Lanjutan kisah Roman Rasia Bandoeng oleh Lina Nursanty.

SERAYA berseloroh, Charles Subrata menyebut kisah cinta antara Tan Gong Nio dan Tan Tjin Hiauw dalam novel roman Rasia Bandoeng yang terbit pada awal abad ke-20 di Kota Bandung sebagai “Kisah Romeo-Juliet dari Citepus.” Penyebutan itu terilhami dari kisah perjuangan cinta antara keduanya yang sangat berat karena harus melawan adat feodal.

Seperti diceritakan pada serial ini sebelumnya, Charles yang kini bermukim di Belanda itu mengaku sebagai keponakan Tan Tjeng Hoe yang tak lain adalah Tan Tjin Hiauw yang diceritakan dalam novel tersebut. Seperti juga kerabatnya yang lain, Charles kehilangan jejak kekasih dan isteri pamannya yang bernama Tan Giok Nio atau Hermine Tan. Di dalam novel, nama Hermine diubah menjadi Hilda Tan atau Tan Gong Nio.

Seperti halnya sosok Tan Tjeng Hoe, di mata Charles, sosok Hermine dibayangkan sebagai seorang pejuang cinta. Sebab, saat itu, perkawinan satu marga (she) di kalangan Bangsa Tionghoa masih dianggap sebagai tabu. Namun, Hermine dan Tan Tjeng Hoe yang berasal dari marga Tan, berani mengambil risiko ‘dikeluarkan’ dari keluarga besarnya demi mempertahankan hubungan asmara di antara mereka berdua.

Tentangan itu datang terutama dari orangtua Hermine yang sangat mengecam hubungan percintaan dengan Tan Tjeng Hoe. Sementara, keluarga Tan Tjeng Hoe relatif lebih bersifat terbuka terhadap kehendak cinta anaknya. Buktinya, pernikahan satu marga tidak hanya dilakukan Tan Tjeng Hoe, melainkan juga oleh orangtua Charles atau adik dari Tan Tjeng Hoe yang bernama Tan Tjeng Hay.

Iklan di Harian Sin Po yang terbit pada 2 Januari 1918, dikutip dari buku Tineke Hellwig berjudul Women and Malay Voices. Undercurrent Murmurings in Indonesia’s Colonial Past, halaman 131.

Situasi ini berbeda dengan keluarga Hermine. Saking marahnya, Tan Djin Gie (ayah Hermine yang dalam novel disebut Tan Djia Goan), pernah memasang pengumuman di Harian Sin Po pada 2 Januari 1918. Dalam iklan tersebut, Tan Djin Gie mengumumkan bahwa Hermine Tan sudah secara resmi bukan lagi anggota keluarganya.
Kisah itu dijadikan salah satu fokus kajian oleh seorang ilmuwan yang kini mengajar di Universitas Kanada, Dr. Tineke Hellwig. Wanita kelahiran Surabaya yang tumbuh di Belanda itu pernah mewawancarai anak dan cucu Hermine Tan yang bermukim di Belanda serta membaca sebuah catatan yang tidak diterbitkan yang ditulis oleh keponakan Hermine, William Tjia, yang memiliki nama pena; John Mclean.

Berdasarkan wawancara itulah, kisah hidup Hermine dapat dibaca dalam salah satu bab di buku yang ia tulis; Women and Malay Voices. Undercurrent Murmurings in Indonesia’s Colonial Past. Dalam buku itu, Hermine digambarkan sebagai sosok yang pintar menutup rapat kisah cintanya dengan Tan Tjeng Hoe. Semasa hidupnya, Hermine sangat terintimidasi bukan hanya karena ayahnya tidak menyetujui hubungan cintanya dengan Tan Tjeng Hoe, melainkan juga karena ulah seorang penulis novel yang menggunakan nama samaran, Chabanneau, yang mengangkat kisah cintanya menjadi sebuah novel roman berjudulRasia Bandoeng atawa Satoe Pertjinta-An jang Melanggar Peradatan “Bangsa Tiong Hoa”: Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917.

Novel itu terbit ketika usia Hermine menginjak 20 tahun. Kisah hidupnya ‘dieksploitasi’ secara buruk bukan hanya dalam novel roman Rasia Bandoeng, melainkan dalam tiga judul novel sekaligus. Dua judul novel lainnya, yaitu Tjerita Nona Tan Seng Nio Alias Hermine …, Atawa Tjara Bagimana Orang Toewa Haroes Didik Sama Anaknja. Satoe Tjerita Jang Betoel Soedah Kedadian Lie Bandoeng, Dalem Tahoen 1912 Dan Berachier Tahoen 1917 yang ditulis oleh K.Kh. Liong pada tahun 1918, dan novel berjudulRasianja Satoe Gadis Hartawan yang ditulis oleh Tjermin di tahun yang sama. (Bersambung)

Advertisements