Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (2)

Merekam Denyut Nadi Pusat Kota

Membaca roman Rasia Bandoeng karya Chabanneau dapat membawa kita melancong ke pusat Kota Bandung pada periode awal 1916 dengan deskripsi yang cukup detail. Tampak kuat sekali kesan bahwa mobilitas orang-orang Tionghoa saat itu berada di pusat-pusat kota. Misalnya kediaman tokoh utama roman, yaitu Tan Djia Goan yang berlokasi di Kebonjati.

Dalam roman itu digambarkan bahwa rumah milik Tan Djia Goan adalah sebuah rumah gedong yang cukup megah di Kebonjati. Letaknya berada di samping Rumah Sakit Padri, tepat di depan rumah sakit tersebut ada Hotel Express. Jika disesuaikan dengan konteks Bandung saat ini, agak sulit memastikan letak rumah Tan Djia Goan itu.

Roman (2) 17 februari
Cuplikan pemuatan artikel ini (bagian 2) di HU Pikiran Rakyat, Selasa, 24 Februari 2015.

Mengikuti alur cerita tan Djia Goan dan keluarganya membimbing kita memahami suasana pusat Kota Bandung saat itu. Kehidupan kaum pedagang di Pasar Baru dan sekitar Pecinan, aktivitas pelacuran di kawasan Tegallega dan Suria Ijan, hingga kebiasaan tayub bangsa bumiputra yang juga dilakukan orang Tionghoa dalam kenduri yang mereka selenggarakan.

Latar atau setting kejadian dalam cerita roman berkisar di wilayah Pasar Baru, Cibadak, Pecinan, Suniaraja, Banceuy, Kosambi, Groote Postweg, dan paling jauh ke arah selatan, yaitu di Tegallega. Berikut ini adalah contoh deskripsi atas Gang Kapitan di Kampung Cibadak, kediaman Tan Tjin Hiauw. “Di depan gardu, ada satu gang yang biasa disebut Gang Kapitan, karena mulut gang yang sebelah kaler, ada dekat sekali sama rumahnya Tuan Tan Joen Liong, letnan dari bangsa Tiong Hoa di Bandung”.

Menurut Ketua Pusat Studi Diaspora Tionghoa di Universitas Kristen Maranatha, Sugiri Kustedja, komunitas Tionghoa pada masa itu memang cenderung bermukim di sekitar pusat simpul transportasi, seperti jalan raya, jalan kereta api, stasiun kereta api, dan pasar sebagai pusat perdagangannya, yaitu Pasar Baru karena kegiatan utama mereka bergerak di bidang perdagangan.

Seperti dikutip dari artikel ilmiah yang ditulis Sugiri berjudul “Jejak Komunitas Tionghoa dan Perkembangan Kota Bandung”, dalam laporan EH Karsten pada tahun 1919 kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, disebutkan kegiatan ekonomi Kota Bandung sangat terpusat di daerah Chineezenwijk (Pecinan) di sekitar Pasar Baru. Perpuataran usaha di Pasar Baru lima kali lipat dari pergerakan di Pasar Andir atau Pasar Kosambi.

Untuk mengurai kegiatan ekonomi agar tidak terlalu terpusat di Pasar Baru, pemerintah Hindia Belanda memperbanyak stasiun kereta api. Semula stasiun hanya ada di Kebonkawung (Stasiun Bandung), lalu diperbanyak ke arah timur dan barat. Di arah timur, stasiun kecil itu dibangun di Cikudapateuh, Kiaracondong, Jalan Jawa, dan Jalan Karees. Sementara ke arah barat didirikan stasiun kecil di Andir dan Ciroyom.

Dalam roman itu Chabanneau menceritakan kepindahan keluarga Tan Djian Goan dari Solo ke Bandung pada tahun 1902. Hal itu masuk akal dilakukan Tan Djian Goan karena mulai tahun 1852 pemerintah Hindia Belanda menyatakan Karesidenan Priangan sebagai daerah terbuka untuk pendatang. Sebelumnya, sejak tahun 1821 daerah Priangan dinyatakan tertutup bagi bangsa Belanda, Eropa, dan asing lainnya, termasuk Tionghoa, untuk menetap atau berdagang di daerah Priangan.

Kehadiran orang Tionghoa di Bandung tidak akan pernah terjadi tanpa tangan besi HW Daendels. Ia memindahkan pusat kota dari semula di Dayeuhkolot ke kawasan Jalan Raya Pos yang terletak 10 kilometer ke utara dari kota tua tersebut. Pada tahun 1810, ia menginstruksikan pengalokasian lahan untuk perkampungan orang Tionghoa di Cianjur, bandung, Parakanmuncang, dan Sumedang. Orang-orang Tionghoa dari Batavia didorong untuk bertani tembakau, kapas, dan kacang-kacangan di wilayah-wilayah tersebut.

Namun upaya ini tidak terlalu membuahkan hasil. Orang-orang Tionghoa dari Batavia tidak begitu tertarik membuka lahan pertanian di wilayah-wilayah yang disebut Daendels. Maka Daendels mendatangkan orang-orang Tionghoa dari Cirebon secara paksa.

Kebijakan ini dikoreksi oleh penerusnya, Gubernur Jenderal Van der Cappelen yang pada Juni 1820 melarang pemberian izin kepada orang Tionghoa untuk memasuki wilayah Priangan kecuali atas seizin kaum pribumi. Kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang mengatur keberadaan orang Tionghoa di Tatar Priangan selalu berubah-ubah. Hingga akhirnya, pada tahun 1852, Bandung dinyatakan terbuka bagi pendatang. Dalam roman Chabanneau, Tan Djia Goan adalah salah satu orang Tionghoa yang tertarik merantau ke Bandung karena saat itu Bandung telah menjadi kota bisnis yang menjanjikan.

Setelah dinyatakan terbuka, Bandung mulai diperhitungkan sebagai kota tujuan para perantau dari negeri Tiongkok. Mereka datang menggunakan kapal menuju Bandung melalui Pelabuhan Sunda Kelapa di Batavia atau melalui Pelabuhan Cirebon. Banyak juga orang dari Tiongkok yang didatangkan Belanda untuk dipekerjakan dalam proyek-proyek pembangunan gedung di Bandung. Seperti halnya kelompok Lim A Goh, kontraktor kenamaan asal Kong Hu yang turut membangun Gedung Sate pada tahun 1920-1924.

* * *

Advertisements