image

Hana nguni hana mangke
tan hana nguni tan hana mangke
aya ma beuheula aya tu ayeuna
hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna
hana tunggak hana watang
tan hana tunggak tan hana watang
hana ma tunggulna aya tu catangna.

Ada dahulu ada sekarang
bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang
karena ada masa silam maka ada masa kini
bila tidak ada masa silam tidak akan ada masa kini
ada tonggak tentu ada batang
bila tidak ada tonggak tidak akan ada batang
bila ada tunggulnya tentu ada catangnya.

Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy.
______________________

Dua baris dari lembar kelima ini sudah lama juga dikutip jadi moto kegiatan2 @KomunitasAleut selama ini: “Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke”.

Kropak 632 adalah sebuah naskah yang terdiri dari enam lembar lontar yang ditulis dengan tinta hitam dengan perkiraan pembuatan pada abad ke-15, lebih tua dari naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian (1518 M) atau Carita Parahyangan (1580 M). Naskah ini ditemukan di Kampung Ciburuy yang terletak di lereng Gunung Cikuray.

Adalah Karel Frederik Holle, pengusaha perkebunan teh Waspada, yang pertama kali menyebutkan keberadaan naskah ini dalam Bijdragen tot de Geschiedenis der Preanger-Regentschappen (1869). Di situ Holle menyebut tentang tiga buah naskah Sunda kuno yang diserahkan oleh Raden Saleh ke Bataviaatsch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen tahun 1867.

Naskah ini dikumpulkan oleh Jan Laurens Andries Brandes dan dicatat oleh Nicolaas Johannes Krom dalam Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (Laporan Kepurbakalaan Jawa Barat) pada tahun 1914. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Karel Frederik Holle, kemudian dilanjutkan oleh Cornelis Marinus Pleyte dan Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka (1917).

Penelitian awal tidak ada yang berhasil tuntas sehingga terbengkalai sampai kemudian Atja dan Daleh Danasasmita melakukan penelitian ulang pada tahun 1987. Atja dan Saleh memberikan judul “Amanat Galunggung” untuk pembahasan enam lembar naskah ini. Menurut Atja, inti naskah ini memang merupakan nasihat Rakeyan Darmasiksa kepada puteranya, Sang Lumahing Taman. Menurutnya nasihat itu berasal dari Penguasa Kerajaan Galunggung.

Lembar kelima kropak 632 ini menyuratkan nasihat yang belakangan ini sering disebut sebagai “kesadaran sejarah”. Dua baris dari lembar kelima ini sudah lama juga dikutip jadi moto kegiatan2 @KomunitasAleut selama ini: “Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke”.

*Salinan naskah di atas diambil dari “Amanat Galunggung” karya Atja dan Saleh Danasasmita.

Advertisements