Search

mooibandoeng

Senantiasa Belajar Kenal dan Cinta Kota Bandung

Month

June 2013

Snouck Hurgronje dan Pernikahan Sundanya

Ini ringkasan cerita penelusuran keluarga Snouck Hurgronje oleh Dr. P. Sj. Van Koeningsveld yang aslinya berupa artikel berjudul “Perkawinan, Status, dan Politik Kolonial di Hindia Belanda”. Artikel ini dimuat dalam Snouck Hurgronje dan Islam (Girimukti Pasaka, Bandung, 1989).

Sebelum meneruskan, ada baiknya membaca dulu tulisan Pak Awang H. Satyana, “Sosok Lain dan Wasiat Snouck Hurgronje untuk Tahun 2036” di sini.

Snouck Hurgronje, seperti yang sudah diceritakan di sini, adalah seorang pakar Islam yang menjadi penasihat pemerintah Hindia Belanda pada masa sebelum PD II. Snouck juga menjadi peletak dasar politik Islam di Hindia Belanda, termasuk dalam penaklukan Aceh. Sudah diketahui, Snouck telah menjadi seorang penganut Islam pada tahun 1884 di negri Arab dengan nama Abdul Ghaffar. Sepulangnya ke Belanda, Snouck menjadi populer sebagai Haji Belanda atau Mufti Abdul Ghaffar. Pada rentang tahun 1889-1906, kepakaran Snouck tentang Islam membuatnya menjadi penasihat Gubernur Jendral Hindia Belanda untuk hal-hal yang terkait dengan Islam.

Saat tinggal di Mekkah, Snouck memiliki banyak hubungan dengan para pelajar dan ulama yang berasal dari Hindia Belanda. Snouck diterima dengan baik di kalangan ini, termasuk ketika dia mulai tinggal di Hindia Belanda. Di negri jajahan ini, Snouck masuk lebih jauh ke kalangan Muslim dengan menikahi anak-anak perempuan penghulu.

Sebuah artikel di Soerabaja Courant, bertanggal 9 dan 13 Januari 1890 memuat berita tentang perkawinan Snouck dengan putri penghulu besar Ciamis. Perkawinan ini dilangsungkan di Mesjid Ciamis. Dalam berita itu disebutkan bahwa Mentri Urusan Jajahan, Keuchenius,  meminta penjelasan resmi tentang kebenaran berita tersebut. Gubernur Jendral menyangkalnya dengan mengatakan bahwa memang ada peristiwa perkawinan, tapi itu hanya rekayasa untuk keperluan studi Snouck tentang upacara perkawinan Islam.

Snouck turut menyangkal berita koran tersebut dengan mengatakan bahwa “orang-orang koran” tersebut tidak memiliki keinsyafan batin. Dalam sebuah surat bertanggal 16 Juli 1890 kepada sahabatnya, Herman Bavinck, Snouck mengatakan bahwa penghulu Ciamis itu telah membantunya menghadirkan jurutulis yang menikah dengan putri bungsunya: “Karena merasa bebas, maka para wartawan mengawinkan saya dengan dia.”

Van Koeningsveld lalu bertemu dengan mantan pegawai pangrehpraja[1] Palembang, Daniel van der Meulen, yang bercerita bahwa di kantornya pernah bekerja seorang kerani[2] yang mengaku sebagai putra Snouck Hurgronje. Diceritakannya bahwa Snouck melarang dia dan kakak perempuannya datang ke Belanda karena akan menyeret Snouck ke dalam kesulitan-kesulitan.

Di Amsterdam, van Koeningsveld bertemu dengan Harry Jusuf. Harry adalah putra Raden Jusuf yang ternyata adalah anak laki-laki Snouck Hurgronje dari Siti Sadijah. Koeningsveld berhasil menemui Raden Jusuf di Bandung. Saat itu usianya sudah 78 tahun berstatus pensiunan komisaris besar polisi RI (setingkat kolonel).

Raden Jusuf dilahirkan pada tahun 1905 dari perkawinan kedua Snouck Hurgronje dengan Siti Sadijah, anak wakil penghulu Bandung, Muhammad Su’eb yang lebih populer dengan julukan Penghulu Apo atau Kalipah Apo. Perkawinan Snouck dengan Sadijah berlangsung tahun 1898 saat Snouck berusia 41 tahun dan Sadijah berusia 13 tahun. Karena pernikahan ini Snouck mendapatkan hubungan kekerabatan dengan para pejabat tinggi keagamaan dan kaum bangsawan di Bandung. Garis keturunan Sadijah memang berasal dari keluarga penghulu, bupati, dan raja di Priangan.

Koeningsveld juga mendapatkan silsilah keluarga Raden Jusuf yang disusun oleh Raden Tachiah, yaitu kepala keluarga Raden Jusuf dari pihak ibunya dan pensiunan kepala polisi Jawa Barat. Selanjutkan Raden Jusuf menceritakan bahwa apa yang pernah diberitakan oleh Soerabaja Courant tahun 1890 tentang perkawinan ayahnya itu adalah benar.

Ayahnya, Snouck Hurgronje, memang menikah dengan Sangkana, putri penghulu besar Ciamis, Raden Haji Muhammad Ta’ib. Snouck bertemu dengan Sangkana di Pendopo Kabupaten Ciamis. Di bawah tekanan istri Bupati Ciamis, Lasmitakusuma, terjadilah perkawinan Snouck dengan satu-satunya anak perempuan Muhammad Ta’ib itu. Dari perkawinan ini Snouck mendapatkan empat orang anak, masing-masing Emah, Umar, Aminah, dan Ibrahim. Sangkana kemudian meninggal karena keguguran kandungan anak kelima pada tahun 1895.

Ibrahim, Aminah, Salmah Emah, dan Umar bersama Lasmitakusuma yang mengurus anak-anak Sangkana setelah sang ibu wafat. Di depan ada Siti Sadijah yang sedang menggendong bayi Raden Jusuf.
Ibrahim, Aminah, Salmah Emah, dan Umar bersama Lasmitakusuma yang mengurus anak-anak Sangkana setelah sang ibu wafat. Di depan ada Siti Sadijah yang sedang menggendong bayi Raden Jusuf.

Raden Jusuf juga mengonfirmasi anak laki-laki yang diceritakan oleh van der Meulen itu sebagai Ibrahim, saudaranya satu ayah. Ibrahim bekerja sebagai pengatur tata usaha asisten residen di Palembang pada masa sebelum Perang Dunia II. Raden Jusuf menunjukkan fotokopi sebuah surat dari notaris Coeberg dari Leiden yang ditujukan kepada Ibrahim di Palembang. Surat itu berisi pemberitahuan bahwa Snouck Hurgronje telah wafat pada tanggal 26 Juni 1936 dan di dalam wasiatnya Snouck menghibahkan uang sejumlah 5000 gulden kepada semua anaknya di Hindia Belanda. Dengan bantuan saudara seayah lainnya, Umar, Raden Jusuf menggunakan uangnya untuk membangun sebuah rumah tembok di Jalan Kalipah Apo, sesuai dengan nama panggilan kakeknya.

Raden Jusuf juga membenarkan bahwa ayahnya memang merahasiakan hubungan-hubungan kekeluargaannya di Hindia Belanda. Sadijah mengatakan bahwa menjelang kepulangannya ke Belanda tahun 1906, Snouck secara tegas melarang anak-anaknya menggunakan nama Snouck Hurgronje. Karena itu bila ditanya tentang siapa ayahnya, maka Raden Jusuf hanya akan mengatakan bahwa ia cucu Muhammad Su’eb. Selulus dari sekolah HBS, Raden Jusuf juga dilarang pergi ke Belanda melanjutkan sekolah kedokteran walaupun sebenarnya ia sudah resmi diterima sebagai mahasiswa di sana. Ibrahim juga mengalami hal yang sama.

Walaupun begitu, Raden Jusuf mengatakan bahwa ibunya sangat mencintai Snouck Hurgronje. Ia mencintai Snouck sebagai seorang Muslim yang alim, taat beribadah, serta menjalankan puasa. Ibunya tidak pernah ingin bercerai dari Snouck walaupun sepeninggal Snouck tahun 1906, ia mendapat banyak pinangan. Sadijah setia hingga wafatnya pada tahun 1974.

Siti Sadijah dan Raden Jusuf.
Siti Sadijah dan Raden Jusuf.

Menurut anak-anak Raden Jusuf, nenek Sadijah yang mereka panggil dengan nama Buah, sangat lekat dengan surat-surat yang ditulis dan dikirimkan Snouck dari Belanda hingga wafatnya tahun 1936. Surat-surat itu selalu ditujukan “Kepada Putri Sundaku yang Tercinta…” Sayang, menurut Raden Jusuf surat-surat ini hilang setelah masa Perang Dunia II.

Menurut Raden Jusuf, menjelang kepulangan Snouck ke Belanda, Snouck Hurgronje telah mengatur seluruh pembiayaan istri dan anak-anaknya melalui pembayaran bunga seumur hidup. Baginya Snouck telah berusaha menghindari berbagai kemungkinan penilaian buruk terhadapnya berkaitan dengan keluarga Sundanya. Di sisi lain, Raden Jusuf juga dapat menerima bila ada anggapan bahwa akad-akad nikah Snouck di Hindia Belanda lebih diabdikan karena telaah-telaah kemasyarakatan berkaitan dengan jabatannya sebagai penasihat Hindia Belanda.

Van Koeningsveld melihat bahwa dengan melakukan perkawingan dengan keluarga pejabat tinggi ini, Snouck dapat masuk jauh lebih dalam di kalangan atas Priangan. Dalam sebuah nasihat bertanggal 23 November 1895 (tiga tahun sebelum menikah dengan Siti Sadijah) Snouck menulis: “Ia termasuk keluarga Priangan terkemuka baik melalui kekerabatan darah atau kekerabatan semenda[3] yang bekerja di dinas pemerintah.” Muhammad Su’eb, ayah Sadijah memang bersaudara dengan Raden Haji Muhammad Rusjdi dan Raden Haji Abdulkadir.

Atas anjuran Snouck, Muhammad Rusjdi diangkat sebagai penghulu besar di Kutaraja, Aceh, pada tahun 1895, menggantikan penghulu Haji Hasan Mustapa yang dipindahkan ke Bandung. Hasan Mustapa adalah yang mengatur perkawinan Snouck dengan Sadijah, ia atasan Muhammad Su’eb. Berdasarkan fakta-fakta ini, van Koeningsveld menganjurkan agar sejarah Hindia Belanda dikaji ulang dengan menyorot hubungan-hubungan kekeluargaan ini.

Raden Jusuf dan salah satu anaknya, Harry.
Raden Jusuf dan salah satu anaknya, Harry.

[1] Penguasa yang menangani wilayah lokal pada masa Hindia Belanda

[2] Pegawai yang mengurusi administrasi sederhana seperti mencatat, mengetik, menerima dan mengirimkan surat. Sama dengan jurutulis atau kelerek.

[3] Kekerabatan atau hubungan kekeluargaan karena hubungan perkawinan.

– Foto-foto repro van Koeningsveld dari koleksi keluarga Raden Jusuf di Bandung.

Sepenggal Kisah Awal Abad Ke-18: Haji Prawatasari Versus Kompeni

Nemu artikel lama yang topiknya jarang dibicarakan.
Saya pajang di sini saja buat menambah pengetahuan pembaca.
Bila pemilik artikel berkeberatan dengan pemajangan ini, silakan mengabari, saya akan segera hapus.
Terima kasih.

 

Kisah para pahlawan seperti Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar, Hasanudin, Cut Nyak Din, dan Iain-lain sudah banyak diketahui orang. Mereka adalah tokoh-tokoh sejarah yang memiliki peranan penting dalam percaturan perjuangan melawan penjajah di Indonesia. Di samping tokoh-tokoh sejarah yang sudah dikenal dalam skala nasional, agaknya masih banyak tokoh-tokoh sejarah lokal, yang belum begitu dikenal masyarakat luas, yang sebenarnya mempunyai peranan segaris dengan tokoh nasional. Sekalipun tokoh-tokoh sejarah lokal tidaklah sama bobotnya atau “kehebatan”-nya dengan tokoh-tokoh nasional, gejala historisnya bisa dianggap penting apabila dipandang dalam perspektif nasional. Bagaimana reaksi rakyat yang sesungguhnya dalam menghadapi penindasan penjajah, hanya dapat dilihat dalam mikrohistori yang aspek spasial dan temporalnya lebih terbatas. Salah seorang tokoh yang kiranya penting untuk ditampilkan adalah Haji Prawatasari, seorang ulama pejuang dari daerah Jampang. Siapakah dia sebenarnya?

Perintah Gubernur Jenderal Joan van Hoorn
“Zij (de regenten) zullen vooral de quade menschen en roovers of oproermakers als den Paap Prawata en alle vijanden van de Comp. en ‘t Cheribonsche rijk uit haar landen moeten weeren, en alle dezelve, ‘it zij heevende of doot san den Pangerang Aria Cheribon of te de Comp. Gezaghebber op Cheribon overleeveren. Op poepe van andere selven daar over te sullen worden gestraft en uit haar gezaggezet”(F. de Haan: 1911-25a).

Demikianlah bunyi sebagian instruksi yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal VOC, Joan van Hoorn, pada tanggal 22 Maret 1706, yang terjemahan bebasnya adalah: “Para bupati harus melarang masuk para penjahat atau perampok seperti Prawata serta semua musuh Kompeni dan Kerajaan Cirebon ke daerahnya, atau menyerahkan mereka hidup atau mati kepada Pangeran Aria Cirebon atau penguasa Kompeni di Cirebon, jika tidak demikian maka para bupati itu akan dihukum dan dipecat”.

Siapakah sebenarnya Prawata yang disebut-sebut dalam instruksi di atas? Mengapa Joan van Hoorn begitu menggebu-gebu ingin menangkapnya baik dalam keadaan hidup maupun mati? Agaknya Prawata ini orang yang cukup penting, sehingga seorang Gubernur Jenderal VOC, sebagai penguasa tertinggi di Hindia Belanda perlu turun tangan.

Untuk mengetahui apa dan siapa Prawata, kita mundur menapaki jejak sejarah ke masa silam sebelum instruksi itu dikeluarkan.

Penguasaan Kompeni atas Wilayah Jampang
Akibat perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 19-20 Oktober 1677, oleh penguasa Kompeni dan Kerajaan Mataram, sebagian besar wilayah Priangan yang tadinya ada di bawah “penguasaan” Mataram, jatuh ke tangan Kompeni; dalam hal ini termasuk antara lain wilayah Jampang, Cianjur, Kampung Baru (Bogor), Tangerang, dan Cikalong.

Dalam penguasaan Kompeni inilah rakyat Jampang diwajibkan menyerahkan sejumlah belerang (yang sumbernya antara lain di Gunung Gede) dalam batas waktu tertentu. Di samping itu mereka diwajibkan menanam nila/indigo dan menyerahkan hasilnya kepada Kompeni. Kompeni yang lebih mementingkan usaha perdagangannya, lebih suka memanfaatkan elite pribumi untuk mengurus masalah ini.

Oleh karena itu pelaksanaannya diserahkan kepada Bupati Cianjur, sebagai penguasa wilayah Jampang. Dalam pelaksanaan di lapangan, Bupati Cianjur menyerahkannya kepada Raden Alit, seorang pemimpin informal yang mempunyai pengaruh besar di kalangan rakyat Jampang.

Raden Alit ini kemudian lebih dikenal dengan nama Haji Prawatasari, orang yang disebut-sebut sebagai Paap Prawata dalam Instruksi 22 Maret 1706 di atas. Paap atau paep adalah istilah yang digunakan oleh penguasa Belanda untuk menyebut kaum ulama dalam konotasi yang negatif, yang berkedudukan sebagai counter-elite (sang penantang penguasa yang sah). Haji Prawatasari, agaknya tergolong pemimpin informal tipe tersebut; seorang ulama yang mempunyai kewibawaan sosial yang tinggi dikalangan rakyat Jampang. Bupati Cianjur cukup jeli melihat hal ini, sehingga untuk dapat melaksanakan kewajibannya terhadap Kompeni, Raden Alit alias Haji Prawatasari inilah dijadikan ujung tombak di lapangan. Haji Prawatasari sebenarnya agak enggan menerima tugas dari bupati tersebut; tetapi daripada tugas itu dijalankan oleh orang lain yang belum tentu dapat memahami aspirasi rakyat, maka diterimanya juga tugas itu, dengan harapan ia dapat menjadi bufer (penyangga) antara penguasa dengan rakyat.

Pada mulanya rakyat Jampang tanpa mengeluh melaksanakan penanaman nila dan menyerahkan belerang di atas sesuai dengan waktu dan jumlah yang ditentukan. Dalam hal ini peranan Haji Prawatasari sebagai seorang ulama sangat besar. Menurut tradisi Islam, para ulama mempunyai kedudukan amat terpandang dan karena pengetahuannya yang luas di bidang agama dan moralitasnya yang tinggi, mereka memiliki otoritas karismatis tidak hanya-,di lingkungan murid-muridnya tetapi juga di kalangan rakyat luas; sehingga tak ada kesulitan bagi Haji Prawatasari untuk memerintahkan rakyat untuk berbuat sesuatu.

Seiring dengan berputarnya roda sejarah, rakyat Jampang mulai merasakan betapa waktu dan tenaganya habis terkuras untuk melaksanakan kewajiban kepada kompeni; sedangkan mata pencaharian pokok terbengkalai. Dapatlah dibayangkan akibatnya. Haji Prawatasari sebagai pemimpin counter-elite yang dekat dengan rakyatnya, dapat merasakan penderitaan mereka. Ia mengutus beberapa orang menghadap Bupati Cianjur, untuk mengusulkan dihentikannya tanam paksa dan penyerahan paksa tersebut. Jelas usul itu ditolak mentah-mentah oleh Bupati, karena bisa-bisa ia dituduh tidak loyal kepada Kompeni, bahkan ia bisa dicopot dari jabatannya (sejak dikeluarkannya Undangundang Van Couper tahun 1684, para bupati Priangan diangkat oleh Kompeni). Haji Prawatasari akhirnya nekad: tanaman nila dimusnahkan dan penyerahan belerang dihentikan. Bupati berang. Dikirimlah Cakrayuda untuk membereskan urusan itu. Pertemuan utusan bupati dengan Haji Prawatasari berakhir dengan bentrokan fisik. Beberapa hari setelah kejadian, dikirimlah pasukan untuk menangkap Prawatasari, tetapi mereka harus berhadapan dengan rakyat Cikalong pendukung Prawatasari, sehingga penangkapan gagal.

Peristiwa yang terjadi pada awal tahun 1702 itulah yang mengantarkan Haji Prawatasari kepada perjuangan fisik, perang gerilya selama lima tahun melawan Kompeni dan penguasa pribumi pendukungnya, sejak dari Jampang, wilayah Priangan Tengah dan Timur sampai akhirnya ke Banyumas. Penderitaan rakyat Jampang telah meletup menjadi kebencian kepada sang penindas. Tak dapat disangkal lagi bahwa elite birokrasi pribumi (dalam hal ini bupati dan aparatnya) yang bekerja sama dengan penjajah juga menjadi sasaran kebencian rakyat atau paling sedikit merupakan golongan yang sangat hina di mata rakyat. Akibatnya Haji Prawatasari bukan saja harus berhadapan dengan kompeni tetapi juga dengan para bupati Priangan.

Ulama sebagai counter-elite yang dekat dengan rakyat, mudah mengumpulkan massa. Demikian juga dengan Haji Prawatasari. Dalam waktu singkat, ia berhasil mengumpulkan pasukan sejumlah tiga ribu orang, baik yang berasal dari kalangan rakyat Jampang maupun simpatisan dari luar Jampang. Jumlah tersebut relatif besar bila dibandingkan dengan jumlah penduduk pada masa itu. Misalnya Kabupaten Bandung berpenduduk seribu keluarga, Sumedang juga seribu keluarga (demikian F. de Haan dalam bukunya Priangan, de Preanger Regentschappen Onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811).

Bulan Maret 1703, pasukan Kompeni di bawah pimpinan Pieter Scipio, menyerang langsung Jampang, dengan maksud menghancurkan basis kekuatan Prawatasari. Pasukan pribumi dengan persenjataan sederhana berupa golok, pedang, keris dan tombak melawan dengan taktik “pukul dan lari”. Dalam pertempuran ini, Haji Prawatasari dikabarkan tewas oleh Kompeni. Tetapi sebenarnya, ulama pejuang itu berhasil menyembunyikan diri.

Untuk menekan Prawatasari, Kompeni memindahkan sisa penduduk Jampang sebanyak 1354 orang ke Bayabang di tepi Sungai Citarum. Dalam proses pemindahan ini banyak penduduk yang mati karena kelelahan, kelaparan dan penyakit sebelum tiba di tempat tujuan.

Peristiwa ini tidak menggoyahkan semangat Haji Prawatasari, ia terus bergerilya. Karena serangan Kompeni pada bulan Juni 1704 ia pindah dan bertahan di muara Sungai Citanduy dan setelah mendapat serangan Kompeni lagi, dalam bulan Oktober tahun itu juga terpaksa bergerak dan membuat kekacauan di daerah Utama, Bojonglopang, dan Kawasen di daerah Priangan Timur. Pada akhir tahun 1704 Prawatasari kembali ke Jampang, lalu menyusup ke Batavia dan pada tahun 1705 ia kembali bergerilya di sekitar Bogor.

Kompeni yang merasa kewalahan, mengeluarkan ancaman kepada penduduk, bahwa barangsiapa yang berani membantu Prawatasari akan dibunuh, dan siapa saja yang dapat menangkapnya, akan diberi hadiah tiga ratus ringgit. Akan tetapi tak ada seorang pun yang mau menangkap Prawatasari, bahkan secara diam-diam banyak yang memberi bantuan.

Tiga orang penduduk yang dituduh membantu ulama itu, dibunuh Kompeni. Sementara itu Prawatasari terus mengadakan kekacauan di Sumedang dan pada bulan Agustus 1705 berhasil menghancurkan pasukan Kompeni di daerah tersebut.

Perlawanan Prawatasari yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun itu, ternyata menimbulkan kekacauan dan kerusakan yang tidak sedikit di wilayah penguasaan Kompeni. Karena itu, para bupati dari seluruh wilayah Jawa bagian Barat dikumpulkan dan dalam rapat tersebut, para bupati ditugasi untuk menangkap Prawatasari dalam tempo enam bulan. Ternyata perintah itu tak menghasilkan apa-apa. Akhirnya Gubernur Jenderal Joan van Hoorn terpaksa mengeluarkan instruksi susulan, di mana sebagiannya berbunyi seperti dikutip pada awal tulisan ini.

Akibat instruksi tersebut, kedudukan Prawatasari semakin terjepit, sementara pasukan semakin berkurang jumlahnya. Logistik juga semakin sulit, sedangkan di mana-mana ada pasukan Kompeni. Sesudah mengacau di Tangerang pada tahun 1706, maka Prawatasari hijrah ke daerah Banyumas. Celakanya, di sana ia berhadapan pula dengan pasukan Kompeni yang cukup kuat. Terpaksa ulama pejuang yang tangguh itu menyingkir ke daerah Bagelen.

Karena terjepit dari sana-sini, dan perjuangan yang telah berlangsung 5 tahun lebih (seperti juga perjuangan Pangeran Diponegoro), Raden Alit alias Haji Prawatasari, seorangbangsawan yang merakyat, ulama pejuang yang gagah berani itu akhirnya kehabisan daya. Dan pada tanggal 12 Juli 1707, ia tertangkap Kompeni dan menjalani hukuman mati di Kartasura.

Itulah sepenggal kisah tentang seorang pahlawan dari daerah Jampang yang agaknya dapat mewakili bukan saja aspirasi rakyat Jampang tetapi juga Priangan umumnya. Sekalipun perjuangannya lebih bersifat lokal, kiranya cukup relevan untuk dikedepankan dalam perspektif sejarah nasional, dalam rangka sumbangan sejarah lokal terhadap sejarah nasional.

Nina Herlina
Nina Herlina pengajar pada Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNPAD.

 

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohamad, et. al. 1972. Sedjarah Djawa-Barat; Suatu Tanggapan. Bandung: Pemerintah Daerah Djawa-Barat.
Dagh-register Batavia Anno 1706.
Day, Clive, 1904. The Policy and Administration of the Dutch in Java. London: The Macmillan Company.
Ekadjati, Edi S. et.al. 1982. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Barat. Bandung: Departemen P & K, Pusat Pendidikan Sejarah Budaya Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Jawa Barat.
Haan, F. de. 1911 -1912. Priangan; de Preanger Regentschappen Onder het Nederlandsche Bestuur tot 1811, deel II & IV. Batavia: BGKW.
Hageman, J.CzJ. ‘1867. Geschiedenis der Soenda-landen. Batavia: TBG.XVI.
Hoadley, Mason Claude. 1975. Javanese Procedural Law; History of the Cirebon Priangan Jaksa College 1706-1735. Thesis. New York: Cornell University.
Kartodirdjo, Sartono. 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Klein, Jacob Wouter. 1931. Het Preangerstelsel (1677-1871) en Zijn Nawerking.
Proefschrift. Delft: NV Technische Boekhandel en Drukkerij J.Waltman Jr.
Herlina, Nina. 1984. Peranan Pangeran Aria Cirebon Sebagai Perantara Kompeni dengan Para Bupati Priangan Pada Awal Abad ke-18. Skripsi. Bandung: Fakultas Sastra Unpad.

Cerita Munada – Bagian 2

Melanjutkan Cerita Munada – Bagian 1, maka yang berikut ini agak berbeda pada beberapa nama tokoh, detil tanggal, dan peristiwa.

Ini kisahnya:

Raden Naranata adalah seorang Jaksa Kepala di Bandung. Ia memendam dendam kepada Asisten Residen Nagel karena saudaranya, Mas Soeraredja, pernah dipenjarakan oleh Nagel dan Bupati Bandung dengan tuduhan telah meracuni orang. Naranata juga menyimpan kebencian terhadap Bupati Bandung, Raden Wiranatakoesoemah,yang pernah menolak lamarannya untuk menikahi putrinya.

Dikuasai oleh kebencian, Naranata membuat rencana untuk membunuh Nagel dan bupati. Dikumpulkannya beberapa kawan, di antaranya ada Raden Wirakoesoemah, Rana Djibja, Ba Kento, Raden Padma, Raden Sasmita, dan seorang pedagang Tionghoa-Muslim yang bernama Moenada. Hampir setiap malam komplotan ini berkumpul di rumah Raden Naranata.

Pada tanggal 25 Desember 1845, komplotan ini memutuskan untuk membunuh asisten residen pada malam itu juga. Mereka bersepakat menunjuk Moenada sebagai pelaksananya. Komplotan ini tahu betul bahwa Moenada juga menyimpan dendam kepada Nagel yang pernah memarahi dan memukulnya. Pemukulan oleh Nagel disebabkan oleh sikap Moenada pada saat Nagel menagih hutang-hutang Moenada yang belum dibayarnya.

Continue reading “Cerita Munada – Bagian 2”

Gunung Manik, Lampegan (= Gunung Padang?)

Rangkaian foto berikut ini sudah lama bikin penasaran.
Gambar-gambar ini mengingatkan pada situs megalitik Gunung Padang di Cianjur. Apakah ini memang foto-foto di Gunung Padang beberapa puluh tahun lalu saat masih dipenuhi semak belukar? Tapi kenapa keterangan foto tidak menyebut Gunung Padang dan malah Gunung Manik?

–  Keterangan pada foto pertama adalah: Desa di sekitar perusahaan di Lampegan.
–  Foto kedua berketerangan: Pemandangan perbukitan dengan sawah di sekitar perkebunan teh dan karet dekat Gunung Manik, Lampegan.
–  Keterangan tujuh foto lainnya sama: Puing-puing di hutan dekat perkebunan teh dan karet Gunung Manik, dekat Lampegan.

–  Dorp op het terrein van een onderneming te Lampegan
–  Heuvellandschap met sawa’s bij de rubber en theeplantage Goenoeng Manik omgeving Lampegan
–  Ruïne in het bos bij de rubber en theeplantage Goenoeng Manik omgeving Lampegan

Topografi

Bila lokasi ini memang di Gunung Padang, lantas kenapa tidak disebut saja Gunung Padang? Bukankah catatan Dr. N.J. Krom dalam Rapporten Oudheidkundige Dienst tahun 1914 sudah menyebutnya dengan nama Gunung Padang? Bahkan dalam buku berjudul Oudheden van Java yang disusun oleh R.D.M. Verbeek dan diterbitkan oleh Landsdrukkerij pada tahun 1891, juga sudah disebut dengan nama Gunung Padang. Verbeek mencatatnya berdasarkan laporan De Corte yang sudah berkunjung ke sana setahun sebelumnya.

Continue reading “Gunung Manik, Lampegan (= Gunung Padang?)”

Pinjam Selir

Nostalgia Bandoeng Tempo Doeloe tidaklah selalu menyenangkan.
Ada banyak kesuraman yang jarang ditampilkan di masa kini.
Apa lagi nasib perempuan…

Cerita berikut ini saya cuplik dari Wawacan Carios Munada (Mas Kartadinata).

Saat menjabat sebagai Asisten Residen Priangan, C. Wilhelm August Nagel masih seorang bujangan. Perawakannya yang bagus kadang membutuhkan pasangan, karena itu ia memohon seorang perempuan dari Bupati Bandung.

Bupati Bandung meminjamkan seorang selirnya untuk digunakan oleh Asisten Residen Nagel. Selir itu setiap malam pergi ke rumah asisten residen, dan siang harinya kembali ke Pendopo Kabupaten.

Continue reading “Pinjam Selir”

Reisgids voor Bandoeng – Pariwisata Bandung Baheula

Bandoeng en Omstreken 1882

Salah satu yang bikin rame Kota Bandung adalah kegiatan pariwisata. Sudah sejak lama Bandung menjadi salah satu tujuan wisata di Pulau Jawa. Dalam banyak buku catatan perjalanan seperti  yang pernah saya sampaikan, misalnya dalam kisah tiga kali kunjungan Raja Thailand ke P. Jawa pada tahun 1871, 1896, dan 1901. Lalu ada cerita Charles Walter Kinloch dalam bukunya Rambles in Java and the Straits (1852) atau dua buku karya  Ponder, Javanese Panorama dan Java Pageant, dan tentunya masih banyak buku lain.

Sudah sejak lama Bandung menarik perhatian para pelancong, baik yang datang secara khusus ataupun mampir dalam suatu rangkaian perjalanan keliling. Satu orang yang melihat peluang ini dengan lebih jauh adalah Asisten Residen Pieter Sijthoff.  Pada tahun 1898 ia mengajak banyak pihak berdiskusi, di antaranya bupati, kontrolir dan pengusaha2 perkebunan (Preangerplanters), para pengusaha perhotelan dan pemilik toko, serta tokoh2 masyarakat baik Eropa maupun pribumi. Hasilnya adalah pembentukan suatu lembaga swasta yang dinamakan Vereeniging tot Nut van Bandoeng en Omstreken dengan ketuanya Residen Priangan sendiri, Mr. C.W. Kist.

Continue reading “Reisgids voor Bandoeng – Pariwisata Bandung Baheula”

Blog at WordPress.com.

Up ↑