Search

mooibandoeng

Senantiasa Belajar Kenal dan Cinta Kota Bandung

Category

Parijs van Java

Kawin Semarga di Bandung Baheula – Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (1)

Berikut ini saya muatkan artikel bersambung tulisan rekan saya, Lina Nursanty, yang membahas sebuah roman baheula dengan latar cerita Kota Bandung di awal abad ke-20.
Selamat membaca!

Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (1)

Kawin Semarga di Bandung Baheula

Pengantar:
Roman lahir untuk melukiskan perbuatan, watak, dan isi jiwa sang tokoh yang lebih banyak membawa sifat-sifat zaman. “Rasia Bandoeng” yang ditulis Chabanneau pada 1917 memotret kehidupan masyarakat Tionghoa di Bandung awal abad ke-20. Memperingati Tahun Baru Imlek 2566, wartawati Pikiran Rakyat, Lina Nursanty, membahas roman yang hampir satu abad itu. Selamat membaca.

Capture-1
Cuplikan pemuatan artikel ini (bagian 1) di HU Pikiran Rakyat, Selasa, 17 Februari 2015. Continue reading “Kawin Semarga di Bandung Baheula – Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (1)”

Advertisements

Prasasti Raja Thailand di Curug Dago, Bandung

Prasasti Raja Thailand di Curug Dago-1   Prasasti Raja Thailand di Curug Dago-2 Prasasti Raja Thailand di Curug Dago-3   Prasasti Raja Thailand di Curug Dago-4

Tahun 1989 seseorang menemukan dua buah batu bertulis di tebing dekat Curug Dago. Lalu ia mengumumkan penemuannya di media cetak. Mungkin sempat membuat heboh warga Bandung. Lalu muncullah berbagai dugaan tentang apa sebenarnya batu bertulis itu, siapa yang membuatnya?

Informasi awal mulai bermunculan. Itu huruf Siam, digurat oleh dua orang Raja Siam (Thailand), masing-masing Rama V dan Rama VII, yang memang pernah datang berkunjung ke kota Bandung dalam kesempatan berbeda, masing-masing tahun 1896 dan 1901. Tetapi apa makna tulisan itu? Kenapa mereka membuatnya di situ?

Dugaan-dugaan berkembang. Lokasi Curug Dago memiliki suasana magis, ada sesuatu yang saral di sana. Sepertinya Raja Siam bersemedi di bawah air terjun itu. Air Ci Kapundung pada saat itu tentulah begitu jernihnya, di tengah lingkungan hutan yang lebat dan asri, tenang, sejuk, dan memberikan ketenteraman. Gemuruh air terjun pada saat itu tentu cukup menggetarkan, mengingat polusi suara belumlah separah zaman modern ini.

Pada tahun 2001 terbitlah sebuah buku dengan judul “Journeys to Java by a Siamese King” yang ditulis oleh Imtip Pattajoti Suharto. Isi buku ini sesuai judulnya, mengisahkan perjalanan Raja Siam ke Pulau Jawa.

Continue reading “Prasasti Raja Thailand di Curug Dago, Bandung”

Jejak yang Memudar: Sukarno di Bandung, Bagian 3

KARYA-KARYA ARSITEKTUR SUKARNO DI BANDUNG

Setelah lulus sebagai Insinyur Sipil dari Technische Hoogeschool (THS), Sukarno dan kawan-kawan membentuk Algemeene Studie Club mencontoh yang sudah dilakukan oleh Dr. Sutomo di Surabaya. Organisasi Indonesische Studie Club yang didirikan oleh Dr. Sutomo aktif membangkitkan kesadaraan sosial dan politik masyarakat. Sukarno sangat hormat pada apa yang sudah dilakukan oleh Dr. Sutomo dan menjadikannya sebagai inspirasi untuk mendirikan organisasi serupa di Bandung. Sukarno ingin kelompok yang akan didirikannya bersama kawan-kawan dapat berperan lebih jauh lagi, lebih meluas, dan lebih progresif.

Rumah Bersejarah di Jl. Ciateul yang menjadi tempat berkumpul menajamkan ide-ide kemerdekaan RI.
Rumah Bersejarah di Jl. Ciateul yang menjadi tempat berkumpul menajamkan ide-ide kemerdekaan RI.

Sukarno kemudian terpilih untuk mengetuai Algemeene Studie Club dengan didampingi oleh Anwari dan Iskaq. Saat itu Sukarno sudah membayangkan bahwa organisasi yang baru mereka bentuk ini akan menuju pada pembentukan suatu partai dengan dasar kebangsaan yang luas. Tak lama, Studie Club ini telah berkembang ke daerah-daerah dan mengambil peran penting dalam mengembangkan gerakan-gerakan kebangsaan.

Dari sedikit buku yang membahas sisi Sukarno sebagai arsitek itu pun tidak ada yang memiliki daftar lengkap karya-karya arsitektur Sukarno di Bandung.

Continue reading “Jejak yang Memudar: Sukarno di Bandung, Bagian 3”

Jejak yang Memudar: Sukarno di Bandung, Bagian 2

TAPAK TILAS SUKARNO DI BANDUNG

Sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Kota Bandung pada tahun 1921 hingga pembuangannya ke Ende, Flores, pada tahun 1934, maka paling sedikit Sukarno melewatkan waktu sekitar 14 tahun di Bandung. Nah, bila sekarang ada yang bertanya di mana saja Sukarno pernah tinggal, atau ke mana saja beliau suka pergi selama di Bandung, maka jawabnya tidak akan mudah. Tidak ada rekaman jejak yang rinci tentang hal itu. Mungkin yang akan paling mudah teringat adalah kampus ITB di Jl. Ganesha, tempat Sukarno menjalani pendidikan hingga lulus sebagai insinyur sipil pada tahun 1926. Atau sebagian akan mengenang Gedung Merdeka sebagai perekam jejak inisiatif Presiden Sukarno untuk memerdekakan bangsa-bangsa di Asia-Afrika.

IMG_8490

Tapi tentu saja dua tempat itu tidak cukup mewakili perjalanan panjang seorang pemuda pribumi yang telah menghabiskan masa mudanya ikut berjuang merintis kemerdekaan Republik Indonesia, pemuda yang kemudian menjadi pemimpin pertama negara merdeka ini sejak 1945 hingga 1967. Ada banyak lokasi ataupun gedung yang sebetulnya merekam jejak Sukarno di Bandung, tetapi rupanya hal ini belum menjadi perhatian utama baik dari pemerintah ataupun masyarakat kita.

Hampir semua tokoh utama perjuangan saat itu pernah datang ke rumah panggung ini untuk bertukar pandangan dan merancang berbagai gerakan untuk meraih kemerdekaan Indonesia. Rumah panggung ini merekam jejak kehadiran Agus Salim, Abdul Muis, K.H. Mas Mansur, Moh. Hatta, M.H. Thamrin, Moh. Yamin, Trimurti, Oto Iskandardinata, Dr. Soetomo, Asmara Hadi, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya.

Continue reading “Jejak yang Memudar: Sukarno di Bandung, Bagian 2”

Nisan-Nisan yang Tercecer

Beberapa kompleks makam sudah disebutkan dalam artikel sebelumnya, tetapi sebetulnya di Bandung juga masih terdapat kompleks-kompleks makam lainnya seperti makam-makam keluarga yang terletak di tengah kota. Saat ini situasi makam-makam itu semakin terhimpit oleh permukiman sehingga sering luput dari perhatian. Umumnya makam-makam ini milik keluarga-keluarga yang sudah punya sejarah panjang juga di Kota Bandung.

Sebagian makam-makam ini adalah permakaman keluarga yang umumnya berhubungan dengan sejarah Pasar Baru di Bandung. Tak jarang keberadaan makam seperti ini bahkan tidak disadari oleh warga di sekitarnya seperti yang berada di Jl. Cipaganti, Jl. Siti Munigar, Jl. Sukajadi, Jl. Cihampelas, Jl. Kiaracondong, dan seterusnya. Lalu ada juga kompleks makam yang relatif terawat karena berada di bawah suatu lembaga atau yayasan milik keluarga seperti kompleks makam bupati Bandung yang terdapat di Jl. Karanganyar dan Jl. Dalem Kaum.

Nisan Letnan Tionghoa Pertama di Bandung

Selain makam, ada juga cerita menarik tentang beberapa nisan yang tercecer di sudut kota. Misalnya saja yang baru-baru ini ditemukan kembali, yaitu nisan dari seorang pemimpin masyarakat Tionghoa di Bandung tempo dulu, Luitenant Oeij Bouw Hoen. Nisan ini ditemukan menempel menjadi bagian tembok belakang sebuah rumah di tengah permukiman padat di Babakan Ciamis. Tak ada warga sekitar yang dapat bercerita banyak soal nisan ini, kebanyakan dari mereka adalah pendatang dari berbagai daerah lain di Pulau Jawa. Continue reading “Nisan-Nisan yang Tercecer”

Wisata Permakaman di Bandung

10276425_10200982111313342_584111480_n

Bila sampai tahun 1970-an warga Bandung bisa berrekreasi ke lokasi makam warga Eropa di Kerkhof Kebon Jahe, lalu bagaimana dengan sekarang setelah Kerkhof Kebon Jahe tidak ada lagi? Di Jakarta, nisan dari makam-makam tua dikumpulkan di satu tempat yang dinamai Taman Prasasti dan dapat berkembang menjadi satu tujuan wisata yang cukup populer. Selain menikmati berbagai bentuk makam dan nisan, kalangan penggemar wisata sejarah dapat menemukan lebih banyak hal lagi di sana, misalnya dengan menelusuri nama-nama yang tertera pada nisan-nisan tua, mengenali tokoh-tokoh Batavia di masa lalu, dan seterusnya.

Sebetulnya Kota Bandung masih dapat melakukan hal serupa. Sebagian makam yang dibongkar dari Kebon Jahe dipindahkan ke Makam Kristen Pandu dan masih dapat ditemui di sana. Apabila makam-makam ini dikumpulkan di dalam satu area, tentu masih mampu menghadirkan cerita-cerita Bandung tempo dulu yang belakangan ini semakin diminati masyarakat Bandung. Berikut ini sebagian cerita nisan dan makam yang masih dapat disaksikan di kompleks Permakaman Pandu. Continue reading “Wisata Permakaman di Bandung”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑