10276425_10200982111313342_584111480_n

Bila sampai tahun 1970-an warga Bandung bisa berrekreasi ke lokasi makam warga Eropa di Kerkhof Kebon Jahe, lalu bagaimana dengan sekarang setelah Kerkhof Kebon Jahe tidak ada lagi? Di Jakarta, nisan dari makam-makam tua dikumpulkan di satu tempat yang dinamai Taman Prasasti dan dapat berkembang menjadi satu tujuan wisata yang cukup populer. Selain menikmati berbagai bentuk makam dan nisan, kalangan penggemar wisata sejarah dapat menemukan lebih banyak hal lagi di sana, misalnya dengan menelusuri nama-nama yang tertera pada nisan-nisan tua, mengenali tokoh-tokoh Batavia di masa lalu, dan seterusnya.

Sebetulnya Kota Bandung masih dapat melakukan hal serupa. Sebagian makam yang dibongkar dari Kebon Jahe dipindahkan ke Makam Kristen Pandu dan masih dapat ditemui di sana. Apabila makam-makam ini dikumpulkan di dalam satu area, tentu masih mampu menghadirkan cerita-cerita Bandung tempo dulu yang belakangan ini semakin diminati masyarakat Bandung. Berikut ini sebagian cerita nisan dan makam yang masih dapat disaksikan di kompleks Permakaman Pandu.

Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker

Di bidang arsitektur, kita sering dengar ungkapan bahwa Bandung adalah kotanya Schoemaker. Pernyataan seperti itu muncul karena di seluruh wilayah Bandung tersebar bangunan-bangunan monumental hasil karya arsitek Charles Prosper Wolff Schoemaker. Sebut saja Gedung Merdeka, Hotel Preanger, Gedung Majestic, Gedung Landmark, Gereja Bethel, Katedral Santo Petrus, Gedung Jaarbeurs (Kologdam), Villa Isola, Gedung PLN, Gedung Sabau, Masjid Cipaganti dan masih banyak lagi.

Wolff Shoemaker adalah seorang arsitek dan guru besar di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB). Ia lahir di Banyu Biru pada tanggal 25 Juli 1882, wafat di Bandung tanggal 22 Mei 1948 dan dimakamkan di Permakaman Pandu. Bentuk makamnya sangat sederhana dengan nisan berdiri berisi keterangan tanggal lahir dan wafat serta teks singkat riwayat hidupnya. Arsitek ini juga dikenal sebagai guru calon presiden RI pertama, Sukarno, semasa kuliah dan setelah bekerja sebagai juru gambar di biro arsitek milik Schoemaker. Sayang sekali tokoh ini sempat terlupakan sehingga makamnya pun hampir dibongkar karena tunggakan pembayaran pajak antara 1994-2006 sebesar Rp. 180.000,-.

IMG_0938

Raymond Kennedy

Sepintas tidak ada yang istimewa dari makam ini. Tidak memiliki bentuk yang unik, tidak mewah seperti makam-makam di sekitarnya. Makam ini bahkan tidak akan menarik perhatian Anda bila melintasinya. Makam ini ditandai dengan dua buah nisan, satu nisan berdiri dan satu nisan berbaring. Nisan yang berdiri berupa batu besar dan tinggi, di beberapa bagiannya sudah ditumbuhi lumut sedangkan di bagian bawah sudah tertimbun tanah dan semak-semak. Pada batu itu terpahat nama yang sudah samar, Raymond Kennedy. Dibawah nama itu mungkin sebelumnya ada satu plakat lain, namun sudah hilang entah kemana.

Pada batu nisan yang dipasang terbaring di atas tanah terdapat tulisan ini:

In Memory of
Raymond Kennedy
1906-1950
American Scholar, scientist, humanist
loyal friend of the indonesian people
and martyr to their independence
the light of truth and the warmth of
understanding inspired his labors
for the fellowship man
from his colleagues in university

Kennedy adalah seorang profesor antropologi dari Yale Univeristy yang sudah menulis tiga buah buku tentang etnologi Indonesia. Pada tahun 1950, Kennedy sudah tinggal setahun di sini dan sedang mengadakan penelitian tentang pengaruh kebudayaan barat di Indonesia.

Semestinya, nisan Raymond Kennedy ini tidak sendiri, ada nisan seorang rekannya yang juga ikut terbunuh di jalur jalan antara Cimalaka dan Tomo, Robert Doyle, seorang jurnalis dari majalah Time and Life yang sedang mengadakan penelitian di kalangan petani di Priangan. Raymond Kennedy dan Robert Doyle sedang dalam perjalanan menuju Cirebon ketika di suatu lokasi dekat Cimalaka mereka dihentikan dan diinterogasi oleh sekelompok serdadu KNIL. Tidak jelas apa yang terjadi dalam interogasi itu, tetapi keduanya ditembak mati di tempat. Para serdadu memerintahkan warga untuk merahasiakan kejadian itu dan agar segera menguburkan kedua jenazah mereka.

Selang sehari jenazah kedua orang ini ditemukan dan keesokan harinya berita tentang mayat Robert Doyle sudah dimuat di koran The New York Times. Kejadian ini dianggap sangat misterius sampai Perdana Mentri Moh. Hatta ikut berkomentar dan meyakinkan masyarakat bahwa Pemerintah Indonesia tidak akan menelantarkan kasus ini sampai orang-orang yang bertanggung jawab diungkap dan dibawa ke pengadilan.

Pada tanggal 30 April warga Amerika berkumpul untuk ikut mengantarkan jenazah Raymond Kennedy dan Robert Doyle yang dimakamkan di Permakaman Pandu. Beberapa waktu kemudian, para koleganya mempersembahkan monumen dan plakat yang sampai kini masih berdiri – walaupun tidak terawat – di Permakaman Pandu.

Makam Raymond Kennedy-1

1000721_10201508747424396_238776159_n

Upacara pemakaman Raymond Kennedy di Kerkhof Pandu.
Foto: Tropenmuseum.

Mausoleum Ursone

Mausoleum adalah bangunan yang memiliki ruangan untuk menyimpan satu atau lebih makam di dalamnya. Di Bandung, beberapa bangunan semacam ini dapat ditemukan di Permakaman Cikadut. Di dalam kota, mungkin hanya di Permakaman Pandu saja terdapat sebuah mauseloum dari masa Hindia Belanda, yaitu milik keluarga pengusaha peternakan berkebangsaan Italia, Ursone. Bangunan mausoleum yang indah ini berbentuk seperti kuil zaman Romawi kuno dengan dua patung malaikat di kedua sisi depannya mengapit pintu masuk. Pada bagian atas tertera tulisan dalam bahasa Latin – ORATE PRO NOBIS – yang berarti “Doakanlah Kami” dan di bawahnya, atau tepat di atas pintu masuk, terdapat tulisan Fam. Ursone.

Keluarga Ursone pernah membawa Kota Bandung menjadi sangat terkenal di awal abad ke-20. Keluarga ini membuka peternakan sapi di wilayah Lembang pada tahun 1895, lalu mendirikan pabrik pemerahan susu Lembangsche Melkerij Ursone yang terkenal sebagai pabrik penghasil susu berkualitas tinggi di Hindia Belanda. Saat mengawali peternakannya, keluarga Ursone memiliki 30 ekor sapi perah yang didatangkan langsung dari daerah Friesland di negeri Belanda. Dalam waktu singkat jumlah sapi ini bertambah sampai 250 ekor. Produksi susu yang awalnya hanya 100 botol saja bertambah menjadi ribuan liter setiap harinya. Produksi susu yang melimpah ini kemudian ditampung di Bandoengsche Melk Centrale, yaitu badan usaha gabungan para peternak dan pengusaha susu yang memiliki fasilitas pengolahan modern dan jaringan distribusi yang lebih luas.

Makam yang bangunannya dilapisi batu marmer ini merupakan pindahan dari kerkhoff Kebon Jahe.  Terdapat delapan nama dengan 11 nisan yang terpasang baik di bagian luar atau bagian dalam mauseloum ini. Kedelapan nama itu adalah A. C. Ursone v Dijk, A. Ursone, Antonio Domenico De Biasi, Dr. C. G. Ursone, G.M. Ursone, J. A. G. van Dijk, M. G. Ursone, P. A. Ursone.

Tanggal lahir dan tanggal wafat ditulis dengan cara yang unik. Pada plakat A. C. Ursone v Dijk tertulis  –   yang artinya lahir pada tanggal 28 April 1881 dan wafat pada tanggal 10 Agustus 1919. Pada plakat Antonio Domenico De Biasi tertera   –   yang berarti lahir 12 Januari 1883, wafat 26 Desember 1966. Begitu pula pada plakat lainnya. Selain itu terdapat satu plakat besar di bagian dalam bangunan makam. Pada plakat yang berbaring itu tertulis nama Maria Giuseppa Ursone dengan keterangan lahir di Italia 23 April 1839 wafat di Bandoeng 1 September 1897.

2740_65461684089_7065380_n

Makam Pilot & Co-Pilot

Inilah makam unik lain yang dapat kita temukan di makam Pandu. Pada makam ini terdapat patung seseorang berpakaian pilot dan helm yang sedang menundukkan kepala sambil memegang batu nisan. Pada nisan yang dipegangnya itu tertera nama Charles Philippe Marie Mathus Bogaerts dengan tahun lahir 1900 dan wafat 1933. Makam ini tidak sendirian, di sebelah kanannya terdapat sebuah makam lain dengan pahatan nama yang sudah samar, Johannes Cornelis Pols. Baling-baling pesawat yang sudah retak dan terbuat dari batu terletak di bagian atas makam. Angka tahun wafatnya sama dengan Bogaerts, 1933.

Kedua makam dengan bentuk unik ini agak tertimbun tanah dan tumbuhan liar. Ketiadaan informasi memang membuat makam ini tidak berbicara banyak. Namun dari catatan sejarah penerbangan di Indonesia dapat diketahui bahwa J. C. Pols adalah seorang penerbang berpangkat Letnan Satu Infanteri, sedangkan Dr. Ir. CPM. M. Bogaerts adalah seorang insinyur mesin militer dengan pangkat Kapten Infanteri. Kedua orang ini tewas dalam kecelakaan pesawat Fokker F.C. V 442 di Padalarang pada tanggal 31 Agustus 1933.

2740_65463519089_1701343_n

Kompleks Makam Laci

Makam di blok ini mempunyai bentuk yang berbeda dengan makam pada umumnya. Di sini makam-makam hanya terlihat bagian nisannya saja yang terpajang berjajar dalam dua tingkat sehingga membentuk dinding yang penuh dengan nisan. Sepintas tampak hanya seperti susunan nisan yang ditempel di sebuah dinding. Tetapi ternyata bentuk sesungguhnya tidaklah seperti itu. Nisan-nisan ini seperti laci yang dapat kita tarik keluar. Di balik setiap nisan terdapat ruang memanjang yang cukup luas untuk menyimpan sebuah peti jenazah. Pada bagian bawah ruang terdapat dua jalur besi seperti rel yang berfungsi untuk menggeser masuk atau keluarnya peti jenazah.

Di Permakaman Pandu terdapat dua kompleks Makam Laci yang terpisah lokasinya. Masing-masing lokasi memiliki 52 kolom laci yang terbagi dalam barisan memanjang dan bertingkat dua. Nisan-nisan yang terpasang memiliki bentuk yang hampir mirip, umumnya persegi panjang, namun dengan bahan yang berbeda. Ada yang berbahan batu andesit, marmer lokal, sampai marmer impor dari Italia. Dari seluruh nisan yang ada, hanya sebagian saja yang tulisan-tulisannya dapat dibaca dengan mudah, yang lainnya kebanyakan sudah agak kabur dan perlu upaya ekstra agar dapat membacanya.

Sebagian makam laci berada dalam kondisi yang menyedihkan, banyak batu nisan yang hilang sehingga bagian dalam makam terbuka lebar. Beberapa tahun lalu bahkan masih dapat kita temukan sisa tulang-belulang di dalam beberapa makam. Sebagian lagi dalam kondisi hampir seluruh bagian nisan tertutup tumbuhan liar. Selain beberapa nisan baru, seluruh nisan pada Makam Laci ini berasal dari tahun sebelum 1950.

Makam Laci

Ereveld Pandu

Ereveld atau “Taman Kehormatan” Pandu adalah lokasi pemakaman tentara Belanda atau Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) yang tewas pada masa revolusi kemerdekaan RI. Makam ini tertutup untuk umum, hanya anggota keluarga atau ahli waris saja yang dapat berkunjung ke sini. Selain pihak keluarga atau pemerintahan, maka siapa saja yang ingin berkunjung harus mendapatkan surat izin terlebih dulu dari kantor pusatnya di Jakarta. Di Indonesia terdapat tujuh kompleks Ereveld dan dua di antaranya ada di Priangan, yaitu di Bandung dan di Leuwigajah, Cimahi. Lima lainnya adalah Ereveld Menteng Pulo dan Ereveld Ancol di Jakarta, Ereveld Kalibanteng dan Candi di Semarang, dan Ereveld Kembang Kuning di Surabaya. Seluruh kompleks Ereveld ini mendapatkan biaya pemeliharaan dari pemerintah Belanda.

IMG_0806B

Kompleks Makam Pejuang Indonesia

Bila pejuang Belanda dimakamkan di Taman Kehormatan atau Ereveld yang sangat rapi dan teratur, lain lagi dengan pejuang Indonesia. Para pejuang pribumi ini dimakamkan di permakaman umum tanpa batas area yang jelas. Umumnya makam para pejuang ini ditandai dengan sebilah bambu kuning dengan bendera merah-putih yang ditancapkan di sebelah batu nisannya. Dari 109 makam yang berjajar dua baris ini hanya sedikit saja yang memiliki nama, yang lainnya hanya memiliki nomor saja pada nisannya. Salah satu makam pejuang di sini beberapa tahun lalu hampir saja dibongkar sebelum akhirnya diketahui tercatat atas nama Alexander Jacob Patty, seorang pejuang radikal dari Saparua yang wafat di Bandung pada tahun 1957.

 

 

##
Artikel ini dimuat di HU Pikiran Rakyat, Rubrik Teropong, Senin, 21 April 2014.

Advertisements