan kuno yang disebut Cikepuh. Kawasan hutan buru ini juga populer bagi koloni Belanda yang tinggal di Batavia, bahkan sebagian Preangerplanters juga menjadikannya sebagai kawasan hutan buru favorit.

Syahdan pada masa pembukaan kawasan perkebunan di Deli, Sumatera Utara, banyak kuli kontrak dari Jawa Tengah yang dikirimkan untuk bekerja di sana. Kuli2 ini berangkat melalui pelabuhan Cilacap menyusuri laut selatan Pulau Jawa. Ternyata tidak semua kuli ini sampai tujuan ke Sumatera, sebagian ada yang terdampar di perairan Sukabumi Selatan, dan mendarat di Pelabuhan Ujunggenteng.

Rupanya mereka yang terdampar tidak sadar bahwa mereka tidak pernah tiba di tanah Sumatera. Mereka mendirikan kampung2 di sebelah selatan Sukabumi, di antaranya sebuah kampung bernama Jaringao. Di tempat baru ini mereka bekerja sebagai buruh2 perkebunan yang dirintis oleh para Preangerplanters.

Itulah cerita singkat kenapa di Sukabumi Selatan terdapat kampung2 yang warganya berbahasa Jawa.

___________

Catatan:
Baru  menemukan informasi, ternyata jaringao adalah nama tetumbuhan rempah liar yang biasa ditemukan di hutan dengan tanah lembap. Sekarang tumbuhan ini sering juga ditanam di pekarangan rumah, terutama di Malaysia, karena memiliki aroma wangi dan kandungan zat minyak yang bermanfaat untuk mengobati bengkak, bisul, encok, disentri, sampai gigi goyang. Di Indonesia ada banyak sebutan untuk tanaman ini, jerenge di Aceh, jer’ngao di Cirebon, deringo atau jahangu di Bali, jhariango di Jawa, jerango di Batak, jarangan di Minangkabau, dan jaringao atau daringo di Sunda.

Sumber info: CampakaKaromahCatatanMalamKhasiatHerba

 

 

Boenga Roos dari Tjikembang

Boenga_Roos_dari_Tjikembang_cover

Papan nama itu selalu saja mengusikku, “Cikembang”.

Entah sudah berapa sering melewati lintasan jalan dengan petunjuk arah menuju Cikembang.
Tapi tentu saja plang nama seperti itu saya temukan hanya bila sedang berada di kawasan Pangalengan saja, dan pastinya berhubungan dengan perkebunan. Cikembang memang kawasan lama perkebunan kina di kaki sebelah barat Gunung Kendang.

Tapi bukan itu yang mengusikku.
Cikembang sudah cukup lama terpatri di kepalaku justru karena sebuah bacaan lama dengan judul Boenga Roos dari Tjikembang.

Saya tidak ingat persis kapan dan di mana saya tau tentang Boenga Roos dari Tjikembang, mungkin cuplikan sebuah disertasi tentang sastra Tionghoa (Sapardi Djoko Damono?) atau mungkin dari buku kajian tentang sastra Melayu-Tionghoa (Claude Salmon?), entahlah. Benar-benar lupa.

Tapi kemudian saya memang membaca cerita Boenga Roos dari Tjikembang dalam ejaan baru yang termuat dalam buku jilid kedua Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (KPG, 2001). Cerita itu ditulis Kwee Tek Hoay dan terbit tahun 1927. Waktu itu saya penasaran betul, di mana Cikembang yang disebutkan dalam judul cerita itu.

Kemudian saya tahu, Cikembang dalam cerita Bunga Roos ternyata merupakan perkebunan karet yang terletak di perbukitan antara Gunung Salak dan Gunung Gede. Wilayahnya termasuk bagian Sukabumi. Berarti tidak ada hubungan dengan kebun kina di kaki Gunung Kendang ini.

Tapi selama menyukai kegiatan jalan-jalan, Sukabumi termasuk wilayah yang kurang sering saya jelajahi. Belum pernah rasanya tinggal cukup lama di Sukabumi agar punya waktu mengelilingi alam dan wilayah perkebunannya yang luas itu. Berbagai tempat di sana-sini tentu sudah pernah saya datangi, tapi masih belum membuat saya merasa cukup kenal Sukabumi. Suatu waktu nanti saya akan luangkan waktu tersendiri untuk Sukabumi.

Kapan mau luangkan waktu satu-dua minggu ke Sukabumi? Masih belum terjawab.
Sementara itu, plang penunjuk arah “Cikembang” saat ini berada di depan mata.
Baiklah, mari lihat ada apa di sana.

Jalanan aspal yang kurang bagus meliuk-liuk seperti menjauhi kompleks Gunung Windu-Wayang-Bedil yang terlihat utuh. Lalu sebuah lapangan. Jalan makadam. Akhirnya perbukitan dengan puing-puing bangunan tua bekas pabrik. Continue reading “Boenga Roos dari Tjikembang”

Balitsa dan Marietje

Kalau bepergian ke Tangkubanparahu atau Subang dari arah Lembang, kita akan melewati sebuah kompleks bernama Balai Penelitian Tanaman Sayuran atau sering disingkat Balitsa, di sebelah kiri jalan. Kompleks ini terletak di Jalan Tangkubanparahu No.517, Lembang. Halaman kompleks sangat luas, di belakangnya terlihat ada banyak bangunan.

Balitsa-7

Sekilas dari jalan raya saja kita bisa perhatikan bahwa kompleks ini punya lingkungan yang nyaman. Halaman rumput yang luas dan bersih, mendekati jalan raya halaman ini membentuk gawir karena memang lokasinya berada agak tinggi di atas jalan raya. Udara di kawasan ini juga memang sejuk, ketinggiannya sekitar 1250 meter di atas permukaan laut.

Walaupun setiap waktu kita makan sayur, belum tentu juga kita menyadari keberadaan lembaga seperti Balitsa ini. Padahal berbagai penelitian dan percobaan dilakukan oleh lembaga ini agar dapat mengembangkan produksi sayuran dan buah-buahan sehingga pertanian dapat menghasilkan produk yang benar-benar baik untuk kita konsumsi.

Rintisan lembaga penelitian ini dimulai di bawah Balai Penelitian Teknologi Pertanian di Bogor pada masa akhir kekuasaan Hindia Belanda (1940). Tahun 1962, Balai Penelitian di Bogor itu mendirikan Kebun Percobaan Margahayu di bawah kordinasi Lembaga Penelitian Hortikultura, tempatnya di Lembang, di tengah-tengah wilayah yang sudah lama dikenal sebagai penghasil sayuran di Priangan. Continue reading “Balitsa dan Marietje”

Pacet

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Rijstterrassen_in_de_omgeving_van_Patjet_TMnr_60016823

Salah satu uwak saya sudah sangat lama tinggal di Majalaya, dari tahun 1950-an. Dia bekerja sebagai mantri gigi di Rumah Sakit Majalaya. Dulu rumah tinggal uwak adalah rumah dinas rumah sakit yang terletak di halaman belakang. Rumah bergaya kolonial yang dikelilingi halaman rumput yang luas. Di belakang rumah juga ada halaman rumput luas dan sebuah kolam. Bila keluarga besar berkumpul, biasanya kami gelar tikar di situ makan siang bersama. Di dekat kolam ada menara besi tinggi yang di puncaknya terdapat penampungan air. Anak-anak senang memanjati menara itu.

Selain menara, kami juga senang memanjati pohon jambu batu yang batangnya meliuk-liuk sehingga bisa kami duduki. Dari atas pohon terlihat bentangan sawah di balik pagar semak yang membatasi halaman rumah dengan sawah. Di kejauhan membayang jajaran pergunungan, katanya di sana ada satu tempat yang sangat sejuk, nama daerahnya terdengar aneh, Pacet.

2013-08-25 08-10-21-110

Belasan tahun kemudian saya benar-benar punya kesempatan menginjakkan kaki ke Pacet. Saat itu saya sudah punya tambahan sedikit informasi tentang Pacet dan kawasan sekitarnya. Kali pertama menuju Pacet, saya dibuat kagum sepanjang perjalanan mulai dari arah Ciparay. Jalanan terus menanjak dengan pemandangan persawahan yang bertingkat-tingkat di kiri-kanan jalan.

Di lembah sebelah kiri, mengalir sungai Ci Tarum yang penuh dengan sebaran batuan berukuran besar. Di sebelah kanan jalan pemandangan terisi oleh jajaran perbukitan yang termasuk kawasan Arjasari. Pada masa Hindia Belanda, di Arjasari terdapat perkebunan teh yang cukup luas yang dikelola oleh salah satu perintis Preangerplanters, Rudolf A. Kerkhoven (1820-1890). Continue reading “Pacet”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑