Search

mooibandoeng

Senantiasa Belajar Kenal dan Cinta Kota Bandung

Category

Galeri

Achdiat Karta Mihardja

image

Oleh @aryawasho

Nama Achdiat Karta Mihardja mungkin terdengar asing di telinga khalayak umum. Lain halnya dengan cucu dari Achdiat, Jamie Aditya, yang jauh lebih dikenal khalayak umum karena pernah menjadi VJ MTV di tahun 90-an. Saya sendiri pertama kali mengenal sosok Achdiat melalui novel “Atheis”, novelnya yang terbit pertama kali di tahun 1949.

Achdiat Karta Mihardja lahir di Cibatu, Garut, pada tanggal 6 Maret 1911. Achdiat besar di keluarga yang gemar membaca. Tak heran saat ia berkesempatan untuk melanjutkan sekolahnya setingkat SMA di Solo, ia memilih jurusan sastra dan kebudayaan timur.

Setelah lulus sekolah setingkat SMA di tahun 1932, ia sempat berkiprah di berbagai media massa sebagai redaktur di Bintang Timur dan majalah Gelombang Zaman (Garut), Spektra, Pujangga Baru, Konfrontasi, dan Indonesia. Kemudian di tahun 1948, ia bergabung ke Balai Pustaka dengan jabatan yang sama. Saat bergabung Balai Pustaka inilah minatnya terhadap kesusastraan tumbuh.

Meskipun “Atheis” bukanlah satu-satunya karya yang Achdiat tulis, namun dari novel inilah ia dikenal luas sebagai sastrawan hingga mendapatkan banyak penghargaan.

Continue reading “Achdiat Karta Mihardja”

Becak

image

Oleh @fan_fin

“Tuang jang?”
“Mangga.., mangga, Pak”
Begitu serunya dengan mulut yang masih dipenuhi makanan, lantang tapi belepotan menawarkan kepada saya nasi kuning yang tengah ia makan sebagai pengganjal perut di pukul sepuluh pagi.

Sedangkan saya sendiri menjawab tawarannya sambil asyik di belakang jendela bidik menangkap setiap gerakan dari figur unik yang saya temukan hari itu di sekitar Jalan Arjuna Bandung.

Figur yang saya temui itu adalah Pak Aang, seorang penggenjot becak yang sudah 20 tahun lebih mencari nafkah di Bandung, khususnya di sekitaran jalan Arjuna, Ciroyom dan Pajajaran, hampir seluruh warga sekitar sudah sangat mengenalnya, ibu-ibu yang melintas pulang dari pasar pun sudah begitu akrab menyapanya. Dandanannya yang nyentrik cukup mudah dikenali, dan menjadi daya tarik orang yang lalu lalang.

Pak Aang hanyalah satu dari sekian banyak orang yang mencari penghidupan dari menarik becak, satu moda transportasi yang sampai sekarang masih digunakan di Bandung, namun sudah mengalami pergeseran fungsi. Memang sejatinya becak dapat ditemukan pula di berbagai kota lainnya di Indonesia, bahkan di luar negeri pun becak masih digunakan sebagai saran transportasi dengan berbagai sebutan dan bentuk. Namun, semenjak saya kecil bentuk becak yang di Bandung inilah yang saya kenali sampai saya beranjak dewasa dan mengunjungi beberapa kota lain di Indonesia yang juga masih menggunakan becak.

Saya rasa ada peran pemerintah terhadap majunya becak sebagai moda transportasi wisata di Yogyakarta, dapat saya lihat di Jalan Malioboro, aparat hukum berdampingan dengan tukang becak dan delman di samping jalan.

Continue reading “Becak”

Sosrokartono

image
Foto @KomunitasAleut

Oleh @tiarahmii

Drs. R.M.P. Sosrokartono
Walaupun nama beliau sama besarnya dengan Sang Adik, R.A. Kartini, namun sosok beliau tidak sepopuler Sang Adik dalam ingatan masyarakat Indonesia.

Setelah 29 tahun hidup di Eropa, Sosrokartono memutuskan pulang dan menetap ke Hindia Belanda. Kota pilihannya adalah Bandung. Sosrokartono mendirikan sebuah rumah panggung terbuat dari kayu berdindingkan bambu yang terletak di Poengkoerweg No 19. Rumah itu diberi nama Darussalam yang berarti “Rumah Kedamaian”.

Darussalam sering juga digunakan sebagai tempat berkumpul tokoh-tokoh pergerakan seperti Soekarno, dan Abdoel Rachim, kelak akan jadi mertua Mohamad Hatta. Partai Nasional Indonesia dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie juga sering menggunakan gedung ini sebagai tempat pertemuan.

Tidak hanya menjadi rumah tinggal, Darussalam juga berfungsi sebagai balai pengobatan. Media pengobatan yang diterapkan oleh Sosrokartono dengan air putih yang dicelupkan kertas bertuliskan huruf Alif. Tak heran, Sosrokartono di Bandung dikenal sebagai dokter Cai atau dokter Alif.

Continue reading “Sosrokartono”

Gugum Gumbira

image

Oleh @arnizimansari

Siapa yang tidak kenal dengan istilah Jaipong atau Jaipongan? Nama ini identik dengan Kota Bandung. Jaipong merupakan salah satu bentuk seni tari yang tumbuh dan berkembang di Kota Bandung, kemudian menyebar ke seluruh wilayah Priangan. Belakangan ini Jaipong digambarkan sebagai tarian yang lincah dan banyak gerakan pinggul. Namun banyak yang tidak mengetahui bahwa Jaipong pada awalnya merupakan tarian yang menggambarkan seorang wanita anggun dan cantik, namun memiliki kemampuan bela diri yang lihai. Pencipta genre tari ini tidak lain adalah Gugum Gumbira.

Gugum Gumbira adalah seorang seniman tari sekaligus karawitan yang merasa tertantang untuk mengembangkan kesenian tradisional atas dasar pelarangan musik rock and roll oleh Presiden Sukarno pada tahun 1961. Gugum yang sedari awal sudah memiliki minat tinggi terhadap kesenian tradisional, mempelajari kesenian-kesenian rakyat yang ada di Jawa Barat. Di antaranya adalah ketuk tilu, topeng banjet, dan pencak silat. Pada masa itu, sinden pada ketuk tilu berfungsi sebagai penari pula. Oleh Gugum, sinden difokuskan fungsinya hanya sebagai penyanyi dalam komposisi musik karawitannya saja.

Berbagai macam gerakan tari disadur kemudian dipadukan dengan gerakan pencak silat. Ini bertujuan untuk memberikan citra bahwa perempuan yang cantik, berbadan sintal, luwes, serta menarik hati, mampu mempertahankan dirinya melalui gerakan-gerakan bela diri, yaitu pencak silat.

Kecantikan dan kemolekan mojang Priangan betul-betul ditunjukkan melalui busana tarinya. Namun Gugum juga ingin menunjukan bahwa wanita Sunda tidak mudah ditaklukan begitu saja oleh kaum laki-laki, oleh karena itu banyak disisipkan gerakan-gerakan pencak silat.

Continue reading “Gugum Gumbira”

Upit Sarimanah

image

Oleh @anggicau

Suryamah atau lebih dikenal sebagai Upit Sarimanah, adalah sinden yang terkenal di tahun 1950-an. Dia lahir di Sadang, Purwakarta, 16 April 1928. Bakat menyanyi Upit sudah terlihat usia 6 tahun. Upit mengorbit saat itu karena suaranya berhasil mengalun di radio Hindia Belanda, NIROM. Sebelum kelak moyan sebagai pesinden, Upit lebih banyak memainkan musik berirama keroncong atau Hawaiian yang memang sedang menjadi trend pada saat itu.

Karir Upit terus menanjak ketika bergabung dalam rombongan orkes Hawaiian Lieve Java. Pada tahun 1950 namanya semakin terkenal setelah turut serta dalam rombongan Kliningan seni Sunda RRI Jakarta pimpinan R Toteng Djohari.

Salah satu puncaknya adalah ketika Upit manggung di gedung YPK Jalan Naripan pada malam tahun baru 1956. Sebetulnya yang datang mengisi acara saat itu adalah rombongan RRI Jakarta, namun yang paling ditunggu oleh warga Bandung sebetulnya adalah salah satu penyanyinya, Upit Sarimanah. Di YPK, Upit manggung bersama dalang Gandaatmaja dari Dayeuhkolot.

“Cikapundung..Cikapundung..Cikapundung.. walungan di Kota Bandung
Kota kembang kota midang kota pangbangbrang kabingung”.

Continue reading “Upit Sarimanah”

Kina Pertama

image

160 tahun yang lalu, Franz Wilhelm Junghuhn, menanam kina pertamanya di daerah Pangalengan. Tentu ini bukanlah kina pertama yang ditanam di Pulau Jawa. Lokasi ini juga bukanlah satu2nya tempat penanaman kina itu, sebab Hasskarl sudah pernah menanam bibit yang dibawanya dari Peru di Cibodas. Tapi di sinilah monumen peringatan penanaman kina didirikan pada tahun 1955.

Tak jauh dari jalan raya Pangalengan, Junghuhn juga menanam kina di daerah yang kelak bernama Kampung Kina, Cibeureum. Selain itu juga di halaman rumah kerjanya di sebuah komplek bukit dekat Wanasuka yang sekarang bernama Pasir Junghuhn dan kemudian di tempat tinggalnya yang baru di Lembang.

Jauh sebelum kedatangan keluarga Preangerplanters yang dipelopori oleh Willem van der Hucht, Junghuhn sudah berkali-kali mengelilingi wilayah Jawa bagian Barat. Ia sudah hadir di Pangalengan dan mendaki Malabar sebelum kedatangan Kerkhoven atau Bosscha.

Continue reading “Kina Pertama”

Pasir Junghuhn

12555983_1105901679454841_1931221710_n

Pabrik Teh Pasir Junghuhn.

Dulunya pabrik kina, tapi sekarang sudah tidak ada kebun kina di sini. Dulu pabrik ini berdiri sendiri, tapi sekarang menjadi bagian perkebunan lain yang lebih besar. Setelah pabrik, masih ada jalan batu rusak menuju kampung terakhir di kawasan ini, Srikandi. Setelah itu hutan dan gunung yang berbatasan dengan Kab. Garut. Di depan pabrik ada sebuah rumah sakit, RS Pasir Junghuhn, yang terpencil dan sepi. Hari ini hanya ada tujuh pasien di sana. Tak ada orang lalu-lalang, hanya seorang petugas keamanan yang terlihat sedang ngoprek gadgetnya. Tidak butuh waktu lama untuk mengelilingi RS dan pabrik dengan nama sama ini.

Di bawah, sebuah rumah tua yang tersambung dengan rumah dinas bergaya kolonial masih berdiri, namun tanpa penghuni. Warga pikir saya mau uji nyali di sana. Tidak. Saya jalan2 saja, lihat2 masa lalu.

Gedung Kuning, Ciparay

12552270_458906830984006_1176538926_n

Gedung Kuning di sebelah Pasar Ciparay.

Sepulang roadtrip keliling Jawa Barat bagian timur beberapa waktu lalu, saya dkk turun lewat Garut dan Majalaya (jalur Monteng), terakhir mampir di lokasi ini untuk membeli minuman sebelum lanjut pulang ke Buahbatu. Lalu kemarin ada roadtrip lagi keliling beberapa perkebunan di sebelah selatan Bandung, mulai dari wilayah Pangalengan sampai perbatasan Garut dan Ciparay. Kami turun lewat Cikoneng, lagi2 mampir terakhir di lokasi ini.

Mungkin ini kode undangan untuk mapay2 Ciparay dengan sawah dan kebun2nya :-)) .

 

Lapangan Tanah Air

12547688_963925200362755_480398114_n

Benda Cagar Budaya Rumah Bekas Tahanan Bung Hatta dan Sjahrir.
Sukabumi.
_______

Ke mana kita dibawa oleh nasib, ke mana kita dibuang oleh yang berkuasa, tiap-tiap bidang tanah dalam Indonesia ini, itulah juga Tanah Air kita. Teluk yang molek dan telaga yang permai, gunung yang tinggi dan lurah yang dalam, rimba belantara dan hutan yang gelap, ataupun pulau yang sunyi serta pun padang yang lengang, semua itu bagian Tanah air yang sama kita cintai. Semuanya itu tidak boleh asing bagi kita. Dan kita bersedia menempuhnya satu persatu, di mana perlu.
. . .
Di atas segala lapangan Tanah Air aku hidup, aku gembira.
Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang tersimpan dalam dadaku.
. . .

Hatta, 1934.
_________

Hatta dan Sjahrir menumpang pesawat Catalina ke Surabaya, lalu menyambung dengan kereta api ke Jakarta, esoknya dilanjutkan dengan pengawalan ketat Polisi Hindia Belanda ke Sukabumi. Di sini Hatta dan Sjahrir menempati sebuah rumah inspektur polisi buatan tahun 1926, letaknya di dalam komplek Sekolah Polisi Sukabumi.

Continue reading “Lapangan Tanah Air”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑