10276425_10200982111313342_584111480_n
Makam Pandu tempo dulu.
Sumber foto: Inan Sitorus.

 

Sampai awal tahun 1970-an, Kota Bandung punya objek wisata yang mungkin terdengar ganjil, yaitu permakaman. Tentu bukan permakaman umum biasa, melainkan permakaman orang Eropa yang dulu biasa disebut Kerkhof Kebon Jahe. Kenapa tidak biasa? Ya seperti yang kita tahu, makam-makam orang Eropa biasa diberi hiasan-hiasan secantik mungkin sehingga mengurangi kesan angker di kompleks makam.

Bentuk hiasan ini bermacam-macam, ada patung-patung marmer yang indah berbentuk malaikat atau bidadari, pot-pot bunga berbahan porselen, gelas, sampai kuningan pun ada. Nisan-nisan berbagai ukuran dan bahan diukir dengan indah. Kadang nisan itu berbentuk prasasti dengan ukuran sampai sebesar pintu rumah dan diletakkan terbaring di atas tanah. Ornamen makam pun bermacam-macam, semuanya bergaya tradisional Eropa.

Cerita keadaan Kerkhof Kebon Jahe dan kegiatan pelesiran di kawasan tersebut dituliskan juga oleh Us Tiarsa dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan” (Penerbit Yayasan Galura, 2001). Kerkhof Kebon Jahe dalam kenangan Us Tiarsa adalah tempat yang nyaman, asri, dan banyak mendapatkan kunjungan masyarakat, bukan hanya warga sekitar tetapi juga datang dari daerah lain di Bandung. Bunga-bungaan yang tersusun indah dan pohonan yang meneduhkan ditanam di seluruh penjuru permakaman.

Kaum tua biasa berkelompok mengobrol atau membaca buku di tempat teduh, sering tampak orang-orang bermain catur. Yang remaja main lompat-lompatan antarsuhunan makam, sedangkan anak-anak bermain kucing-kucingan atau berburu potongan marmer untuk dijadikan kelereng. Potongan marmer dibentuk bulat dengan cara dipukuli memakai besi tumpul, lalu dihaluskan menggunakan hampelas. Kadang, marmer itu ditumbuk sampai menjadi bubuk halus dan dijadikan bubuk pembersih porselen atau barang kerajinan.

Tapi Kerkhof Kebon Jahe sudah lama hilang dari Kota Bandung. Kompleks permakaman ini dibongkar pada tahun 1973 untuk dijadikan lapangan olah raga yang kita kenal sekarang dengan nama GOR Pajajaran. Sejumlah makam yang ada dipindahkan ke beberapa lahan lain seperti ke Permakaman Kristen Pandu, Sadangserang, dan kompleks makam di sebelah barat Tamansari. Entah bagaimana pemilihan makam yang dipindahkan itu tetapi sepertinya tidak semua makam terpindahkan. Mungkin sebagian rusak dan hancur, lalu musnah. Sebagian lagi tercecer di sana-sini seperti sebuah nisan besar yang dijadikan alas cucian warga di sekitar mata air Ciguriang.

Keluarga Ursone

Tanpa disadari, pembongkaran yang dilakukan telah menghilangkan sebagian jejak sejarah Kota Bandung, padahal makam juga memiliki fungsi sebagai artefak yang menyimpan informasi sejarah. Makam-makam pindahan di Sadangserang dan Tamansari juga sudah lama dibongkar untuk dijadikan kompleks perumahan dan kampus. Tak ada sisa dari kedua tempat ini. Di Permakaman Pandu yang sebagian isinya merupakan pindahan dari Kerkhof Kebon Jahe, kita masih dapat menggali pernik cerita masa lalu kota ini. Misalnya saja dari sebuah makam berbentuk bangunan bergaya Eropa dari keluarga Ursone. Di bagian luar bangunan dengan tulisan Fam. Ursone pada bagian muka ini terdapat 11 nisan berbeda yang berasal dari satu keluarga.

Nama keluarga Ursone cukup dikenal oleh para penggemar kisah Bandung tempo dulu melalui tulisan-tulisan dalam buku kuncen Bandung, Haryoto Kunto.

Keluarga berkebangsaan Italia ini terkenal sebagai pengusaha peternakan modern yang paling terkemuka di Hindia Belanda. Walaupun lokasi peternakan mereka terletak di daerah Lembang, namun untuk kantor pemasaran dan distribusinya mereka buka di Nieuw Merdikaweg (Jl. Purnawarman), Bandung. Salah satu anggota keluarga mereka adalah pemilik perusahaan marmer impor dari Italia bernama Carara yang terletak di Jl. Banceuy. Keluarga Ursone juga dikenal sebagai penyumbang lahan untuk pendirian Observatorium Bosscha di Lembang. Lahan itu merupakan sebagian dari lahan peternakan milik keluarga mereka.

Mausoleum Ursone-3

 

2740_65461854089_2450144_n

Kinderkerkhof

Seperti sudah diketahui, Bandung ditetapkan sebagai Kotapraja pada tahun 1906 lewat keputusan dari Gubernur Jendral J. B. van Heutz. Sejak itu Bandung menjadi daerah otonomi yang berhak mengatur dan mengelola diri sendiri. Pembangunan jalan-jalan raya, jembatan, saluran air limbah, sumur-sumur, jaringan air bersih, sampai permakaman dilakukan dengan cepat melalui tahapan-tahapan yang terencana dengan baik. Termasuk di sini pembukaan dan pemeliharaan kuburan baru bagi warga Eropa (Kebon Jahe) dan Pribumi (Tamansari) di dalam kota dan kuburan baru bagi warga Tionghoa di luar kota (Cikadut).

Pada sekitar tahun 1910 Bandung sempat dilanda wabah kolera yang cukup parah. Tingkat kematian akibat kolera ini termasuk yang tertinggi di Hindia Belanda, korban utamanya adalah kalangan anak-anak. Ketika itu belum ada aturan tentang pemakaman sehingga warga dapat menguburkan anggota keluarganya di mana saja, termasuk di pekarangan rumah atau di kebun. Suasana Kota Bandung jadi terasa agak menyeramkan sehingga muncul julukan Bandung sebagai kinderkerkhoff atau kuburan anak-anak.

Sebagai upaya untuk menertibkan situasi ini, pemerintah kota mengeluarkan Bouwverrordening van Bandoeng atau Undang-undang Pembangunan Kota Bandung pada tahun 1917. Berbarengan dengan ini pemerintah juga membuka kompleks permakaman baru bagi warga Pribumi di Astana Anyar. Sejak dikeluarkannya undang-undang ini maka warga tidak diperbolehkan lagi menguburkan anggota keluarganya di sembarang tempat.

Pada tahun 1926, Burgermeester atau Walikota Bandung memiliki tiga pembantu utama atau wethouders yang masing-masing mewakili kelompok Eropa, Tionghoa, dan Pribumi. Salah satu tugas wethouder adalah mengurus kompleks permakaman. Tiga kompleks permakaman utama ketika itu adalah Europeesche Begraafplaatsen (untuk orang Eropa atau Kristen), Mohammedaansche Begraafplaatsen (untuk kaum Muslim), dan Chineesche Begraafplatsen (untuk warga Tionghoa).

 

##
Artikel ini dimuat di HU Pikiran Rakyat, Rubrik Teropong, Senin, 21 April 2014.

Advertisements