Search

mooibandoeng

Senantiasa Belajar Kenal dan Cinta Kota Bandung

Tag

Cikembang

Kina Pertama

image

160 tahun yang lalu, Franz Wilhelm Junghuhn, menanam kina pertamanya di daerah Pangalengan. Tentu ini bukanlah kina pertama yang ditanam di Pulau Jawa. Lokasi ini juga bukanlah satu2nya tempat penanaman kina itu, sebab Hasskarl sudah pernah menanam bibit yang dibawanya dari Peru di Cibodas. Tapi di sinilah monumen peringatan penanaman kina didirikan pada tahun 1955.

Tak jauh dari jalan raya Pangalengan, Junghuhn juga menanam kina di daerah yang kelak bernama Kampung Kina, Cibeureum. Selain itu juga di halaman rumah kerjanya di sebuah komplek bukit dekat Wanasuka yang sekarang bernama Pasir Junghuhn dan kemudian di tempat tinggalnya yang baru di Lembang.

Jauh sebelum kedatangan keluarga Preangerplanters yang dipelopori oleh Willem van der Hucht, Junghuhn sudah berkali-kali mengelilingi wilayah Jawa bagian Barat. Ia sudah hadir di Pangalengan dan mendaki Malabar sebelum kedatangan Kerkhoven atau Bosscha.

Continue reading “Kina Pertama”

Boenga Roos dari Tjikembang

Boenga_Roos_dari_Tjikembang_cover

Papan nama itu selalu saja mengusikku, “Cikembang”.

Entah sudah berapa sering melewati lintasan jalan dengan petunjuk arah menuju Cikembang.
Tapi tentu saja plang nama seperti itu saya temukan hanya bila sedang berada di kawasan Pangalengan saja, dan pastinya berhubungan dengan perkebunan. Cikembang memang kawasan lama perkebunan kina di kaki sebelah barat Gunung Kendang.

Tapi bukan itu yang mengusikku.
Cikembang sudah cukup lama terpatri di kepalaku justru karena sebuah bacaan lama dengan judul Boenga Roos dari Tjikembang.

Saya tidak ingat persis kapan dan di mana saya tau tentang Boenga Roos dari Tjikembang, mungkin cuplikan sebuah disertasi tentang sastra Tionghoa (Sapardi Djoko Damono?) atau mungkin dari buku kajian tentang sastra Melayu-Tionghoa (Claude Salmon?), entahlah. Benar-benar lupa.

Tapi kemudian saya memang membaca cerita Boenga Roos dari Tjikembang dalam ejaan baru yang termuat dalam buku jilid kedua Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (KPG, 2001). Cerita itu ditulis Kwee Tek Hoay dan terbit tahun 1927. Waktu itu saya penasaran betul, di mana Cikembang yang disebutkan dalam judul cerita itu.

Kemudian saya tahu, Cikembang dalam cerita Bunga Roos ternyata merupakan perkebunan karet yang terletak di perbukitan antara Gunung Salak dan Gunung Gede. Wilayahnya termasuk bagian Sukabumi. Berarti tidak ada hubungan dengan kebun kina di kaki Gunung Kendang ini.

Tapi selama menyukai kegiatan jalan-jalan, Sukabumi termasuk wilayah yang kurang sering saya jelajahi. Belum pernah rasanya tinggal cukup lama di Sukabumi agar punya waktu mengelilingi alam dan wilayah perkebunannya yang luas itu. Berbagai tempat di sana-sini tentu sudah pernah saya datangi, tapi masih belum membuat saya merasa cukup kenal Sukabumi. Suatu waktu nanti saya akan luangkan waktu tersendiri untuk Sukabumi.

Kapan mau luangkan waktu satu-dua minggu ke Sukabumi? Masih belum terjawab.
Sementara itu, plang penunjuk arah “Cikembang” saat ini berada di depan mata.
Baiklah, mari lihat ada apa di sana.

Jalanan aspal yang kurang bagus meliuk-liuk seperti menjauhi kompleks Gunung Windu-Wayang-Bedil yang terlihat utuh. Lalu sebuah lapangan. Jalan makadam. Akhirnya perbukitan dengan puing-puing bangunan tua bekas pabrik. Continue reading “Boenga Roos dari Tjikembang”

Blog at WordPress.com.

Up ↑