Awal Kedatangan

Walaupun popularitasnya sudah tidak seperti 30 tahun lalu, namun bioskop ternyata masih menjadi salah satu media hiburan anak muda masa kini. Saat ini sepertinya sudah tidak ada gedung bioskop yang berdiri sendiri karena umumnya menjadi bagian dari mal atau pusat pertokoan. Satu bioskop bisa punya beberapa ruang sehingga namanya menjadi serial menggunakan nomor urut sesuai jumlah ruang putar film yang dimiliki.

Lain sekarang, lain dulu. Di Bandung baheula terdapat puluhan gedung bioskop yang berdiri sendiri. Bioskop2 ini terdiri dari berbagai kelas, mulai dari yang mewah sampai yang merakyat tanpa gedung alias misbar (gerimis bubar). Semakin mewah sebuah gedung bioskop, semakin tinggi juga kelas sosial pengunjungnya. Sebagian bioskop punya spesialisasi pemutaran film dari kategori tertentu. Selain itu, ada juga bioskop yang hanya memutarkan film dari distributor tertentu saja.

Pemutaran film dalam ruang bernama bioskop di wilayah Indonesia dimulai di Batavia. Waktunya hanya terpaut lima tahun dari saat pertama teknologi ini diperkenalkan di sebuah kedai kopi, Grand Cafe, Boulevard des Capucines, Paris oleh Lumiere bersaudara pada 28 Desember 1895. Kedatangannya di wilayah Indonesia bahkan mendahului ke Korea (1903) dan Italia (1905).

Pada tanggal 30 November 1900, koran Bintang Betawi memuat iklan persiapan pertunjukan perdana ini: De Nerdelandsche Bioscope Maatschappij (Maatschappij Gambar Idoep)nmemberi tahoe bahoewa lagi sedikit hari ija nanti kasi liat tontonan amat bagoes, jaitoe gambar-gambar idoep dari banjak hal jang belon lama telah kedjadian di Europa dan di Africa Selatan.

Beberapa hari berikutnya, 4 Desember 1900, Bintang Betawi memuat lagi iklan bahwa mulai keesokan harinya akan diselenggarakan pertunjukan besar pertama yang akan berlangsung setiap malam. Waktu pemutarannya setiap jam 19.00 bertempat di sebuah rumah di Tanah Abang Kebondjae, bersebelahan dengan bengkel mobil Maatschappij Fuschss. Kelak rumah ini akan menjadi The Rojal Bioscope.

Film pertama yang diputar adalah kompilasi film dokumenter yang berisi: Masoeknja Sribaginda Maharatoe Olanda bersama-sama jang moelja Hertog Hendrik kedalem kota Den Haag, roepa-roepa hal jang telah terdjadi didalem peperangan Transvaal. Lebih djaoeh ditontonkan djoega  gambarnja barang-barang matjem baroe jang telah ada di tentoonstelling di kota Parijs (Bintang Betawi, 30 November 1900).

Pelan2 terjadi perkembangan dalam materi film yang diputar dan rupa gedung pertunjukannya.  Pada tahun 1903 sudah ada film cerita seperti kisah hidup Yesus Kristus atau liputan pernikahan Ratu Wilhelmina. Di dalam gedung, kursi penonton dibagi ke dalam tiga kelas, I, II, dan III, sesuai status sosial penontonnya. Orang2 Eropa dan kaum bangsawan menonton di kelas I, kaum Tionghoa atau India di kelas II dan pribumi di kelas III. Pertunjukan saat itu dimuali pada jam 21.00.

Tahun 1904, sudah muncul bioskop dari perusahan luar negri seperti Biograph Compagnij yang mendirikan bioskop di Tanah Lapang, Mangga Besar, disusul oleh American Animatograph yang membuka bioskop di Gedong Kapitein Tan Boen Koei di Kongsi Besar. Pada tahun 1905 itu, The Rojal Bioscope memperkenalkan sebuah teknik baru, gambar idoep jang bisa bitjara. Caranya? Dengan peralatan eletronik, suara diisi oleh orang pada saat film diputar.

Berkat perlengkapan elektronik baru itu juga The Rojal Bioscope mampu menjajikan gambar yang tidak berkeledepan atawa gemeteran. Film berteknologi baru yang diputar mulai tanggal 6 November 1905 itu antara lain berjudul Biograph Anak Gadis dari Orleans dan Chronophone Dokter Gigi.

Sementara itu, walaupun bentuk hiburan gambar idoep ini cukup menghebohkan pada awal kehadirannya, namun perkembangannya tidaklah terlalu menggembirakan. Selain perkembangan situasi politik yang menghangat ke arah kebangkitan nasional, ada beberapa penghambat lain yang muncul, seperti materi film yang masih sangat sederhana atau harga tiket yang cukup mahal dengan sistem pembagian kelas yang rasialis. Bahkan pernah pula diterapkan pemisahan tempat duduk antara pria dan perempuan. Yang terakhir ini tentu saja merepotkan pasangan suami istri sehingga akhirnya diterapkan juga dispensasi2.

Mungkin karena itu juga bioskop lalu banyak dipakai untuk berbagai pertunjukan dan kegiatan lainnya seperti pertunjukan toneel atau operette, bahkan juga untuk kegiatan2 sosial politik. Seperti yang terjadi di Oost-Java Bioscope Theatre, Surabaya. Pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di sana dilaksanakan sebuah kongres yang sangat penting bagi masa depan Indonesia, yaitu Kongres Pemuda II. Pada kongres itulah pertama kalinya W.R. Soepratman memperkenalkan lagu karyanya, Indonesia Raja.

Bioskop Elita Bandung

Bioskop di Bandung

Walaupun bioskop sudah masuk Batavia pada tahun 1900, namun perlu tujuh tahun lagi sebelum hadir di Bandung. Dua bioskop pertama dibuat di Alun-alun, masing2 Oranje Electro Bioscope dan De Crown. Saat itu belum ada gedung permanen buat kedua bioskop itu, masih menggunakan tenda semi permanen dengan alas lantai berupa tikar. Film yang diputar pun masih film bisu dengan iringan orgel yang dimainkan secara live.

Baru pada tahun 1908 muncul bioskop kelas atas dan permanen, Elita Biograph, yang dibangun di atas lahan bekas gudang di sebelah timur Alun-alun. Awalnya masih berupa gedung sederhana yang menjadi satu bagian dari sebuah kompleks yang disebut theatre atau menurut istilah saat itu, roemah komedie. Dalam sebuah roemah komedie terdapat ruang pemutaran film, aula pertunjukan kesenian, dan kamar/rumah bola (bilyard). Elita Biograph adalah satu bagian dari kompleks Scala Theatre.

Pada tahun 1917 bangunan bioskop Elita dirombak menjadi bergaya Timur-Tengah yang kemudian terbakar pada tahun 1930 dan tahun 1931 didirikan lagi dengan bentuk bangunan yang lebih megah. Sementara rumah bola di sebelahnya hancur terkena bom pesawat Jepang pada tahun 1942 dan lahannya dipergunakan untuk mendirikan pertokoan Miramar pada tahun 1970-an. Saat ini seluruh kompleks bangunan ini sudah rata dengan tanah.

Pada sekitar tahun 1910, di Bragaweg hadir  kompleks Braga Theatre dengan bioskopnya, Helios, di pertigaan Jl. Braga dan Jl. Kejaksaan sekarang. Bioskop ini merupakan salah satu cabang usaha Th. Vogelpoel yang saat itu tinggal di Gg. Coorde (Jl. Kejaksaan) dan karena itu nama bioskop ini kadang disebut Bioskop Vogelpoel. Gedung bekas Helios kelak dipakai untuk kantor oleh pengusaha bioskop, J.F.W. de Kort.

Sekali waktu bioskop Vogelpoel pindah lokasi ke lahan yang kemudian ditempati oleh Societeit Ons Genoegen (Gedung YPK). Selain mengelola bioskop, Vogelpoel juga memiliki restoran Maison Vogelpoel di simpang Braga-Naripan (kemudian ditempati Baltic), rumah bola Vogelpoel di bagian bawah Bank DENIS.

Bioskop2 di Bandung tempo dulu juga menerapkan sistem kelas bagi para pengunjungnya. Masing-masing adalah balkon, loge, dan stales yang kemudian berubah menjadi kelas 1, 2, dan 3. Pada masa lalu itu terdapat juga pemisahan ruang tonton antara warga Eropa dengan pribumi, terkadang kaum pribumi hanya bisa menonton dari belakang layar sehingga film yang disaksikan menjadi terbalik.

Pengusaha Bioskop

Ada tiga pengelola utama perbioskopan di Bandung, yaitu F.A. Busse, J.F.W. de Kort, dan Thio Tjoan Tek. Yang paling menonjol dari ketiganya adalah F.A. Busse yang memiliki perusahaan jaringan dengan nama Elita Concern. Di bawah pengelolaannya adalah bioskop2 Elita, Varia, Oriental (Alun2), Luxor/Luxorpark & Roxy (Kebonjati), Majestic, Rex, Oranje/Oranjepark (Cikakak), Kosambi/Rivoli, Liberty (Cicadas), dan Rio (Cimahi). J.F.W. de Kort mengelola bioskop2 Radio City, Regol, Bison (Sukajadi), Taman Senang (Pagarsih), Warga (Cihaurgeulis), dan Taman Hiburan (Cicadas). Sedangkan Thio Tjoan Tek mengelola bioskop Siliwangi (Astana Anyar).

Kebanyakan bioskop utama didirikan di daerah pusat kota seperti di Alun-alun. Bioskop Elita memiliki feesterrein (pistren) yaitu semacam taman hiburan rakyat di sebelah selatannya. Feesterrein Elita dinamakan Varia. Pada tahun 1960-an Varia menjadi bioskop Nusantara (dan sempat bernama Dwikora). Di sisi paling selatan pada jajaran ini adalah bioskop Oriental. Di belakang Kantor Pos Besar Jl. Banceuy terdapat  bioskop Deca.

Sama dengan Elita, gedung bioskop Oriental dirancang oleh F.W. Brinkman dalam gaya art-nouveau. Pada tahun 1960-an namanya berubah menjadi Aneka. Jajaran bioskop yang terletak di timur Alun-alun ini dibongkar pada tahun 1980-an dan lahannya dipakai untuk mendirikan pertokoan Palaguna. Setelah menjadi Palaguna, masih ada dua grup bioskop di sini, Nusantara dan Palaguna.

Di sebelah tenggara Alun-alun berdiri sebuah bioskop dengan nama Radio City yang kemudian berganti nama menjadi Dian Theatre. Gedungnya masih berdiri namun dengan kondisi yang semakin tidak terawat. Saat ini bekas bioskop Dian dipakai untuk tempat olahraga futsal.

Di sebelah timur Dian, dekat belokan Jl. Pasundan terdapat bioskop Regol yang sekarang sudah berubah bentuk dan fungsi. Ke sebelah barat, pada lokasi Parahyangan Plaza sekarang terdapat kompleks bioskop Dallas. Belakangan, berseberangan dengan kompleks pertokoan Kings didirikan bioskop Galaxy.

1920 : De Orion Bioscoop (Preanger Theatre) te Bandoeng

Bioskop2 Lainnya

Di kawasan Cikakak (Jl. Sudirman) pernah ada bioskop Oranje. Bioskop ini kemudian dibangun ulang dan berubah nama menjadi Capitol, tahun 1960-an berubah lagi menjadi Kentjana. Oranje mempunyai pistren yang kemudian dijadikan bioskop Texas dan pada tahun 1960-an menjadi Parahyangan. Bioskop Capitol banyak memutar film silat klasik dengan bintang2 seperti Teng Kuang Yung, Fu Shen, Wang Yu, Chen Kuan Tai, Ti Lung, Wang Tao, dan Huang Ceng Lie (konon namanya berubah menjadi Billy Chong kemudian Willy Dozan). Sedangkan Texas menerima limpahan film yang sebelumnya sudah diputar di Capitol. Selain film silat, Texas juga memutar film2 India dengan bintang2 seperti Dharmendra, Sunil Dut, Shahsi Kapoor, Amitabh Bachan, Hemamalini atau Amjad Khan.

Lebih ke barat pernah berdiri sebuah bioskop yang dianggap elit pada tahun 1980-an, Paramount Theatre. Sekarang bekas lokasinya dipakai oleh sebuah night-club. Di Kebonjati ada bioskop Luxor. Awalnya berdiri sebagai Preanger Theatre, kemudian berturut2 menjadi Orion, Luxor, dan Nirmala hingga bubar pada tahun 1980-an. Luxor memiliki pistren di bagian belakangnya yang dinamakan Luxorpark (kemudian menjadi Taman Riang). Berbatasan dengan Luxorpark, sebelah selatan, adalah bioskop Roxy yang tahun 1960-an menjadi Kumala dan bubar di akhir tahun 1970-an. Luxor terkenal di Bandung karena merupakan bioskop pertama yang memutar film bicara, Rainbow Man, pada 15 Februari 1930.

Di sekitar Braga terdapat beberapa bioskop. Di selatan adalah Concordia Bioscope yang menjadi bagian dari Societeit Concordia. Gedungnya yang unik dibangun tahun 1925 dengan rancangan oleh C.P. Wolff Schoemaker. Kemudian bioskop ini lebih terkenal dengan nama Majestic hingga tahun 1960-an berubah menjadi Dewi. Bioskop ini hanya untuk kalangan elit Eropa saja. Di balkonnya tersusun meja kursi seperti dalam kafe atau restoran. Bioskop ini sering juga disebut dengan Metro House karena banyak memutar film2 keluaran MGM (Metro Goldwyn Meyer).

Ke sebelah utara, terdapat bioskop Braga Sky di Jl. Suniaraja. Setelah tutup pada tahun 1980-an, bekas bioskop ini berubah fungsi menjadi tempat hiburan malam dengan nama yang berubah-ubah. Di bagian atas bekas toko van Dorp terdapat bioskop Pop Theatre, sementara di seberangnya ada President Theatre. Di depan katedral dulu ada bioskop Rex. Bioskop ini menjadi Panti Budaja pada tahun 1950-an dan Vanda pada tahun 1970-an. Bioskop2 ini umumnya berhenti beroperasi pada awal tahun 1980-an.

Ke sebelah utara, di seberang BIP sekarang, adalah bekas bioskop Panti Karya yang bangunannya masih berdiri namun tidak terawat sekarang ini. Panti Karya sebenarnya merupakan gedung pertemuan milik PJKA yang dipakai untuk tempat pemutaran film pada masa maraknya dunia perbioskopan di Bandung tahun 1970-an. Panti Karya beroperasi hingga awal tahun 1980-an. Gedung lain yang pernah difungsikan pula sebagai bioskop adalah Aula BTN di Jl. Jawa dan ruang perkuliahan kampus ITB yang dipakai oleh LFM (Liga Film Mahasiswa) sebagai tempat pemutaran film sejak tahun 1960-an.

Setelah sempat agak surut, masa jaya perbioskopan naik kembali pada tahun 1990-an dengan kemunculan jaringan bioskop Studio 21 dari Jakarta. Namun berbagai permasalahan dalam dunia perfilman kemudian tidak hanya mematikan dunia bioskop melainkan juga dunia film Indonesia pada awal tahun 2000-an.

Advertisements