Search

mooibandoeng

Senantiasa Belajar Kenal dan Cinta Kota Bandung

Category

Sejarah

Tan Sin Hok: Ahli Mikropaleontologi Dunia dari Cianjur

Beberapa waktu lalu di internet saya menemukan situs http://brieven-tan-schepers.nl/ yang berisi arsip surat-surat yang dikirmkan oleh pasangan suami-istri Eida Tan-Schepers dan Tan Sin Hok yang tinggal di Bandung kepada orangtua Eida, Sari dan Menno Schepers-Cohen, yang tinggal di Den Haag, Belanda. Arsip surat-surat ini berangka tahun antara 1929 sampai 1946.

Seperti biasa, apa saja yang menyangkut cerita Bandung tempo dulu selalu menarik perhatian saya. Begitu juga dengan pasangan Tan Sin Hok dan Eida Schepers yang pernah tinggal di Bandung ini. Dari situs itu saya ketahui mereka tinggal di sebuah rumah dengan alamat Van Hoytemaweg nomor 4. Nama alamat ini cukup mengejutkan karena merupakan alamat rumah yang dipakai sebagai sekretariat Komunitas Aleut selama ini. Nama alamat sekarang adalah Jl. Sumur Bandung, namun kadang-kadang bersama rekan komunitas kami iseng juga mencantumkan nama alamat pada masa Hindia Belanda itu. Karena itulah saya cukup hafal nama alamat Van Hoytemaweg.

Sejak penemuan situs Tan-Schepers itu saya berencana akan menulis ringkasan tentang Tan Sin Hok yang ternyata merupakan tokoh dengan prestasi keilmuan yang luar biasa. Namanya dikenal secara internasional sebagai ahli mikropaleontologi, satu cabang ilmu yang memelajari kehidupan purba berdasarkan fosil-fosil kecil (mikro). Laporan-laporan penelitiannya dipublikasikan dalam jurnal-jurnal berbahasa Belanda dan Jerman. Sayang sekali berbagai kesibukan membuat rencana penulisan ini terbengkalai tanpa lanjutan.

Tak lama kemudian, dalam fb-group Geotrek Indonesia tiba-tiba terjadi diskusi singkat tentang tokoh Tan Sin Hok yang awalnya dimulai oleh Pak Munasri Aci dan dilanjutkan oleh Pak Awang Satyana. Saya hanya ikut nimbrung dalam soal alamat Van Hoytemaweg dan lokasi Ereveld di permakaman Pandu. Tan Sin Hok memang tewas terbunuh dalam suatu penyerangan di rumahnya yang dilakukan oleh suatu gerombolan pada masa revolusi.

Selama tinggal di Bandung, beberapa kali keluarga Tan Sin Hok berpindah rumah. Salah satu alamat tempat tinggal yang didiami pada periode 1938-1943 adalah di Van Hoytemaweg (Jalan Sumur Bandung di Kota Bandung sekarang).

tan-sin-hok2005
Foto: https://oorlogsgravenstichting.nl

Continue reading “Tan Sin Hok: Ahli Mikropaleontologi Dunia dari Cianjur”

Gunung Cai Gg. Kina

Gunung Cai Gg. Kina

Hari ini saya berkesempatan mengunjungi dan memeriksa suatu jaringan air peninggalan Hindia Belanda yang terletak di belakang Pabrik Kina. Informasi ini saya dapatkan dari rekan instagram, @dienzfight yang kebetulan berkantor di dekat lokasi jaringan. Ternyata @dienzfight berteman baik dengan Yanti @adetotat yang belakangan ini cukup aktif di Komunitas Aleut. Jadi tadi saya berjanji berjumpa dengan keduanya untuk melihat lokasi jaringan air tua ini.

Tak aneh bila tak banyak orang yang tahu lokasi ini karena letaknya memang agak tersembunyi dari lalu lintas umum. Dalam foto di bawah ini tampak pintu masuk menuju sebuah ruangan besar yang saat ini sudah menjadi gudang. Di dalam ruangan ini ada sebuah bangunan seperti sumur dengan ukuran yang sangat besar, saya rasa diameternya lebih dari 5 m. Tinggi tembok lingkaran sumur sekitar 3 m. Bagian dalam sumur raksasa ini dipenuhi oleh pasir kwarsa, dan sampah2 gudang. Dugaan sementara, sumur ini berfungsi sebagai penyaring air.

IMG_20150522_130614 Continue reading “Gunung Cai Gg. Kina”

Gedung Merdeka

Foto koleksi delcampe.net
Foto koleksi delcampe.net

Pada penutupan Konferensi Asia Afrika tanggal 24 April 1955, Presiden Sukarno memberikan nama baru bagi gedung Societeit Concordia, yaitu Gedung Merdeka. Sudah satu minggu sejak tanggal 18 April, Societeit Concordia dijadikan tempat konferensi negara-negara Asia-Afrika. Semangat menuju kemerdekaan bangsa-bangsa adalah hasil utama konferensi ini yang dituangkan dalam The Final Communique of the Asian-African Conference, salah satu isinya terkenal dengan sebutan Dasasila Bandung.

Societeit Concordia didirikan tahun 1895 oleh Asisten Residen Priangan, Pieter Sijthoff, sebagai wadah berkumpulnya orang-orang Eropa yang tinggal di Bandung dan sekitarnya saat itu, kebanyakan anggotanya dari golongan elite. Warga Eropa golongan ini sedikit banyak ikut membangun Bandung menjadi perkotaan yang modern untuk ukuran saat itu. Continue reading “Gedung Merdeka”

Tan Sim Tjong (3)

Bagian ketiga:

Pencarian Makam Tan Sim Tjong

SEMASA hidupnya, Tan Sim Tjong dikenal sebagai saudagar kaya yang memiliki tanah luas yang tersebar di antara Cibadak, Jalan Raya Barat (Jenderal Sudirman sekarang, RED), dan sekitar Kali Citepus. Selain sebuah rumah gedong besar, keluarga Tan Sim Tjong juga memiliki kebun yang ditanami pohon bambu Cina dan pohon jeruk. Saking luasnya kebun jeruk itu, isteri Tan Sim Tjong disebut warga sekitar dengan sebutan Nyonya Kebon Jeruk. Kini, area tersebut dinamai Kelurahan Kebon Jeruk.

Selain di wilayah itu, tanah Tan Sim Tjong juga ada di ujung Jalan Raya Barat, tepatnya di wilayah Elang. Pada saat itu, Elang masih merupakan area hutan dan pesawahan. Di area itulah Sim Tjong memilih lahan sebagai makam dirinya. Karena adanya makam orang Tionghoa, sampai sekarang kampung tersebut dinamakan Sentiong.

Batu nisan makam Tan Sim Tjong di Kampung Sentiong, Jalan Elang, Kota Bandung.
Batu nisan makam Tan Sim Tjong di Kampung Sentiong, Jalan Elang, Kota Bandung.

Continue reading “Tan Sim Tjong (3)”

Tan Sim Tjong (2)

Bagian kedua:

Gang Simcong dan SD Simcong

DI dalam roman Rasia Bandoeng, Tan Shio Tjhie digambarkan sebagai sosok yang progresif karena tidak menentang kehendak anaknya, Tan Tjin Hiauw, untuk menjalin hubungan asmara dengan Tan Gong Nio. Padahal, dalam adat budaya Tionghoa saat itu, perkawinan satu marga (she) adalah hal tabu dan terlarang. Tan Shio Tjhie tahu benar soal itu, namun ia berbesar hati mengantar anaknya itu untuk melamar sang pujaan hati.

Sosok Tan Shio Tjhie diyakini tak lain adalah Tan Sim Tjong oleh cucu cicitnya. Bagi sosok saudagar seperti Tan Sim Tjong, hubungan asmara anaknya dengan Tan Gong Nio adalah tantangan yang sangat berat karena itu artinya harus melawan adat. “Rupanya dia punya gebrakan pada masanya, contohnya mendukung perkawinan satu marga. Itu saya anggap sebagai sesuatu sosok yang progresif, menyayangi anak, dan memberi keleluasaan bergerak,” ujar cicit Tan Sim Tjong, Bambang Tjahjadi. Continue reading “Tan Sim Tjong (2)”

Tan Sim Tjong (1)

Berikut ini serial penelusuran tokoh Tan Sim Tjong yang ditulis oleh rekan saya dan sudah dimuat bersambung di HU Pikiran Rakyat

Bagian Pertama:

Telusur Silsilah Melalui Roman

MENJELANG Imlek lalu, Pikiran Rakyat mengulas sebuah roman Tionghoa yang menceritakan perkawinan satu marga (she) di Bandung pada tahun 1917. Roman berjudul Rasia Bandoeng yang ditulis oleh Chabbaneau itu mengisahkan drama percintaan antara Tan Tjin Hiauw dan Tan Gong Nio. Satu abad berlalu, roman tersebut ternyata menyisakan sebuah cerita nyata bagi turunan keluarga Tan Sim Tjong.

Adalah Charles Subrata, Bambang Tjahjadi, Wishnu Tjahyadi, Adji Dharmadji, dan dr. Benjamin J. Tanuwihardja, SpP, FCCP yang kemudian berkumpul di Kantor Redaksi Pikiran Rakyat pada Jumat (3/4/2015). Mereka adalah cucu dan cicit Tan Sim Tjong yang telah puluhan tahun tinggal berpencar. Charles bermukim di Belanda, Bambang di Jerman, Adji di Jakarta, Wishnu di Bekasi, dan Benjamin di Bandung. Turut pula Tjandra Suherman sebagai penerjemah Bahasa Tionghoa. Atas bantuan Direktur Pusat Studi Diaspora Tionghoa, Sugiri Kustedja, mereka berkumpul mengonfirmasi cerita demi penelusuran silsilah keluarga. Continue reading “Tan Sim Tjong (1)”

Gedung Swarha

Sumber foto: kitlv.nl
          Sumber foto: kitlv.nl

Foto ini menggambarkan suasana keramaian di Bandung saat merayakan Jubileum Ratu Wilhelmina pada tahun 1923. Foto diambil di sudut barat daya Alun-alun, di depan sebuah toko pakaian dan kelontong, Toko Tokyo. Pada gambar dapat dilihat plang nama Toko Tokyo di atas pintu gedung di sebelah kanan.

Toko Tokyo dibangun tahun 1914 dan hancur pada tahun 1940-an, kemungkinan pada sekitar peristiwa Bandung Lautan Api. Angka tahun pembangunan didapatkan dari angka yang tercetak besar pada atap gedung sebelah kanan. Dari sebuah foto udara yang dibuat oleh ML-KNIL tahun 1946 dan dimuat dalam buku karya RPGA Voskuil, “Bandung; Citra Sebuah Kota”, tampak lahan Toko Tokyo kosong dan belum ada bangunan penggantinya. Continue reading “Gedung Swarha”

Prasasti Raja Thailand di Curug Dago, Bandung

Prasasti Raja Thailand di Curug Dago-1   Prasasti Raja Thailand di Curug Dago-2 Prasasti Raja Thailand di Curug Dago-3   Prasasti Raja Thailand di Curug Dago-4

Tahun 1989 seseorang menemukan dua buah batu bertulis di tebing dekat Curug Dago. Lalu ia mengumumkan penemuannya di media cetak. Mungkin sempat membuat heboh warga Bandung. Lalu muncullah berbagai dugaan tentang apa sebenarnya batu bertulis itu, siapa yang membuatnya?

Informasi awal mulai bermunculan. Itu huruf Siam, digurat oleh dua orang Raja Siam (Thailand), masing-masing Rama V dan Rama VII, yang memang pernah datang berkunjung ke kota Bandung dalam kesempatan berbeda, masing-masing tahun 1896 dan 1901. Tetapi apa makna tulisan itu? Kenapa mereka membuatnya di situ?

Dugaan-dugaan berkembang. Lokasi Curug Dago memiliki suasana magis, ada sesuatu yang saral di sana. Sepertinya Raja Siam bersemedi di bawah air terjun itu. Air Ci Kapundung pada saat itu tentulah begitu jernihnya, di tengah lingkungan hutan yang lebat dan asri, tenang, sejuk, dan memberikan ketenteraman. Gemuruh air terjun pada saat itu tentu cukup menggetarkan, mengingat polusi suara belumlah separah zaman modern ini.

Pada tahun 2001 terbitlah sebuah buku dengan judul “Journeys to Java by a Siamese King” yang ditulis oleh Imtip Pattajoti Suharto. Isi buku ini sesuai judulnya, mengisahkan perjalanan Raja Siam ke Pulau Jawa.

Continue reading “Prasasti Raja Thailand di Curug Dago, Bandung”

Dua Dunia Trans7: Gua Belanda dan Gua Jepang di Tahura Ir. Djuanda

10933844_386696264833557_214986958903502471_n

Hari ini berkunjung ke Gua Jepang yang terletak di dalam kompleks Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, di sebelah utara Kota Bandung. Sebagai taman hutan, inilah yang pertama kali didirikan di Hindia Belanda, peresmiannya dilakukan pada tahun 1922.

Sebelum keberadaan taman hutan, di kawasan ini sebelumnya sudah pernah dibuat suatu jalur pemanfaatan air sungai Ci Kapundung untuk keperluan air bersih warga kota. Mulanya dengan membuat sebuah bendungan. Belum diketahui persis kapan waktu pembuatannya tetapi kemungkinan berlangsung di antara 1890 – 1906. Bendungan ini mengalami kerusakan beberapa tahun kemudian. Sisa-sisa bangunannya masih dapat ditemukan di dalam kawasan Tahura di dekat lokasi Curug Koleang. Continue reading “Dua Dunia Trans7: Gua Belanda dan Gua Jepang di Tahura Ir. Djuanda”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑