Search

mooibandoeng

Senantiasa Belajar Kenal dan Cinta Kota Bandung

Tag

Lembang

Idjon Djanbi

idjon-djambiOleh @vonkrueger

School voor Opleiding van Parachutisten (Sekolah Penerjun Payung) dipindahkan dari Hollandia (Jayapura) ke Bandung pada tahun 1947. Tentu saja kepindahan ini diikuti oleh sang komandan, Letnan Rokus Bernardus Visser, yang pangkatnya dinaikkan menjadi Kapten tidak lama setelah pindah.

Kapten Visser memimpin sekolah tersebut sampai tahun 1949. Setelah pengakuan kedaulatan, Kapten Visser yang sudah merasa nyaman hidup di Indonesia memutuskan untuk tidak kembali ke Belanda dan menetap di Pacet, Lembang. Ia mengambil kewarganegaraan Indonesia, menikahi seorang wanita Sunda, masuk Islam dan mengubah namanya menjadi Mochamad Idjon Djanbi. Pekerjaannya sehari-hari adalah bertanam bunga sampai akhirnya pada tahun 1952, ia diminta oleh Kolonel A.E. Kawilarang, Panglima Tentara dan Teritorium III Siliwangi, untuk membentuk pasukan komando. Djanbi setuju, dengan syarat ia diberikan pangkat Mayor.

Djanbi memilih baret merah sebagai baret resmi kesatuan tersebut, mengikuti baret pasukan linud Inggris tempat Djanbi pernah berdinas. Pada tanggal 16 April 1952 pasukan komando tersebut diresmikan dengan nama Kesatuan Komando Teritorium Tentara III/Siliwangi (Kesko TT. III/Siliwangi) dengan Mayor Idjon Djanbi sebagai komandannya.

Kesatuan ini berkedudukan di Batujajar, di tempat yang sebelumnya merupakan markas pasukan komando KNIL,  Korps Speciale Troepen (KST). Satu tahun kemudian, kesatuan tersebut dialihkan kepada Markas Besar Angkatan Darat dan berganti nama menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD) dan pada tahun 1955 berubah kembali menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD). Djanbi bertugas sebagai Komandan RPKAD sampai pada tahun 1956, ia ditugaskan untuk mengepalai perkebunan-perkebunan milik asing yang baru saja dinasionalisasi.

Karena status Idjon Djanbi di RPKAD adalah “dikaryakan”, maka ia tidak mendapat pensiun. Pada saat ulang tahun RPKAD tahun 1969, Idjon diberi kenaikan pangkat menjadi Letnan Kolonel. Idjon Djanbi wafat di Yogyakarta pada 1 April 1977 dan dimakamkan di TPU Kuncen.

 

Monteiro

Kalau melintas di jalan raya Bandung-Tangkubanparahu, mata ini sering melirik ke sebuah bangunan unik bertembok hitam dengan arsitektur yang tampak kuno. Di dinding bagian depan terdapat tulisan yang cukup jelas untuk dibaca dari jauh, “ Dolce Far Niente”, lalu di bawahnya, “Monteiro”. Sebenarnya saya cukup sering berada di dekat bangunan ini, terutama saat salah seorang paman saya mengelola hotel besar yang berada di dekatnya. Pagi-pagi berjalan kaki dari hotel sering melintas dekat bangunan hitam ini, tapi tidak juga ada keinginan untuk mampir. Yang saya tahu, sejak dulu di rumah itu diproduksi selai yang konon sempat populer di kota Bandung.

Tapi pagi ini ada pengalaman lain yang membuat saya mendatangi rumah hitam ini. Suasana sekitar bangunan tampak sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang sedang parkir. Semua pintu dan jendela rumah tertutup, begitu juga garasi yang berwarna merah di sebelahnya. Tak jauh dari rumah utama ada seorang ibu. Saya hampiri dan menyampaikan maksud ingin bertemu penghuni rumah hitam itu. Ibu ini mengantar saya ke sebuah rumah lain di belakang rumah hitam.

 

IMG-20150406-WA0025_1

Masa kecil dan remaja Beni dihabiskan di Pekalongan. Karena kenakalannya, sekolahnya berantakan. Ia hanya mengecap pendidikan sampai kelas 3 SD saja. Saat itu ia lebih senang blusukan ke kampung untuk mengadu ayam atau jangkrik daripada bersekolah. Untunglah ia masih sempat belajar membaca dan menulis. Bekal kecil ini membuatnya gemar mengoleksi dan membaca buku2 filsafat di kemudian hari, terutama karya2 MAW Brouwer.

Continue reading “Monteiro”

Cadas Gedogan atau Tebing Keraton

Sebetulnya ini tulisan yang sudah agak telat. Telat, karena kemeriahan objek yang akan saya tulis ini sudah agak berkurang dibanding beberapa bulan sebelumnya. Telat juga karena saya baru menuliskannya dua bulan setelah berkunjung (lagi) ke sana.

Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba saja di Bandung hadir satu objek wisata baru yang dinamakan Tebing Keraton. Saat pertama melihat fotonya yang diunggah seseorang, saya dapat langsung mengenali lokasi itu, bahkan termasuk cukup akrab dengan pemandangan dalam foto itu karena sejak tahun 2006 cukup sering melewati dan mampir ke lokasi itu. Tapi nama Tebing Keraton memang asing di telinga saya. Karena itu sebelum memastikan bahwa pemandangan dalam foto benar-benar sama dengan pemandangan yang sering saya lihat, saya masih harus membandingkan lagi dengan memeriksa banyak foto yang diunggah orang di media-media sosial.

Keramaian Tebing Keraton berlangsung selama beberapa bulan, hampir setiap hari ada saja yang posting foto pemandangan tebing ini, baik sebagai objek utama ataupun sebagai latar belakang para pengunjungnya. Pemandangannya rata-rata sama, lembah berbukit-bukit di bawah tebing dengan pepohononan yang memenuhi seluruh area, tak jarang pula dengan tambahan kabut yang cukup tebal memenuhi seluruh bidang foto. Para pengunjung sengaja datang pagi-pagi sekali atau menjelang sore untuk mendapatkan suasana ini. Memang tampak indah.

Tebing-2

Ada juga yang menyebutkan keberadaan petilasan seorang Prabu di bawah tebing, dekat lokasi Gadogan (Gedogan) Kuda dan Curug Ci Kiih Kuda. Gadogan Kuda adalah tempat menambatkan kuda-kuda kerajaan halus itu.

Continue reading “Cadas Gedogan atau Tebing Keraton”

Balitsa dan Marietje

Kalau bepergian ke Tangkubanparahu atau Subang dari arah Lembang, kita akan melewati sebuah kompleks bernama Balai Penelitian Tanaman Sayuran atau sering disingkat Balitsa, di sebelah kiri jalan. Kompleks ini terletak di Jalan Tangkubanparahu No.517, Lembang. Halaman kompleks sangat luas, di belakangnya terlihat ada banyak bangunan.

Balitsa-7

Sekilas dari jalan raya saja kita bisa perhatikan bahwa kompleks ini punya lingkungan yang nyaman. Halaman rumput yang luas dan bersih, mendekati jalan raya halaman ini membentuk gawir karena memang lokasinya berada agak tinggi di atas jalan raya. Udara di kawasan ini juga memang sejuk, ketinggiannya sekitar 1250 meter di atas permukaan laut.

Walaupun setiap waktu kita makan sayur, belum tentu juga kita menyadari keberadaan lembaga seperti Balitsa ini. Padahal berbagai penelitian dan percobaan dilakukan oleh lembaga ini agar dapat mengembangkan produksi sayuran dan buah-buahan sehingga pertanian dapat menghasilkan produk yang benar-benar baik untuk kita konsumsi.

Rintisan lembaga penelitian ini dimulai di bawah Balai Penelitian Teknologi Pertanian di Bogor pada masa akhir kekuasaan Hindia Belanda (1940). Tahun 1962, Balai Penelitian di Bogor itu mendirikan Kebun Percobaan Margahayu di bawah kordinasi Lembaga Penelitian Hortikultura, tempatnya di Lembang, di tengah-tengah wilayah yang sudah lama dikenal sebagai penghasil sayuran di Priangan. Continue reading “Balitsa dan Marietje”

Bandoeng Vooruit dan Komunitas Baheula di Bandung

Repost

bandoeng vooruit 1

Sebagai kota pendidikan, sepanjang tahun Bandung diserbu pendatang baru dari berbagai daerah di Indonesia dengan tujuan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Akibatnya angkatan muda di Bandung sangat banyak jumlahnya. Sebagian dari angkatan muda ini berkelompok sesuai minatnya masing2, membentuk komunitas2, tak heran bila saat ini Bandung menjadi gudangnya komunitas. Mulai dari komunitas yang sekadar berkumpul dan menyalurkan hobi sampai komunitas belajar yang serius bisa ditemukan di sini.

Sebagian di antara komunitas2 ini punya perhatian khusus terhadap kota Bandung. Cara dan fokus perhatian setiap kelompok ini bisa berbeda-beda tetapi umumnya bertujuan untuk mengapresiasi kehidupan Kota Bandung. Pernyataan yang muncul juga beragam; betapa senangnya tinggal di Bandung; betapa banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan demi kenyamanan tinggal di Kota Bandung; betapa banyaknya persoalan yang harus dihadapi masyarakat akibat pengelolaan resmi yang tidak memuaskan, dst dst.

Continue reading “Bandoeng Vooruit dan Komunitas Baheula di Bandung”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑