Ini adalah cerita ngalor-ngidul.
Cerita yang muncul dan berkembang begitu saja dari sebuah foto. Seorang teman menunjukkan sebuah foto di grup whatsapp kawan-kawan Komunitas Aleut! Foto itu bergambar sebuah potret berukuran besar yang diambilnya di ruang dalam sebuah restoran di Jl. Taman Cibeunying Selatan. Potret tua berwarna sepia itu terbingkai dan terpajang anggun di dinding rumah. Gambarnya seorang perempuan muda, di bawahnya ada sebaris tulisan: Ibu Hj. Lasmanah Kolopaking (1902-1965).

Lasmanah Kolopaking-1B
Ibu Hj. Lasmanah Kolopaking (1902-1965) Foto: Ariyono Wahyu.

Kolopaking
Nama Kolopaking ini otomatis mengingatkan beberapa kawan kepada artis yang dulu pernah terkenal, Novia Kolopaking. Apakah ada hubungannya? Sebagai trah, Kolopaking sering disangka sebuah marga yang berasal dari wilayah Indonesia Timur, padahal nama ini bila dirunut ceritanya, akan muncul pada cerita sejarah Kebumen di Jawa tengah.

Pada masa Amangkurat I memerintah di Mataram, seorang bangsawan dari Madura, Trunojoyo, melakukan pemberontakan (1677) dan berhasil membuat Amangkurat I menyingkir ke Cirebon. Dalam perjalanan ini, Amangkurat I dibawa oleh penguasa setempat yang bernama Ngabehi Kertowongso untuk singgah di Panjer (sekarang Kebumen). Rupanya Kertowongso masih mengakui Amangkurat I sebagai raja Mataram yang sah, bahkan ketika melihat sang raja yang tampak kelelahan dan menderita sakit karena keracunan, Kertowongso mencarikan air kelapa untuk penawar racun. Sayang buah kelapa yang dapat ditemukan saat itu hanya yang kulitnya sudah kering (kelapa aking) saja. Air kelapa diminumkan dan tak berapa lama berhasil membuat kondisi tubuh Amangkurat I membaik. Kertowongso kemudian digelari Tumenggung Kolopaking I dan menjadi awal trah Kolopaking.

Walaupun awalnya trah Kolopaking berkuasa di wilayah Kebumen (sebelumnya disebut Panjer), namun pada masa Perang Diponegoro, terjadi perseteruan dengan Adipati Arungbinang yang didukung oleh VOC. Dukungan Kolopaking terhadap Diponegoro harus ditebusnya dengan menyingkir ke wilayah Banjarnegara.

Banjarnegara
Di Banjarnegara, dinasti Kolopaking tetap berperan terutama melalui salah satu keturunannya, yaitu Raden Adipati Arya Poerbonegoro Soemitro Kolopaking, yang menjadi bupati dari tahun 1927-1945. Nama Soemitro Kolopaking saat ini diabadikan sebagai nama stadion di Parakancanggah, Banjarnegara. Soemitro Kolopaking memiliki istri bernama Anna Lasmanah.

Semasa suaminya menjabat sebagai bupati di Banjarnegara, Lasmanah berkeinginan kuat membangun sarana pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Upayanya diwujudkan tahun 1940 dengan mendirikan rumah sakit bersalin yang diberi nama Boedi Rahajoe pada tanggal 31 Agustus 1940.

Dana untuk pembangunan rumah sakit ini didapatkan dengan cara patungan yang disebut Gerakan Satoe Sen, setiap keluarga menyumbang masing-masing 1 sen. Kekurangannya sekitar 40.000 Gulden didapatkan dari sumbangan Bupati Banjarnegara. Lahan untuk pembangunan adalah pekarangan rumah milik H. Noor di Desa Kutabanjarnegara. Hasil rintisannya ini kelak menjadi RSUD Banjarnegara dan setahun lalu diubah namanya menjadi RSUD Hj. Anna Lasmanah Soemitro Kolopaking (2013).

Nah, nama inilah yang potretnya terpajang di restoran Jl. Taman Cibeunying Selatan itu.
Tapi, kenapa di Bandung?

Raden Toemenggoeng Soemitro Kolopaking Poerbonegoro van Bandjarnegara met Raden Ajoe 1930 KITLVB
Raden Toemenggoeng Soemitro Kolopaking Poerbonegoro van Bandjarnegara met Raden Ajoe 1930 KITLV

Soemitro Kolopaking
Soemitro dilahirkan di Papringan, Banyumas pada 14 Juni 1887. Buku Harry Poeze, “Di Negeri Penjajah”, menyebutkan bahwa Soemitro menentang kehendak ayahnya dengan bersekolah di HBS Batavia. Lalu pada usia 19 tahun (1906) pergi ke melanjutkan belajar ke Eropa menggunakan kapal sebagai penumpang kelas 4 dengan uang hanya f.15. Di Eropa, Soemitro banyak bepergian demi mencari tambahan biaya sekolah. Untuk hidup sehari-hari ia bekerja sebagai perawat domba di Leiden. Ia juga pernah pergi ke Jerman (1908) untuk bekerja menjadi buruh tambang batubara.

Kembali ke Hindia Belanda, Soemitro bekerja di pabrik teh dan kina Pandjang Estate di Pangrango, kemudian mengikuti pendidikan komisaris polisi di Batavia. Setelah pendidikan inilah Soemitro mendapatkan tugas sebagai Gewestelijk Leider der Veldpolitie untuk Keresidenan Priangan yang berkedudukan di Bandung (1922). Inilah pertama kalinya orang pribumi mendapatkan pangkat dan jabatan setinggi itu dalam dinas kepolisian Hindia Belanda.

Parta Kutang
Pada masa jabatannya ini terjadi peristiwa yang cukup legendaris di Bandung. Pada tahun 1920-an, Oranjeplein (Taman Pramuka) adalah batas timur Kota Bandung. Kawasan ini dirancang oleh Ir. D.H. Ton sebagai kawasan elite dengan rumah-rumah besar berpekarangan luas untuk taman. Kawasan permukiman ini dinamai Kapitein Hill. Letaknya yang di pinggir kota membuat kawasan ini bersuasana tenang dan nyaman ditinggali.

Tetapi itu tidak berarti tidak ada gangguan sama sekali. Suatu hari di bulan Desember 1922, diberitakan seekor macan tutul dari Gunung Manglayang berkeliaran di sebuah rumah di sebelah timur Jl. Supratman sekarang. Macan tutul sepanjang dua meter itu akhirnya mati ditembak, lalu bangkainya dipamerkan kepada masyarakat.

Bukan itu saja peristiwa yang terjadi di sekitar Kapitein Hill. Pada tahun 1922 itu juga ada kejadian yang cukup bikin heboh warga Bandung, sebuah rumah milik seorang Preangerplanter ditemukan terbuka lebar semua pintu dan jendelanya , sepertinya baru kemasukan maling. Anehnya, tak ada barang yang hilang. Juga tak ditemukan jejak-jejak pembongkaran paksa. Sama tidak tidak ada jejak kecuali sebuah pahat besi yang tergeletak di atas meja tulis pemilik rumah.

Satu minggu kemudian, peristiwa yang sama terjadi lagi. Kali ini di sebuah bank di Alun-alun Bandung. Seluruh pintu dan dan jendela ditemukan dalam keadaan terbuka lebar, begitu juga dengan lemari besi. Anehnya, lagi-lagi tak ada barang yang hilang. Namun sebilah pahat besi tampak tergeletak di dalam lemari besi. Pembobol rumah yang misterius ini lantas dijuluki polisi sebagai De Beitelaar (Si Pahat).

Saat Soemitro melakukan pemeriksaan, disadarinya bahwa ada latar ilmu gaib dalam peristiwa ini. Soemitro pun menggunakan panduan Primbon Maling untuk menangkap pembobol misterius ini. Dengan mempelajari hari, pasaran, dan waktu kejadian, dapat diduga arah kedatangan sang maling. Rencana disusun. Sejumlah anak buahnya ditugaskan berjaga di wilayah timur kota pada hari yang diperkirakan akan jadi hari kedatangan kembali De Beitelaar. Benar saja, sang maling dengan mudah dapat ditangkap.

Akhirnya diketahui, De Beitelaar ini bernama Parta, tinggal di lereng gunung sekitar 20 kilometer sebelah timur Kota Bandung. Ternyata Parta adalah seorang petani kaya yang memiliki sawah, kebun, kolam ikan, ternak, dan sejumlah pembantu rumah tangga. Lantas untuk apa ia membobol rumah orang?

Benar dugaan Komisaris I Soemitro Kolopaking, ada ilmu gaib di balik kasus ini. Rupanya Parta memiliki ilmu turun temurun dalam hal bobol-membobol. Dengan ilmunya ini tak ada gembok yang tak dapat dibukanya, tak ada pintu besi yang dapat menghalanginya. Ternyata Parta hanya ingin menguji ilmunya bila didengarnya ada sesuatu yang tak dapat dibongkar. Sistem pengamanan baru akan selalu menimbulkan keinginan kuat baginya untuk mencoba ilmunya.

Kalaupun ada kasus Parta benar-benar maling, maka hasil curiannya tak pernah diambilnya barang sedikit pun. Semua selalu dibagikannya kepada warga desa yang miskin. Setiap kali melakukan aksinya, Parta selalu hanya memakai singlet dari kain belacu, sehingga orang kampungnya memberikan julukan “Parta Kutang”.

Parta Kutang lalu diadili di Landraad dan mendapatkan hukuman dua tahun penjara serta kewajiban perawatan dokter secara rutin karena dianggap memiliki kelainan jiwa. Selama dalam penjara, Parta Kutang selalu mendapatkan kunjungan dari Komisaris I Soemitro Kolopaking. Bahkan Komisaris ini juga datang berkunjung ke keluarga Parta di lereng gunung.

Sebebas dari penjara, Parta Kutang menyerahkan anaknya kepada Soemitro Kolopaking untuk dididik menjadi orang baik. Soemitro menyekolahkan anak Parta ke sekolah pelayaran di Zeevaartschool Makassar hingga berhasil lulus. Kejadian naas kemudian menimpa keluarga Parta Kutang. Pasangan suami istri Parta Kutang tewas tertimpa pohon saat angin puyuh melanda desa mereka. Sedangkan anaknya yang sudah menjadi mualim di kapal pemburu torpedo Belanda (Torpedo jager) tewas saat kapalnya dibom Jepang di Laut Banda pada tahun 1942.

kfdi-6B
Loji St. Jan di Bandung (KITLV).

Free Mason
Di Bandung Soemitro juga berkenalan dengan teosofi dan Freemasonry. Pada tahun 1927 menjabat sebagai Bupati Banjarnegara hingga tahun 1945, kemudia menjadi Residen Pekalongan. Masih di tahun 1945, Soemitro terpilih menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Pada tahun 1951 Soemitro Kolopaking ditunjuk untuk menjadi Menteri Pertahanan RI namun menolaknya dan digantikan oleh Sewaka.
Kemudian Soemitro lebih aktif bergiat dalam komunitas Free Mason. Sebelumnya Soemitro pernah mendirikan dan memimpin loji Serajoedal di Purwokerto yang beroperasi sampai 1942. Pada tahun 1955 Soemitro mendirikan loji Purwo-Daksina di Jakarta, loji Pamitraan di Surabaya, loji Bhakti di Semarang, loji Dharma di Bandung, dan puncaknya masih pada tahun yang sama, ia mendirikan Tarekat Mason Indonesia serta diangkat menjadi Suhu Agung pertamanya.
_____________________

Advertisements