Search

mooibandoeng

Senantiasa Belajar Kenal dan Cinta Kota Bandung

Tag

Cikajang

Pabrik Pamegatan

12547584_1697321483847572_2072058530_n

Bekas Pabrik Teh Pamegatan yang sudah tidak beroperasi lagi sekarang. Pabrik ini dulu dikelola oleh salah satu Preangerplanters, namanya Baron Baud. Untuk cerita lebih banyak, ikuti saja tour Mengenal Riwayat Preangerplanters pada hari Minggu, 17 Januari 2016 bersama @mooibandoeng @FoBosscha @komunitasaleut @kedaipreanger, H. Kuswandi Md, Paguyuban Moka Garut, Asgar Muda, dll.

Ikuti juga pengenalan tradisi nyaneut di Priangan yang sudah langka ditemui. Biaya kesertaan Rp.250rb.

Info dan pendaftaran 0896-8095-4394 Berangkat pukul 07.00 dari Kedai Preanger, Jl. Solontongan 20-D, Buahbatu, Bandung 40264

Advertisements

Jalur Teh

12424557_1700206730191504_1723684084_n

Dua tahun lalu, @komunitasaleut mengadakan perjalanan panjang bermotor dengan judul “Jejak Teh Priangan” yang berlangsung 3 hari 2 malam.

Perjalanan dimulai dengan jalur yang tidak umum, lewat Ibun, Majalaya, lalu ke Cibeureum, Samarang, Garut, Bayongbong, sampai Cikajang. Sebelum Cikajang, suasana perkebunan teh sudah sangat terasa. Hamparan pohonan yang luas dalam kabut dan gerimis bergantian. Lalu Leuweung Gelap, sampai Cisompet dan Pameungpeuk, melewati kebun2 karet.

Berikutnya adalah jalur pantai selatan Jawa bagian barat. Lebih dari 10 lokasi pantai wisata yang cantik semuanya tampak kesepian, shelter2 yang ditinggalkan dan nelayan yang yang sibuk tidak pedulikan rombongan yang lewat. Pantai paling barat adalah Rancabuaya.

Dari sini perjalanan berbelok mengutara menuju Pakenjeng-Bungbulang dan selanjutnya Cisewu. Lagi2 kebun-kebun teh yang luas, dan mungkin ratusan air terjun tanpa pengunjung berjajar di tebing2 pergunungan. Cukul, Pasirmalang, Malabar, sudah serupa kampung halaman yang saban waktu didatangi, entah untuk beristirahat sebentaran atau membawa kelompok wisatawan dari sana-sini.

Lagi-lagi perkebunan teh menjadi hasrat utama perjalanan. Sebelum dan sesudah perjalanan panjang ini, kebun-kebun teh memang selalu menjadi pemikat perjalanan panjang, termasuk ketika membuat rute panjang lainnya mulai dari Ciwidey, Cianjur, pantai selatan, lalu mengutara lewat Cikajang.

Satu cuplikan pemandangan dan pengalaman ini akan dibagikan oleh @mooibandoeng dalam kegiatan “Mengenal Riwayat Preangerplanters” pada hari Minggu, 17 Januari 2016 ini. Sepotong kebun yang menyimpan jejak Preangerplanters, KF Holle dan KAR Bosscha. Info dan pendaftaran: 0896-8095-4394 Biaya kesertaan Rp.250rb.

Mengenal Riwayat Preangerplanters

Nah, ini kegiatan @mooibandoeng terbaru.

Lengkapnya sebetulnya ada 4 mata acara, 2 kali Ngaleut Jejak Preangerplanters di Bandung yang sudah terlaksana pada hari Minggu tanggal 3 dan 10 Januari 2016 yang lalu dan 2 kegiatan lain pada akhir pekan ini.

Masing-masing adalah:
1) hari Sabtu tanggal 16 Januari 2016 berupa Bedah Buku Preangerplanters yang diadakan di Institut Francais Indonesie (IFI), Jl. Pirnawarman No.32, Bandung. Kegiatan mulai pukul 09.00 sampai 14.00. Sebagai selingan akan ada pemutaran fil dokumenter The Story of Tea (1937) yang meliput berbagai kegiatan perkebunan teh di Malabar. Akan hadir pula sebagai pembicara Bpk. H. Kuswandi Md, SH, Bpk. Eka Budianta, dan Ridwan Hutagalung.

Sudah konfirmasi untuk ikut memberikan materi dan pandangan adalah Bpk. Kurnadi Syarif-Iskandar, sesepuh perkebunan mantan Direktur PTP XIII yang menjadi administratur pribumi pertama di Malabar dan Bpk. ir. Nugroho, Ketua Umum Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Teh Java Preanger.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

2) Kunjungan ke Rumah Bambu yang dirintis oleh Bpk. H. Kuswandi di Cimurah, Garut. Di sini para peserta akan diajak mengenal sejarah perkebunan Priangan secara visual, menyaksikan beberapa artefak yang berhubungan dengan perkebunan teh Priangan, melalui cerita dan foto akan berkenalan dengan silsilah besar dan rumit keluarga-keluarga perkebunan Priangan pada masa Hindia Belanda.

Di Rumah bambu yang nyaman ini para peserta juga akan diajak mengenal kembali tradisi lama yang sudah nyaris punah, yaitu nyaneut, bersama-sama dengan Asgar Muda dan Moka Garut. Akan ikut hadir di Rumah Bambu adalah seorang pengamat sejarah Garut, Dedi Effendi dan Darpan, seorang sastrawan.

Dari Rumah Bambu, peserta akan beranjak menuju perkebunan teh di kawasan Cikajang. Di sini para peserta dapat melihat langsung kehidupan sehari-hari para pekerja perkebunan teh di rumah-rumah tinggalnya masing-masing yang masih berbentuk rumah bilik tradisional. Di tengah perkebunan juga terdapat sebuah patung salah satu Preangerplanters yang cukup terkenal dan ikut berperan dalam pengembangan Kota Bandung. Bagi yang jeli, tentu dapat mengetahui bahwa patung yang serupa pernah juga berdiri di Alun-alun Kota Garut pada masa sebelum kemerdekaan. Holle malah seringkali juga disebut bila membicarakan sejarah kontemporer Sunda. Kenapa? Tunggu saja cerita-ceritanya.

Sampai jumpa dalam dua kegiatan ini.

Salam.

IMG-20160112-WA0061

IMG-20160113-WA0038

IMG_2702

IMG_1786

 

Puncak Cae

Rencana hari ini sebetulnya hanya mengunjungi Kecamatan Pacet di kaki Gunung Rakutak untuk melihat beberapa objek kegiatan swadaya masyarakat yang berkaitan dengan Ci Tarum pada hari Sabtu-Minggu (26-27 Oktober 2013) nanti. Maka dengan beberapa rekan @KomunitasAleut, pagi-pagi sekali kami sudah berada di daerah Lemburawi, Ciparay, untuk mengambil beberapa foto lingkungan sekitar.

Puncak Cae-1 Kebun

Sebelumnya di Pakutandang saya sempat berhenti sebentar di depan sebuah kampung yang pernah saya sambangi beberapa tahun lalu dalam sebuah kegiatan perekaman musik gamelan. Kampung ini dihuni oleh para penghayat aliran kebatinan”Perjalanan.” Kebetulan saya pernah berkawan baik juga dengan salah seorang pemuda pemain kendang yang mumpuni dari kampung ini. Saya membantu lawatan kelompok musiknya ke beberapa kota di Pulau Jawa dan akhirnya mengikuti Worldmusic Festival pertama di GWK, Bali.

Nostalgia “Perjalanan” itu sekejap saja, karena tidak lama kemudian saya sudah berada di Padaleman, lalu Cikoneng, Maruyung, Buntultanggol, dan akhirnya Resmitinggal, berhadapan langsung dengan gunung legendaris itu, Rakutak. Di sekitar Harempoy sempat berhenti sebentar di warung untuk minum kopi dan ngobrol dengan warga. Pemeriksaan wilayah utama memang ada di wilayah ini hingga hulu Ci Tarum.

Tapi kemudian di Cinenggelan terjadi sebuah obrolan dengan seorang pekerja ladang yang mengubah sebagian besar rencana hari ini. Mendengarkan pengalaman peladang yang kelahiran kampung sekitar Rumbia ini cukup menarik. Dia menyebutkan beberapa dano, hutan pekat, dan jalur-jalur jalan tembus ke beberapa daerah lain dari tempat kami berada. Beberapa nama yang disebutkan sangat mengundang perhatian, Monteng, Puncak Cae, dan Asrama. Continue reading “Puncak Cae”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑